SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Mengapa Harus Kuliah?

SETELAH pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berakhir, selain menunggu hasil kelulusan diumumkan, apa yang menjadi

Mengapa Harus Kuliah?
Sejumlah siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di SMAN1 Lhokseumawe, Senin (10/4). Siswa Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), dan SMA Luar Biasa mengikuti UNBK berlangsung 10-13 April 2017. 

Oleh Noera Safira

SETELAH pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berakhir, selain menunggu hasil kelulusan diumumkan, apa yang menjadi fokus siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) tingkat akhir adalah mencari dan memilih perguruan tinggi yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Hal ini tentu sangat beralasan mengingat ijazah SMA tidak dapat sepenuhnya menjamin kehidupan di masa depan. Untuk itulah siswa yang telah dinyatakan lulus UN berbondong-bondong mendaftarkan diri mereka ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta untuk memperoleh pendidikan pada jenjang lebih tinggi.

Fenomena inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk memperoleh keuntungan dengan membuka lembaga bimbingan belajar untuk melatih dan mempersiapkan calon mahasiswa baru dalam menghadapi seleksi penerimaan mahasiswa baru. Di sini mereka menawarkan berbagai macam kegiatan seperti try out, group learning, intensive-consultation, dan lain sebagainya. Tujuannya adalah agar calon mahasiswa baru ini dapat lulus di perguruan tinggi terbaik dan ternama. Tarif yang dipasang pun tidak main-main, bisa mencapai jutaan rupiah untuk beberapa kali pertemuan. Tentu kegiatan bimbingan belajar semacam ini tidak menjadi masalah dan sangat dinanti oleh mereka yang memiliki uang lebih. Namun tidak demikian bagi beberapa calon mahasiswa baru dengan ekonomi orang tua yang pas-pasan.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kemudian orang-orang sangat berminat untuk diterima di kampus ternama dan bergengsi? Apakah semata-mata untuk mendapat pekerjaan yang bagus dan berkelas di masa depan atau untuk meningkatkan kualitas diri dan menjadi pribadi yang lebih baik? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus melihat kembali apa sebenarnya esensi dari belajar dan menuntut ilmu itu sendiri.

Sangat penting
Seperti yang kita ketahui bahwa pendidikan sangatlah penting dalam berkehidupan. Dengan adanya pendidikan manusia dapat mengetahui mana yang baik dan buruk, benar dan salah, patut dan tidak patut, dan lain sebagainya. Untuk mendapatkan pendidikan ini, kita harus melalui sebuah proses yang disebut dengan belajar yang berkelanjutan. Terkait dengan ini, di dalam Alquran ayat pertama yang diturunkan oleh Allah Swt adalah iqra’, berarti bahwa kita sebagai umat Islam diperintahkan untuk membaca dan belajar.

Orang yang berilmu akan diangkat beberapa derajat oleh Allah Swt dibandingkan mereka yang tidak berilmu sebagaimana firman-Nya, “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11). Namun perlu digarisbawahi bahwa menuntut ilmu haruslah ikhlas karena Allah, bukan untuk kesombongan dan hal yang bersifat duniawi lainnya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar’i yang semestinya ia lakukan untuk mencari wajah Allah dengan ikhlas, namun ia tidak melakukannya melainkan untuk mencari keuntungan duniawi, maka ia tidak akan mendapat harumnya aroma surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad).

Kembali pada pertanyaan di atas tadi, apa sebenarnya yang menjadi tujuan orang-orang melanjutkan pendidikan mereka di perguruan tinggi? Tidak dapat dipungkiri bahwa mayoritas mahasiswa menjawab agar mereka mendapatkan pekerjaan yang layak di masa depan, termasuk untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga. Namun sangat disayangkan ada beberapa yang bahkan tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka kuliah.

Jika kita merujuk pada pembahasan di atas, jelas dikatakan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim dan haruslah ikhlas karena Allah. Bukan karena paksaan ataupun ikut-ikutan. Bukan pula untuk menyombongkan diri dan lain sebagainya. Maka dari itu, sudah sepatutnya kita meluruskan kembali niat kita dalam menuntut ilmu.

Fakta membuktikan bahwa banyak sekali orang yang sudah sarjana tapi tidak bekerja alias menganggur. Tidak jarang yang kemudian bekerja namun tidak sesuai dengan bidang studi yang mereka dalami di perguruan tinggi. Fakta ini sudah sangat membuktikan bahwa perguruan tinggi tidak selamanya menjamin adanya pekerjaan bagi lulusannya. Lalu apakah tepat jika tujuan kita kuliah adalah semata-mata untuk mendapat pekerjaan? Perlu dipahami adanya pekerjaan atau tidak, itu bergantung pada ikhtiar dan rezeki yang Allah berikan. Maka luruskanlah kembali niat kita.

Mencari ridha Allah
Bayangkan jika orang-orang kuliah niatnya adalah untuk mencari keridhaan Allah, dapat dipastikan angka pengangguran akan berkurang. Mengapa demikian? Karena orang yang menuntut ilmu ikhlas karena Allah akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Mereka tidak hanya mengisi raganya dengan ilmu pengetahuan, namun juga jiwanya. Sehingga terbentuk pola pikir yang baik, santun, terarah, dan bermanfaat bagi masyarakat. Faktanya ilmu yang kita pelajari secara formal sangat sedikit.

Cara kita membawa diri, bergaul dengan teman, berdiskusi dengan santun, memecahkan masalah, menghormati orang tua dan guru, bersikap di masyarakat, itulah sebenarnya ilmu yang sangat besar yang kita pelajari selama kuliah. Itulah yang kemudian mengantarkan kita pada kesuksesan yang sebenarnya. Maka dari itu, luruskan kembali niat kita. Terkait dengan dinaikkannya derajat orang-orang yang berilmu, itu adalah janji Allah Swt. Oleh karenanya, tanpa kita berniat untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga, Allah akan otomatis memberikan keistimewaan tersebut bagi orang-orang yang sabar dalam menuntut ilmu.

Dengan demikian, calon mahasiswa baru seharusnya mengerti betul apa tujuan mereka melanjutkan pendidikan. Karena hasil sangat bergantung pada niat awal. Karena kuliah yang tujuannya untuk mencari keridhaan Allah akan mendatangkan ilmu yang bermanfaat dan membawa kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang dapat memahami mana hak dan batil, layak dan tidak layak, dan menjadi solusi bagi diri sendiri dan keluarganya serta masyarakat.

Perkara pekerjaan dan martabat, itu merupakan pemberian Allah tentu atas ikhtiar dan doa. Singkat kata, jika niat sudah benar, maka tidak ada lagi guru yang mencabuli muridnya; mahasiswa yang membunuh dosennya; dosen yang ditangkap karena korupsi; dan lain sebagainya. Karena niat Lillah ta’ala akan membawa manusia pada jalan yang baik dan benar. Wallahu’alam.

* Noera Safira, S.Pd., mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Email: safiranoera159@yahoo.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help