Bea Cukai Aceh Sosialisasi KITE-IKM

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Aceh, Kamis (27/4) menggelar sosialisasi fasilitas kemudahan

Bea Cukai Aceh Sosialisasi KITE-IKM
Petugas memperlihatkan tiga tersangka beserta barang bukti sabu-sabu seberat 178 gram saat konferensi pers di Kantor Bea Cukai Banda Aceh, Kamis(4/8). Mereka ditangkap di Bandara SIM pada Rabu (3/8).SERAMBI/ MUHAMMAD NASIR 

BANDA ACEH - Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Aceh, Kamis (27/4) menggelar sosialisasi fasilitas kemudahan impor tujuan ekspor-industri kecil dan menengah (KITE-IKM) di Kantor Kanwil DJBC Lueng Bata, Banda Aceh. Kegiatan itu diikuti oleh puluhan pelaku usaha yang memiliki potensi ekspor.

Plh Kepala Kanwil DJBC Aceh, Bambang Lusanto Gustomo kemarin mengatakan, KITE-IKM merupakan fasilitas perpajakan maupun prosedural bagi IKM yang melakukan pengolahan, perakitan, atau pemasangan dengan bahan baku asal impor, serta selanjutnya hasil produk tersebut akan diimpor kembali. Artinya, setiap IKM yang menghasilkan produk ekspor, jika mereka melakukan impor bahan baku maka Bea Cukai akan memberikan sejumlah kemudahan.

Fasilitas yang diberikan dalam program KITE-IKM yaitu pembebasan bea masuk, pajak pertambahan nilai (PPN), serta pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM). Kemudian terdapat sistem aplikasi (modul) untuk pengelolaan barang, serta akan mendapat kemudahan akses kepabeanan, seperti belum ada batasan impor.

“Program ini sejalan dengan misi Bea Cukai yang ingin memfasilitasi perdagangan dan industri, sebagai wujud kebijakan ekonomi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui pengembangan IKM,” ujar Bambang kemarin.

Menurutnya, saat ini sudah ada 22 IKM yang menggunakan skema tersebut, yang terdiri dari usaha industri tembaga, furniture, kerajinan marmer, industri kulit, kayu, batik hingga kosmetik. Para pemilik usaha tersebut memanfaatkan fasilitas KITE-IKM untuk mendatang bahan baku dari luar negeri dengan biaya murah, karena tanpa bea masuk.

Bambang menjelaskan, pertumbuhan IKM di Aceh dalam periode 2012-2015 sangat positif, hingga kini terdapat 75.000 IKM dengan usaha andalan bidang souvenir dan olahan makanan khas Aceh. Sehingga para pelaku usaha tersebut diharapkan dapat memanfaatkan fasilitas bebas bea masuk bahan baku tersebut, sebagai upaya meningkatkan kualitas produk ekspor dan memiliki daya saing harga. (mun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved