SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pionir VIII dan Peluang Aceh

SAAT ini, kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (Pionir) VIII sedang berlangsung di Aceh, tepatnya di Universitas

Pionir VIII dan Peluang Aceh
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin bersama Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA dan Sekda Aceh, Dermawan MM menabuh rapai saat membuka acara Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni, dan Riset (Pionir) VIII di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh, Rabu (26/4). SERAMBI/BUDI FATRIA 

Oleh Zulfata

SAAT ini, kegiatan Pekan Ilmiah, Olahraga, Seni dan Riset (Pionir) VIII sedang berlangsung di Aceh, tepatnya di Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh. Kegiatan yang dibuka oleh Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin, pada 26 April 2017 lalu, diikuti oleh 2.250 mahasiswa dari 55 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) di Indonesia (www.kemenag.go.id).

Adapun kegiatan yang diperlombakan antara lain riset (penelitian Ilmiah), kaligrafi, tahfiz Alquran, debat bahasa Arab/Inggris, musikalisasi islami, desain busana muslim, tenis meja, catur, panjat tebing hingga sepakbola. Kita patut mengapresiasikan kinerja civitas akademik UIN Ar-Raniry yang telah berusaha secara optimal, sehingga Pionir VIII 2017 ini dapat digelar di bumi Serambi Mekkah. Hasil akhir dari kegiatan Pionir VIII 2017 dapat dijadikan sebagai pemetaan awal dalam memahami wajah generasi Aceh kedepan sebagai pelopor peradaban Aceh. Berdasarkan observasi yang penulis lakukan, sementara ini generasi muda Aceh setelah masa Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) hanya menang di kreativitas pribadi atau kelompoknya, sehingga belum mampu merambah dalam bentuk kebijakan publik bagi kemaslahatan secara massif.

Berbeda dengan generasi muda di masa PUSA yang selalu aktif mengontrol kebijakan guna terwujudnya kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh. Dalam konteks ini dapatkah percikan-percikan Pionir VIII 2017 menciptakan semangat generasi muda Aceh yang lebih baik dari masa PUSA?

Argumentasi di atas tidaklah bersifat spekulatif atau utopis, melainkan sebuah argumentasi yang bersifat provokatif positif agar momen Pionir VIII dapat dijadikan sebagai batu loncatan semangat juang generasi Aceh dalam bentuk “perjuangan ilmiah”, sehingga generasi Aceh tidak hanya menguasai “perang fisik”, tetapi perang intelektual juga harus dikuasai.

Pusat ilmiah
Kegiatan akbar Pionir VIII 2017 di Aceh secara tidak langsung mengingatkan kita pada masa aktivitas ilmiah Hamzah Fanshuri dan eksistensi Jami’ah Baiturrahman yang telah dicatat oleh sejarah bahwa Aceh pernah menjadi pusat ilmiah di tingkat internasional.

Pada masa itu, Aceh pernah menjadi pusat kajian ilmiah berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang diikuti oleh peminat ilmu (pelajar) yang berasal dari berbagai negara, di antaranya adalah negara Arab Saudi, India, dan Turki. Sungguh tidak berlebihan jika mengatakan bahwa melalui aktivitas Pionir VIII 2017 ini, Aceh berpeluang besar untuk mengembalikan kejayaan ilmiah seperti yang terjadi pada masa kerajaan Aceh tempo doeloe.

Setidaknya ada tiga peluang bagi Aceh atas pelaksanaan Pionir VIII 2017 ini: Pertama, peluang persuasif. Hal ini berpotensi untuk mempengaruhi tamu-tamu undangan dari PTKIN di Indonesia bahwa daerah Aceh nayaman dan tentram untuk dikunjungi. Seiring dengan itu, tanpa dipromosi, Aceh akan dinilai langsung oleh masyarakat di luar Aceh. Penilaian tersebut sejatinya tidak hanya dari sisi aktivitas Pionir VIII 2017, melainkan dari sisi ketertiban lalu lintas, penerapan syariat Islam, hingga panorama wisata di Aceh.

Berkaitan dengan argumentasi ini, terdapat kata bijak menyatakan bahwa masyarakat yang perperadaban adalah masyarakat yang mampu menjadikan setiap momen sebagai peluang pembangunan bagi daerahnya, dan disinilah kita akan menerima penilaian nantinya, apakah masyarakat Aceh telah berperadaban atau tidak dalam pandangan masyarakat di luar Aceh;

Kedua, peluang kontemplatif. Bisa dijelaskan bahwa di balik perayaan Pionir VIII 2017 tersirat suatu semangat perenungan dan introspeksi diri tentang di mana posisi Aceh. Sehingga ke depannya pemerintah dan masyarakat Aceh selalu siap menjadi tuan rumah dalam berbagai kegiatan Nasional. Sudah saatnya Aceh keluar dari persoalan “kesibukan internal” dan mulai bangun serta tampil untuk unjuk diri di berbagai event Nasional.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help