SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Seni Pertunjukan Aceh, Apa Kabar?

ALHAMDULILLAH, di tengah kelesuan seni pertunjukan di Aceh, Kemah Seniman Aceh (KSA) ke-5 berhasil dilaksanakan

Seni Pertunjukan Aceh, Apa Kabar?
SERAMBINEWS.COM/RIZWAN
Ketua Dewan Kesenian Aceh Barat (DKAB), HT Ahmad Dadek SH membawa lagu di festival band pada piasan seni di Lapangan T Umar Meulaboh, Minggu (6/12/2015). 

Oleh Teuku Kemal Fasya

ALHAMDULILLAH, di tengah kelesuan seni pertunjukan di Aceh, Kemah Seniman Aceh (KSA) ke-5 berhasil dilaksanakan pada 14-16 April lalu. Ucapan syukur patut diungkapkan meskipun segala keterbatasan dan derai keringat menjadi tumbalnya. Meskipun acara ini ditopang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dengan anggaran minimal, acara dwi tahunan ini berhasil digelar.

KSA menjadi wadah berkumpul komunitas seniman Aceh, pegiat kebudayaan, dan masyarakat penikmat seni baik dari Aceh maupun luar Aceh. Kafilah dari Dewan Kesenian Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara juga ikut hadir. Rupa-rupa kegiatan baik pementasan musik, drama, dialog kesenian, pameran seni rupa, workshop pementasan singkat juga dilaksanakan.

Memang ada juga kritik bahwa seni pertunjukan lebih mendapatkan ruang, sedangkan seni rupa hanya seperti sosok “Mante”, kecil dan cepat-mencelat hilang dari apresiasi. Kritik juga membahana karena booklet yang seharusnya bisa menjadi legacy tidak juga dibuat. Namun asumsi tersebut tidak sepenuhnya benar. Sesungguhnya baik seni pertunjukan terutama teater dan seni rupa sama-sama meranggas nasibnya. Keduanya tidak cukup hidup di Aceh.

Baru saja kejadian ketika Pemko Subulussalam membuat monumen, tapi mendapat protes dari sebagian elemen masyarakat karena dianggap menghadirkan berhala di tanah Hamzah Fansury itu. Itu terjadi karena seni rupa belum cukup dipahami dan mudah diftnah oleh visi non-seni sehingga menenggelamkan Aceh ke titik terendah peradaban. Sculpture is not for a worshiper. Tidak ada yang mau menyembah monumen. Lagi pula keyakinan masyarakat pun tak sedangkal itu.

Demikian pula seni teater. Di Aceh sendiri, Prodi Teater ada di Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, tapi peminatnya bagaikan ikan depik di Danau Lut Tawar, sedikit dan semakin susah dicari. Bahkan angkatan 2016 peminatnya tak sampai 10 orang. Banyak masalah yang terjadi, baik dari sisi pengelolaan internal pendidikan tinggi itu sendiri atau problem makro yang gejalanya mulai terjadi di banyak tempat.

Bukan pilihan utama
Di mata umum, teater bukan lagi pilihan utama bagi penikmat seni pertunjukan mengisi waktu luang, rekreasi, spiritual, dan intelektualnya. Perkembangan teknologi film dan industri visual yang semakin mudah, murah, dan indah di sana-sini ikut membentuk kematian teater. Manusia modern telah menyuling peradaban seni pertunjukan hingga hanya diterima pada aspek fungsionalnya; menonton, terhibur, dan kemudian kembali sepi.

Perkembangan teknologi visual dan film telah membentuk manusia seperti didefinisikan Jacques Ellul, filsuf Perancis sebagai masyarakat teknologis (technological society). Masyarakat teknologis adalah kita saat ini, terhunjam dalam pelbagai hal teknis dan semakin jauh dengan dimensi humanis dan kultural manusia yang kompleks dan plural.

Terkait tentang kepastian, dunia film menjanjikan hal itu; bersih dan pasti. Adegan dan dialog yang keliru bisa retak dan setelah itu masih mengalami proses editing pascarekaman. Namun dalam dunia teater hal itu tidak terjadi. Integritas sebuah teater ditunjukkan dengan adegan dan dialog yang panjang dan rumit tanpa kekeliruan walau sebesar zarah pun. Jika kekeliruan terjadi, politik improvisasi harus bisa menutupnya rapat-rapat dari mata sang penonton. Jika tidak, dunia tontonan kiamat.

Di dunia teater, proses yang tak bertepi dan tak terprediksi harus dijalani. Adapun dunia film “kepastian” (dalam cerita, scene, karakter) dan preditabilitas menjadi makanan sehari-hari. Film komedi Empang Breuh atau Cinta Meudabel contohnya, telah mencuri para pengunjung seni pertunjukan Aceh. Mereka tak harus hadir ke gedung pertunjukan dan harus mengeluarkan biaya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help