Home »

Opini

Opini

Esensi ‘Rahmatan Lil‘alamin’

TUJUAN esensial diutusnya Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul adalah menjadi rahmatan lil‘alamin (rahmat bagi semesta alam)

Esensi ‘Rahmatan Lil‘alamin’
AFP PHOTO/MOHAMMED AL-SHAIKH
Ribuan umat Islam shalat berjamaah di Masjid Namira, Padang Arafah, dekat kota suci Mekah, Saudi Arabia, 23 September 2015. Umat Islam berkumpul di Padang Arafah pada puncak ibadah haji, tepatnya 9 Dzulhijjah pada penanggalan Islam 

Oleh Teuku Zulkhairi

TUJUAN esensial diutusnya Muhammad Saw sebagai Nabi dan Rasul adalah menjadi rahmatan lil‘alamin (rahmat bagi semesta alam). Hal ini sebagaimana difirmankan Allah Swt dalam Alquran, “Dan tidaklah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).

Namun dewasa ini, berkembang sebuah cara pandang bahwa atas nama Islam sebagai agama rahmatan lil‘alamin, lalu pengingkaran-pengingkaran terhadap akidah Islam dianggap sebagai sesuatu yang sah. Aliran-aliran sesat dan berbagai pengingkaran terhadap esensi ajaran Islam dibenarkan atas nama Islam sebagai rahmatan lil‘alamin.

Bahkan, tidak jarang syariat Islam dilawan dengan dalih bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil‘alamin. Di Jakarta, sekelompok orang menggunakan slogan rahmatan lil‘alamiin sebagai justifikasi dan alasan untuk mendukung Ahok. Padahal, telah sangat jelas bagaimana Islam melarang kepemimpinan kafir bagi umat Islam. Pada intinya, konsep rahmatan lil‘alamin dewasa ini telah dimaknai sebagai justifikasi untuk menghilangkan Islam dari pemeluknya.

Hal ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari “perang” pemikiran yang dilancarkan pengusung ideologi sekulerisme yang mencoba menjauhkan Islam dari kaum muslimin. Padahal, kalau sejenak kita membuka kitab-kitab tafsir para ulama, maka akan kita temukan bahwa rahmatan lil`alamin akan terwujud ketika ajaran Islam termanifestasikan dalam semua dimensi kehidupan, yang berarti bahwa rahmatan lil`alamin adalah versus sekulerisme.

Rahmat semesta alam
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, pengertian ayat Allah Swt mengutus Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi semesta alam, yaitu barangsiapa yang menerima rahmat dan mensyukuri nikmat ini, niscaya dia akan berbahagia di dunia dan di akhirat. Sedangkan siapa saja yang menolak dan menentangnya, niscaya dia akan merugi di dunia dan di akhirat (Tafsir Ibnu Katsir, terj. M Abdul Ghoffar, 2012: 154).

Sementara dalam Tafsir at-Tabari (Muhammad bin Jarir at-Tabari, 1999 : 100-101) dijelaskan bahwa siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka akan ditetapkan baginya “rahmat” di dunia dan di akhirat. Rahmat diberikan bagi seluruh manusia, baik mukmin maupun kafir.

Namun, rahmat bagi orang mumin yaitu dengan cara Allah Swt memberikannya petunjuk dengan sebab diutusnya Rasulullah saw. Rasulullah saw memasukkan orang-orang beriman ke dalam surga dengan iman dan amal mereka terhadap ajaran Allah. Sedangkan rahmat bagi orang kafir, yaitu dengan cara tidak disegerakannya bencana yang menimpa umat-umat terdahulu yang mengingkari ajaran Allah.

Hal ini didasari dari hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra ketika menafsirkan ayat ini, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Namun siapa saja yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu, seperti mereka semua di tenggelamkan atau diterpa gelombang besar.” (At-Tabari, hal. 100).

Disebutkan juga hadis dalam riwayat yang lain, “Rahmat yang sempurna di dunia dan akhirat bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, bentuk rahmat bagi mereka adalah dengan tidak ditimpa musibah yang menimpa umat terdahulu.”

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help