SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Koalisi Baru Politik Aceh, Mungkinkah?

ANALISIS klasik dalam ilmu politik adalah satu pendekatan yang populer dan ramai pengikutnya hal ini sinergi dengan pendekatan

Koalisi Baru Politik Aceh, Mungkinkah?

Oleh Taufiq Abdul Rahim

ANALISIS klasik dalam ilmu politik adalah satu pendekatan yang populer dan ramai pengikutnya. Hal ini sinergi dengan pendekatan teori strukturalisme, yang mendapat dukungan dari Parson, Merton dan Davies. Selanjutnya mendapat dukungan analisis dari Durkheim dan Malinovski, yaitu adanya sifat saling ketergantungan dalam kehidupan sosial-kemasyarakatan. Kemudian, ada Almond sarjana yang mengemukakan model sistem dan menjelaskan peranan politik individu sebagai analisis organisme biologi. Hal ini memberikan penekanan kepada demikian pentingnya norma, peranan, fungsi, struktur, undang-undang, tekanan dan keseimbangan dalam sistem tersebut.

Ada kaitan sosial dan politik dipandang dari perubahannya menurut teori sistem. Masyarakat banyak berinteraksi serta berbuat berdasarkan norma dan peraturan yang berlaku. Kehidupan masyarakat dipercaya dapat berkelanjutan, karena hidup berpedoman nilai, adat, norma dan batasan yang ditetapkan oleh sistem sosial, yang kemudian berkembang sesuai sistem yang berlaku. Permasalahan inilah yang semestinya dijelaskan secara normatif seperti fungsionalisme, tekanan norma dan lain-lain dimana penekanannya kepada aturan sosial dan kepentingan sistem.

Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tindakan dan perlakuan yang melanggar sistem dan berkonflik dengan norma, tetapi tidak disadari karena dilakukan secara halus bahkan dianggap seolah-olah wujud dalam sistem itu sendiri. Hal ini akan semakin terlihat jelas melalui pendekatan transaksional yang menekankan kepentingan dan mencari kesempatan terhadap kelemahan atau celah sistem itu sendiri.

Serba mungkin
Sifat politik dan persaingan dalam politik yang relevan dalam kehidupan sosial. Ini diibaratkan bahwa, politics is the art of possible membayangkan politik sebagai fenomena yang serba mungkin dan tidak ada yang mustahil, meskipun tidak terduga awalnya. Demikian juga pernyataan Partridge (1994), “dalam politik tidak ada teman atau musuh yang kekal, yang kekal adalah kepentingan”, ini menggambarkan kondisi serba mungkin, hari ini berteman baik dalam politik, kemudian tiba-tiba menjadi musuh bebuyutan esok hari atau sebaliknya.

Masalahnya, mengapa hal ini dapat terjadi? Demikian juga dalam politik individu mampu melakukan sesuatu yang tidak wajar, tidak menurut norma bahkan ada yang tidak sesuai ketentuan perundang-undangan. Analisis pendekatan transaksional antropologi politik berusaha memberikan penjelasan terhadap fenomena ini. Dari berbagai kajian politik, juga dapat dilihat melalui pandangan transaksional pada pelbagai diskusi, ini fenomena pembentukan dan perpecahan kesepakatan politik sebagai rujukan kajian.

Sewajarnya fenomena perubahan penggunaan kata kesepakatan, koalisi atau gabungan, ini memperlihatkan betapa kepentingan diri atau kelompok menjadi keutamaan bagi aktor politik. Di sini dilihat serta dijelaskan; bagaimana perilaku, keputusan yang dibuat seseorang didorong oleh kepentingan diri dan untuk mencapai tujuannya, melakukan berbagai upaya memutar-balikkan, malah menggunakan jalan pintas atau jalan belakang di luar batas norma, aturan dan ketentuan.

Berdasarkan tulisan Stanley Barret dalam Anthropoly: A Student’s Guide to Tgeory and Method (1996), pendekatan ini disebut sebagai social action atau interactional. Bahkan Bailey dalam bukunya Strategems and Spoils: A Social Anthropoloy of Politics (1970) dan Frederick Bath dalam tulisannya Models of Social Organization (1966) acapkali menggunakan konsep terhadap penjelasan masalah yang sama, dibandingkan dengan transaksional. Di mana model transaksional ini dapat ditelusuri dari pemikiran antropologi Manchester (Manchester School of Thought) dipengaruhi oleh pemikiran Max Gluckman. Walaupun model ini lebih populer sebagai rintisan Gluckman, tetapi dasarnya telah tampak dari beberapa tulisan awal.

Ini dilakukan oleh Bronislaw Malinovski ikut memberikan penjelasan unsur transaksional dan menonjolkan individu sebagai pemutar belit. Malinovski juga menonjolkan demikian pentingnya praktek reciprocity (kesalingan) antara individu dengan hubungan ini adalah faktor sosial yang sesungguhnya. Secara tidak langsung fenomena ini memperlihatkan wujud jurang perbedaan diantara persoalan yang diucapkan dengan masalah yang dilaksanakan. Persoalan ini sering diucapkan oleh masyarakat banyak selalu berdasarkan sistem, norma atau adab tetapi perilaku kesehariannya lebih banyak mencerminkan kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Dalam hal ini, sebelum terwujudnya pendekatan transaksional, pendekatan yang lebih mendapat perhatian para pakar ilmu sosial adalah, struktural fungsionalisme dan konflik. Beberapa fenomena masyarakat dari dua sudut pandang ini. Pandangan keseimbangan menurut struktural fungsionalisme melihat masyarakat sebagai selalu bersifat harmonis dengan kelangsungan peranan yang dimainkan anggotanya serta sumbangan yang mereka hasilkan untuk melanjutkan keseimbangan tersebut. Perubahan hanya terjadi jika peranan yang tertentu tidak dimainkan. Ketidakseimbangan ini walau bagaimanapun akan berakhir dengan keseimbangan awal setelah langkah-langkah penyesuaian dilakukan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help