Cerpen

Jengek

UDARA terasa segar hari ini. Marzuman menyisap rokoknya dengan perasaan menyenangkan

Jengek
Kartun 

“Terserah sama kamu,” jawab mak saat itu. Semenjak ayah kena
TBC, cuma mak yang kerja. Mak menganyam tikar pandan. Terkadang
bikin kue adee kalau ada yang pesan. Musim panen, mak
membantu orang kaya, yang tanah sawahnya luas.

Akhirnya ia putuskan pergi ke laut. Pertama dengan Bang Irsan.
Karena seringkali Bang Irsan memakinya dengan pliek khieng,
kemudian ia pergi melaut dengan Bang Joker. Mungkin hanya setahun
setengah, ia bertukar pawang lagi.

Bang Joker menurutnya saat itu agak kurang mengerti cara memancing
ikan di laut, tapi selalu sok tahu. Makanya hasil tangkapannya
kurang. Lagi pula, satu lagi, Bang Joker suka adik maknya. Ia tak
suka laki-laki itu menyindir Cek Mail, suami Cek Marni, yang kerjanya
jualan cendol ke tiap kota-kota kecamatan menurut hari pekan
masing-masing.

Bang Joker sampai sekarang masih kelihatan malu kalau berbicara
dengannya. Padahal, ia tak lagi marah sama semua orang yang membuatnya
dulu jengkel. Walaupun, terkadang, kalau ingat masa lalu, ia agak marah
dan sedih.

“Masa lalu, masa muda, bagian paling menentukan dalam hidup,”
suatu kali ia baca catatan ini di kaki lembaran buku TTS. Ia bersyukur
pernah diejek. Pernah dihina. Ia ingat ia kerap dikata-katai kawannya paling
pelit. Dan, itu memang benar. Ia ingin mengumpulkan emas sebanyakbanyaknya.

“Ingat. Beli emas. Kalau tidak punya emas, tidak ada yang mau kawin
denganmu,” pesan mak dulu. Mendengar itu pertama-tama memang membuatnya
malu. Tapi ia patuhi anjuran maknya. Ia pun menyimpan uang sama
mak. Maklah yang kemudian mengabari bahwa emasnya sudah sekian dan bisa
beli boat thep-thep. Dari satu boat thep-thep ia beli dua, tiga, dan empat.

Lalu ia beli boat pukat. Dan kini, ia punya boat pukat dua. Boat labi-labi
lima. Boat thep-thep dua. Di samping punya boat, ia juga beli
sejumlah sawah. Ini juga anjuran mak. Mak memberi contoh Toke Main. Dulu
kaya raya dengan boat. Tapi, saat Toke Main meninggal, boatnya dikelola sama
anak-anaknya, dan akhirnya anak-anak Toke Main jatuh miskin. “Beli sawah.

Jangan hanya beli boat. Beli sapi, dipelihara yang jaga, nantinya hasilnya
bagi dua.” Semua anjuran mak dipatuhinya. Kepada yang bertanya padanya
bagaimana menyimpan uang, ia bercerita tentang maknya dan tambahan,
“Jangan terlalu sering di warung kopi. Bukan pelit. Tetapi terkadang
kita tidak sadar, satu hari saja, kita minum sampai empat kali di warung
kopi. Ya, kan?”

Marzuman menyisap rokok di warung kopi Ramli sore hari. Angin
laut yang sepoi-sepoi memainkan pipinya yang kini tambah tembem
seperti pipi para gadis. Sambil makan buah geureumbang dan pliek u, ia
memesan kopi ke arah yang punya warung yang sedang nonton sinetron
India di Indosiar. “Li . . .,” teriaknya, “kopi sikhan!”

Rungkom, 17 April 2017
* Edi Miswar Mustafa, cerpenis ini
tinggal di Pidie Jaya

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved