SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Israk Mikraj, Spirit Kepemimpinan Aceh Baru

ISRAK Mikraj merupakan satu peristiwa sejarah mahadahsyat dalam perjalanan kerasulan Nabi Muhammad saw

Israk Mikraj, Spirit Kepemimpinan Aceh Baru
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Massa pendukung Illiza-Farid, melaksanakan shalat Ashar berjamaah di lokasi kampanye akbar pasangan ini, di depan stadion H Dimoertala, Lampineung, Banda Aceh, Minggu (29/1/2017). 

Dua kisah ini menunjukkan integritas yang dimiliki Nabi Muhammad saw dalam perjalanan Israk Mikraj. Dalam konteks kepemimpinan, integritas hal penting yang harus dimiliki oleh pemimpin. Sebab, ketika pemimpin tidak memiliki integritas akan mudah tersulut untuk berperilaku destruktif dan amoral, semisal korupsi, kolusi, dan nepotisme. Sepintar apapun seseorang, ketika tidak memiliki integritas ia akan mudah terjerumus pada perilaku negatif. Karena itu, integritas harus dimiliki oleh para pemimpin Aceh baru ke depan, agar masa kepemimpinannya terjaga dari perilaku-perilaku tercela.

Ketiga, punya kepekaan dan kepedulian. Pada peristiwa Israk Mikraj juga diriwayatkan adanya negosiasi jumlah waktu shalat oleh Nabi Muhammad saw dengan Allah Swt. Awalnya, shalat diwajibkan 50 waktu, lalu terjadilah proses “negosiasi” yang diinisiasi oleh Nabi Musa as, sehingga kewajiban shalat menjadi 5 waktu. Tapi, walaupun hanya 5 waktu, pahalanya sama seperti melaksanakan shalat 50 waktu. Proses “negosiasi” ini menunjukkan adanya keinginan Nabi Muhammad saw untuk meringankan beban yang akan dipikul oleh umatnya. Sebab, umat pasti sangat kesulitan untuk melaksanakan perintah shalat 50 waktu.

Inilah spirit yang harus dimiliki oleh pemimpin Aceh baru ke depan. Yakni harus berusaha untuk meringankan beban yang sedang dihadapi rakyat Aceh saat ini. Bukankah Aceh saat ini sedang diliputi oleh berbagai persoalan fundamental, semisal persoalan listrik dan kemiskinan. Jika pemimpin tidak ada kepekaan dan kepedulian untuk menyelesaikan dua persoalan itu, sungguh rakyat Aceh akan terus merana dan menderita. Dan, ini menunjukkan bahwa buah dari MoU Helsinky belum dinikmati oleh seluruh rakyat Aceh.

Keempat, pembangunan berbasis kebersamaan. Dalam sejarah dicatat hanya beberapa lama berselang peristiwa Israk Mikraj, lalu Nabi Muhammad saw hijrah ke Madinah. Hingga mampu menjadikan Madinah sebagai wilayah yang berperadaban. Di Madinah Nabi Muhammad saw mampu mempersaudarakan kaum Muhajirin (pendatang Mekkah) dan Anshar (pribumi Madinah), serta mampu menyatukan berbagai kabilah tanpa kecuali Yahudi dan Nasrani. Penduduk Madinah di bawah kepemimpinan Nabi Muhamamd saw hidup sangat toleran walaupun berbeda etnis, suku, dan keyakinan.

Sebab itu, Israk Mikraj memberikan spirit kepada pemimpin Aceh baru bahwa Aceh akan maju jika sang pemimpin mampu menyatukan seluruh komponen rakyat Aceh. Karena rakyat Aceh merupakan rakyat yang homogen, terdiri dari berbagai sifat, watak, jenis, suku, partai politik, organisasi, pemahaman keagamaan, dan lainnya. Maka homogenitas ini harus menjadi energi dalam pembangunan dan pemajuan Aceh ke depan. Artinya, kemajuan hanya akan diperoleh dengan semangat kebersamaan, persatuan, dan persaudaraan. Semoga!

Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help