SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Pentingnya Akhlak

JAUH sebelum Rasulullah saw diutus ke permukaan bumi untuk menyampaikan risalah Islam, di dunia ini

Pentingnya Akhlak

Oleh Nuruzzahri (Waled Samalanga)

JAUH sebelum Rasulullah saw diutus ke permukaan bumi untuk menyampaikan risalah Islam, di dunia ini terdapat dua bangsa besar yang menjadi pusat peradaban dunia, yaitu Romawi dan Persia, selain itu ada pula Yunani dan India. Kala itu, Persia menjadi tempat pertarungan berbagai pandangan agama dan filsafat. Di wilayah ini terdapat aliran Zoroaster yang dianut oleh para penguasa yang satu ajarannya adalah menganjurkan bagi setiap laki-laki untuk menikahi ibu, anak perempuan atau saudara perempuannya. Ajaran ini hanya satu dari sekian banyak ajaran Zoaraster yang benar-benar menyimpang dengan akal sehat kita.

Di Persia terdapat kepercayaan Madzakiah. Menurut Imam Al-Syahristani, agama ini sama atau setali tiga uang dengan agama Zoaraster, sama-sama aneh. Satu ajarannya adalah menghalalkan semua wanita dan harta yang ada di dunia ini. Menurut mereka, manusia hanyalah milik bersama, sebagaimana air, api, dan harta.

Sementara imperialisme Romawi mencengkeram kuat. Kerajaan besar ini terlibat konflik berkepanjangan dengan kaum Nasrani Syria dan Mesir. Berbekal kekuatan militer yang mereka miliki, Romawi mengobarkan semangat imperialisme ke penjuru dunia. Satu misinya adalah menyebarkan ajaran Kristen yang telah dimodifiksi sesuai dengan keinginan mereka.

Sedangkan India sebagaimana disebutkan oleh Prof Abu Hasan Ad-Nadwi, sejak paruh abad ke-6 Masehi mengalami kemunduran luar biasa dalam bidang agama, sosial, dan akhlak. Bersama dengan negara-negara tetangganya, India terperosok dalam dekadensi moral dan patologi sosial kemasyarakatan.

Begitu juga dengan tiga peradaban di atas, Romawi pernah sakit keras, pada saat itu hampir semua wilayah Romawi dilanda kesulitan, ketimpangan ekonomi muncul dalam bentuk penindasan dan pajak yang mencekik leher rakyat. Adapun Yunani kala itu masih tenggelam dalam kubangan takhayul dan mitologi teologis, yang menjebak penduduknya dalam debat kusir yang tidak bermanfaat.

Fondasi akhlak
Melihat realita di atas bahwa sebab yang meluluhlantakkan peradaban tersebut adalah kemerosotan akhlak, maka ketika diutuskan ke jazirab Arab, sasaran pertama Rasulullah saw ialah mendirikan fondasi akhlak dalam jiwa masyarakat Arab pra-Islam. Mereka yang sebelumnya saling membunuh, memeras masyarakat lemah, dan membunuh kaum Hawa, diubah oleh Nabi saw menjadi satu bangsa yang menghormati sesama dan saling mengayomi dalam hidup.

Maka tak heran para muarrikh (ahli sejarah) menyebutkan bahwa risalah Muhammad saw berhasil disebarkan dalam waktu yang relatif singkat, hingga terbentuk Negara Islam Madinah saat umur dakwahnya tidak melewati dua puluh tahun. Selanjutnya wilayah Islam semakin luas hingga berdirinya dinasti Umayyah dan Abbasiyah. Hal ini disebabkan akhlak yang menjadi fondasi negara dan agamanya.

Namun demikian, akhir-akhir ini hampir seluruh pelosok kehidupan umat Islam dilanda badai dekadensi akhlak. Para siswa yang baru selesai mengikuti Ujian Nasional (UN) memperlihat perilaku yang tidak baik. Banyak anak sudah hilang penghormatan kepada orang tuanya, murid-murid tidak lagi menghormati gurunya, para suami memukul istrinya, dan rakyat sudah jarang yang mau mendoakan kebaikan kepada pemimpinnya. Padahal inti ajaran Islam memperbaiki hubungan dengan Allah Swt dan dengan sesama manusia. Apa yang salah dengan bangsa ini dan bagaimana agar nilai akhlak “mereboisasikan” kehidupan umat Islam dewasa ini?

Satu cara menanam akhlak dalam jiwa seseorang adalah lewat keteladanan. Mengenai hal ini Ibnu Sirin berkata, “hendaklah kamu bersama orang-orang yang jika berada di dekatnya, kamu tidak akan bermaksiat kepada Allah, amalannya membuatmu zuhud di dunia, ia menasihatimu dengan perbuatan, bukan dengan perkataan.”

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help