Cerpen

Jengek

UDARA terasa segar hari ini. Marzuman menyisap rokoknya dengan perasaan menyenangkan

Jengek
Kartun 

Marzuman ingat benar siapa yang menamainya Pliek. Hingga semua jengek waktu itu
memanggilnya Pliek. Sampai-sampai ceweknya juga memanggilnya Pliek. Kini ia sudah
menikah dan punya anak tiga, mantan ceweknya juga sudah berkeluarga.

“Bang Pliek, ke Batee Iliek yok,” gitu dulu ceweknya memanggil.
Untung sekarang tidak ada yang berani memanggilnya Pliek. Kalau
ada, entah bagaimana. Alangkah konyolnya kalau ada yang memanggilnya
‘Toke Pliek’.

Orang yang menamainya Pliek yaitu Bang Irsan. Sekarang melaut
dengan Bang Jamin. Ia tidak punya boat lagi. Terpaksa melaut bersama
orang lain. Orang itulah yang manamainya Pliek. Sebab, ketika ia barubaruan
jadi jengek, ia pernah makan lincah pliek u dalam boat. Rupanya
remah-remah pliek masuk ke dalam buritan boat. Saat melaut, Bang Irsan
mencium pliek yang menjengkelkannya sehingga ketika pulang, apalagi
mereka pulang tanpa membawa pulang tangkapan, mulailah ia
dipanggil Pliek.

Tidak ada nama jengek setengik dia. Teman jengek lain ada yang
bernama Bakong Asoe, Bieng Bangka, Dapu Itam, Mieng Kuala, Komakah,
Komajih. Pokoknya lebih bagus dan teramat sangat bagus ketimbang
Pliek.

Pikiran tentang nama itu selesai ketika seseorang di pinggir sungai

berteriak ke arah warung kopi Ramli, “Toke Zuman, boat sudah masuk kuala.”
Marzuman perlahan beranjak dari kursi, naik motor dan ke TPI.
Sudah lebih 10 tahun ia menjadi toke. Orang yang menamainya Pliek
selalu ia ingat. Orang itu dari pawang terkenal kemudian menjadi pawang
biasa kemudian menjadi ‘kawan’ dari pelaut-pelaut lain selalu dipantauannya.

Tapi, suatu kali, saat Bang Irsan minta pinjam uang kepadanya, ia
sungguh tak sanggup untuk tidak menolongnya. Ia ingat, bagaimana
pun, berkat Bang Irsan ia kenal dengan laut.

Teman-teman mainnya di SD dulu asyik main sepak bola di depan masjid,
tapi ia harus cuci boat, mengambil bensin ke pasar. Bang Irsanlah yang
mengajaknya, “Mau cuci boat saya?” tanya Bang Irsan ketika itu. Ia baru
pulang mancing kepiting dan mandi di dekat boat Bang Irsan.

“Mau,” jawabnya. Akhirnya, ia tak sempat berpuas main layanglayang,
bude aneuk jari, bude aneuk siren, bude trieng, main kelereng,
bahkan main geude-geude di kebun Chik Miyam dilatih Suman Gentot.

Sesekali, saat libur sekolah, ia turut serta dibawa ke laut. Ketika itu
ia masih SMP. Ketika tamat, ia putuskan tak lagi melanjutkan sekolah
meski sangat ingin. “Bagaimana, Mak. Saya sekolah atau ke laut saja,”
tanyanya kepada mak suatu malam.

Halaman
123
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved