Home »

Opini

Opini

Penas KTNA XV, Momentum Mewujudkan ‘Aceh Troe’

ACEH dipercayakan menjadi tuan rumah even terbesar dalam sejarah pertanian. Kegiatan akbar itu adalah Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan

Penas KTNA XV, Momentum Mewujudkan ‘Aceh Troe’
Gubernur Aceh, Zaini Abdullah (kedua kanan) bersama nelayan tradisional menarik pukat pantai saat meninjau kesiapan nelayan menyambut Pekan Nasional Kelompok Tani dan Nelayan (Penas-KTNA) di pantai Kampung Jawa, Banda Aceh, Selasa (14/3). Zaini Abdullah menyatakan Penas-KTNA yang berlangsung pada 6-11 Mei 2017 itu dijadwalkan pembukaannya oleh Presiden Joko Widodo dihadiri sebanyak 30.000 peserta kelompok tani dan nelayan seluruh Indonesia 

Oleh Husaini Yusuf

ACEH dipercayakan menjadi tuan rumah even terbesar dalam sejarah pertanian. Kegiatan akbar itu adalah Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (Penas KTNA) XV. Acara tersebut dijadwalkan akan dilaksanakan selama satu pekan, 6-11 Mei 2017, yang dipusatkan di Stadion Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh.

Diperkirakan, pada Penas KTNA tersebut, Aceh akan kedatangan 35.000 tamu dari kalangan petani, nelayan, pejabat dan masyarakat lainnya dari seluruh Indonesia, bahkan dunia. Sejumlah negara sudah menyatakan ikut hadir pada pertemuan akbar tersebut, terutama beberapa negara ASEAN. Penas KTNA XV kali ini juga akan dibuka langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan akan diikuti beberapa menteri terkait lainnya.

Pagelaran akbar tiga tahun sekali tersebut merupakan pertemuan kontak tani-nelayan yang digagas oleh para tokoh tani-nelayan sejak 1971, di Cihea, Jawa Barat, sebagai forum pertemuan petani-nelayan dan petani-hutan sebagai wadah kegiatan konsolidasi, berbagi ilmu antara peneliti, penyuluh, pihak swasta, dan pemerintah.

Tujuan digagasnya forum pertemuan yang dikemas dalam bentuk Penas KTNA itu, tak lain adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kemandirian kontak tani-nelayan, serta meningkatkan pengetahuan, keterampilan, penguasaan teknologi, dan pemasaran.

Dari tujuan kita dapat melihat ada secuil harapan bagi para petani dan nelayan dalam meningkatkan kehidupannya, terutama terkait dengan jaminan pasar yang selama ini selalu menjadi momok bagi mereka pada saat memasuki panen raya. Kemorosotan harga jual bukan saja terjadi pada komoditi tanaman pangan, namun juga pada komoditi hortikultura, perkebunan dan perikanan.

Maka harapannya, dengan momentum Penas KTNA VX setidaknya problema dan masalah yang melilit petani dan nelayan selama ini dapat diminimalisir dan dapat teratasi. Seperti masih minimnya adopsi teknologi di tingkat petani, peternak, dan nelayan tambak. Demikian halnya jaminan harga terhadap produk mereka, kelembagaan yang belum kokoh dan akses modal yang rumit.

Sangat relevan
Penas KTNA XV 2017 ini mengambil tema, Memantapkan Kelembagaan Tani Nelayan sebagai Mitra Kerja Pemerintah dalam rangka Kemandirian, Ketahanan, dan Kedaulatan Pangan Menuju Kesejahteraan Petani Nelayan Indonesia. Ini sangat relevan, kiranya apa yang diidamkan petani selama ini disediakan ruang di agenda Penas.

Penas KTNA menjadi wadah yang tepat dalam menciptakan ketahanan pangan Nasional. Seperti pernah disampaikan oleh Kepala Badan Penyuluh dan Pengembangan SDM Pertanian Kementerian Pertanian, Momon Rusmono bahwa Penas KTNA dapat dijadikan sebagai upaya pemerintah untuk mendorong terwujudnya kedaulatan pangan.

Hal tersebut sangat sinkron. Pasalnya Aceh juga telah membentuk Kaukus Ketahanan dan Kedaulatan Pangan yang dipelopori oleh beberapa tokoh muda yang duduk parlemen Aceh saat ini. Namun kita berharap lembaga tersebut dapat ikut andil dalam menyukseskan agenda Penas KTNA, bukan hanya gaduh dengan urusan mutasi pejabat.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help