SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Mendorong Laju Ekonomi Aceh

SETELAH terkoreksi dalam beberapa tahun, laju pertumbuhan nasional mulai menunjukkan tren positif

Mendorong Laju Ekonomi Aceh

Oleh Ziad Farhad

SETELAH terkoreksi dalam beberapa tahun, laju pertumbuhan nasional mulai menunjukkan tren positif. Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02% di 2016. Angka ini lebih tinggi dibanding 2015 yang terkoreksi menjadi sebesar 4,88%. Realisasi tersebut juga lebih tinggi dibandingkan 2014 yaitu sebesar 5,01%. Pertumbuhan ekonomi nasional terakhir berada di puncak pada 2013, yang mencapai 5,56%.

Tak dipungkiri, membaiknya kondisi pertumbuhan ekonomi setidaknya dipengaruhi oleh perekonomian global di kuartal IV yang menunjukkan tren positif. Selain itu, harga komoditas di pasar global yang naik juga berpengaruh positif terhadap nilai ekspor Indonesia ke sejumlah negara mitra dagang. Perekonomian Cina tumbuh dari 6,7% menjadi 6,8%. Amerika Serikat menguat dari 1,7% menjadi 1,9%. Begitupun negara tetangga, Singapura. menguat dari 1,1% menjadi 1,8%.

Tahun ini, Bank Indonesia menargetikan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,1%. Sejumlah badan ekonomi dan moneter dunia memberikan angka lebih optimis bagi laju pertumbuhan ekonomi Indonesia. International Monetary Fund (IMF), Consessus Economics, dan Bank Dunia meyakini pertumbuhan bisa mencapai 5,3%. Bahkan, Bank Pembangunan Asia memberikan angka lebih optimis 5.5%.

Ekonomi Aceh
Pertumbuhan ekonomi Aceh secara yoy (year on year) pada 2016 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Hal tersebut tentunya menggembirakan. Di tahun sebelumnya laju pertumbuhan Aceh sempat mengalami kontraksi sebesar minus 0,73%. Rilis Bank Indonesia menyebutkan pertumbuhan ekonomi Aceh sepanjang 2016 tercatat sebesar 3,31%, sedangkan perekonomian Aceh pada triwulan IV 2016 tumbuh sebesar 4,30% (yoy), meningkat signifikan apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang hanya mencapai 2,52 persen (yoy).

Realisasi pertumbuhan 2016 tersebut sesuai dengan proyeksi Bank Indonesia yang berada di kisaran 2,4-3,4%. Kinerja ekonomi 2016 yang berhasil tumbuh sebesar 3,31% (yoy) tercatat menjadi capaian kinerja Aceh paling tinggi sejak tiga tahun terakhir.

Meski menunjukkan tren positif, namun jika dibandingkan dengan sejumlah provinsi di Sumatera, pencapaian pertumbuhan Aceh pada 2016 hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Riau yang mencatat perumbuhan sebesar 2.2%. Capaian tersebut sekaligus menempatkan Aceh di posisi 9 dari 10 provinsi yang ada di Sumatera. Bengkulu dan Sumatera Barat menjadi provinsi dengan pertumbuhan paling agresif dengan pencapaian masing-masing sebesar 5.3%.

Jika dilihat dalam konteks regional-nasional, pertumbuhan ekonomi kawasan Sumatera sepanjang 2016 berada di kisaran 4,3%. Kawasan Timur Indonesia (KTI) sebesar 4.8%, sedangkan wilayah Jawa tumbuh 5,6%. Sulawesi Tengah mencatat pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 10%. Kalimantan Timur tercatat menjadi satu-satunya porvinsi yang mengalami kontraksi yaitu sebesar 0,04%, sekaligus menempatkannya pada posisi paling buncit dalam hal laju pertumbuhan. Yang menarik, laju pertumbuhan ekonomi Aceh, jika dilihat dalam perspektif nasional bertengger di peringkat 32. Posisi yang hanya lebih baik jika dibandingkan dengan Riau dan Kalimantan Timur.

Realitas laju pertumbuhan ekonomi sepanjang 2016 menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Aceh dalam menyusun rencana strategis guna mendorong laju pertumbuhan pada 2017 ini. Seperti diketahui, perekonomian Aceh secara umum masih bertumpu pada sektor yang berbasiskan komoditas sumber daya alam. Sejak 1970 komoditas utama Aceh masih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian. Di 2016 lalu, komoditas pertanian yang berperan dalam peningkatan ekspor Aceh adalah komoditas kopi, kelapa sawit, dan karet.

Peningkatan pada sejumlah komoditas tersebut khususnya disebabkan oleh dorongan perbaikan harga jual di pasar internasional. Padahal, pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada sumber daya sangat rentan terhadap gejolak harga. Penurunan harga komoditas secara langsung berdampak negatif bagi perekonomian.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help