Ini 63 Warga Aceh di Sel Port Klang

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Jumat kemarin berhasil mengidentifikasi nama dan umur ke-68 warga

Ini 63 Warga Aceh di Sel Port Klang
Presiden Komunitas Aceh di Malaysia

BANDA ACEH - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur, Jumat kemarin berhasil mengidentifikasi nama dan umur ke-68 warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan di lokap (sel) tahanan Imigrasi Malaysia di Selangor sejak Selasa (2/5) lalu gara-gara meninggalkan negeri jiran itu dari jalur tidak resmi. Mereka juga tak bisa menunjukkan dokumen resmi keimigrasian, sehingga digolongkan imigran ilegal atau pendatang tanpa izin.

Pendataan nama dan umur warga Indonesia (terbanyak dari Aceh) yang ditahan itu dilakukan oleh sebuah tim kecil dari KBRI. Mereka kemudian menyerahkan daftar (senarai) nama tersebut kepada Wakil Dubes RI di Kuala Lumpur, Andreano Erwin kemarin. Lalu senarai nama tersebut diserahkan kepada Presiden Persatuan Komunitas Aceh di Malaysia, Datuk Mansyur Usman.

Sebagaimana dijanjikan Datuk Mansyur, Kamis (4/5), apabila ia sudah mendapatkan nama-nama warga Aceh yang ditahan pihak imigrasi di Selangor itu, maka akan segera dia serahkan kepada Serambi. Melalui aplikasi WhatsApp (WA), daftar nama itu pun dikirimkan Datuk Mansyur kepada Serambi kemarin siang. (LIhat daftar)

Jumlah nama di dalam daftar itu sebanyak 68 orang. Bukan seluruhnya orang Aceh. Paling tidak ada empat nama yang bukan orang Aceh, masing-masing Asro selaku tekong (nakhoda) dan tiga orang lagi sebagai kru (awak boat), yakni Awaluddin, Hery, dan Dermawansyah.

Menurut Datuk Mansyur, senarai yang ia peroleh itu hanya berisi nomor urut, nama, umur, dan kewarganegaraan orang-orang yang ditahan. Semuanya WNI, namun tidak dirincikan berapa banyak orang Aceh dan non-Aceh. Orang-orang Aceh itu pun tidak dirincikan dari kabupaten/kota mana mereka berasal.

“Belum ada data terpilah. Karena yang melakukan pendataan pihak KBRI, jadi semua yang ditahan itu hanya dicatat sebagai WNI,” kata Datuk Mansyur.

Begitupun, berdasarkan data yang dilansir Timbalan Pengarah (Operasi) DM 4 Selangor, Komander Maritim Mohd Iszuadi bin Mohamad Hassan kepada media setempat, Rabu, saat boat yang mengangkut WNI itu disergap marinir Malaysia pada 2 Mei pagi, ditemukan 67 orang berada di dalam boat tersebut. Kesemuanya WNI, termasuk seorang tekong bersama tiga awak boat, dan 63 orang pendatang asal Aceh yang tak memiliki dokumen/kartu identitas diri yang sah.

Mohd Iszuadi merincikan, dari 67 orang yang ditahan itu, 15 orang di antara wanita, berumur sekitar 24 hingga 49 tahun. Dua orang bocah perempuan, masing-masing berumur 8 bulan dan 3 tahun, serta 46 pria yang kisaran umurnya 20 hingga 56 tahun.

Pihak Komander Maritim Selangor menduga, saat masuk Malaysia pun mereka tak memiliki dokumen keimigrasian resmi. Itu sebab saat meninggalkan Malaysia menjelang puasa Ramadhan pun mereka menggunakan jalur tak resmi dan itu menyalahi peraturan Malaysia, Seksyen 5 (2) Akta Imigresen 1959/63 (Pindahan 2002).

Sebagaimana diberitakan kemarin, ketika boat ronda maritim Malaysia melakukan patroli di Satria Selatan, Selangor, pada Selasa (2/5) pukul 05.00 pagi, berhasil dikejar dan ditahan sebuah boat barter dagang yang terlihat mencurigakan pada posisi lebih kurang 4 mil dari perairan Pelabuhan Barat, Selangor. Setelah diperiksa, penumpangnya berjumlah 67 orang dan seluruhnya ditahan di tahanan Imigrasi Selangor karena meninggalkan Malaysia bukan dari jalur resmi. Mereka juga tak dapat memperlihatkan dokumen keimigrasian berupa paspor atau visa kerja.

Datuk Mansyur mengaku prihatin atas peristiwa itu. “Selaku Presiden Community warga Aceh di Malaysia, saya mengimbau seluruh warga dan keluarga di kampung agar tidak mendesak anak atau keluarganya di rantau untuk pulang dengan jalan laut dengan risiko yang besar. Padahal, pihak KBRI menyediakan dokumen Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) Rm 18 untuk pulang dengan bayaran denda di Imigresen Malaysia,” ujarnya.

Ia berharap agar kejadian tahun-tahun yang lepas tidak terulang kembali. “Alasan agen liar janji muluk-muluk untuk dihantar pulang menempah risiko kematian, pastinya negara Indonesia dan daerah harus ambil peduli dengan keadaan yang berlaku agar rakyat dapat diselamatkan,” demikian Datuk Mansyur Usman.

Hal senada diutarakan Syahrul bin Abdurrahim, pengusaha sukses asal Aceh di Malaysia. “Sangat mungkin mereka yang kini ditahan itu sebelumnya tinggal di Malaysia tanpa izin. Mereka pilih jalan mudah, tapi risikonya sangat tinggi. Padahal, Kerajaan Malaysia memberikan kemudahan untuk balik (pulang kampung -red), yakni dengan membayar denda. Mengapa bukan prosedur itu yang ditempuh?” sesal Syahrul. (dik)

Daftar WNI yag Ditahan di Port Klang, Malaysia
(Sejak 2 Mei 2017)
No. Nama Umur Asal
01. Agus 30 Aceh
02. Sukiman Shahputra 32 Aceh
03. Suprato 32 Aceh
04. Imron Wahyud 30 Aceh
05. Muhammad Ridwan 29 Aceh
06. Abdul Muthalib 24 Aceh
07. Haris Saputra 22 Aceh
08. Zulkifli 27 Aceh
09. Hafifuddin 23 Aceh
10. Mukhsin 35 Aceh
11. Dedi Irmawan 23 Aceh
12. Dedi Setiadi 27 Aceh
13. Ado 30 Aceh
14. Tony 25 Aceh
15. Miswari 22 Aceh
16. Bunaiya 25 Aceh
17. Muhammad 32 Aceh
18. Saiful Abidin 26 Aceh
19. Zubaili 34 Aceh
20. Bustami 34 Aceh
21. Muhammad 26 Aceh
22. Isasuddin 34 Aceh
23. Rahim 56 Aceh
24. Eko 27 Aceh
25. Muhammad Rizal 32 Aceh
26. Musliadi 29 Aceh
27. Amri Syahputra 29 Aceh
28. Jonne 24 Aceh
29. Rizal Fahmi 24 Aceh
30. Amiruddin Yunus 40 Aceh
31. Ramli 40 Aceh
32. Muslem 28 Aceh
33. Lutvi 32 Aceh
34. Saiful 27 Aceh
35. Nanang Firmadani 25 Aceh
36. Misdi 50 Aceh
37. Zikrullah 42 Aceh
38. Hermansyah 29 Aceh
39. Marzuki 25 Aceh
40. M. Salleh 28 Aceh
41. Nurdin 35 Aceh
42. Zulwahid 22 Aceh
43. Muhammad Fajri 20 Aceh
44. Kamaluddin 34 Aceh
45. Hamzah 27 Aceh
46. Suhendra 26 Aceh
47. Muhammad Rizki 21 Aceh
48. Tia Wati 23 Aceh
49. Wahyuni 28 Aceh
50. Hanna Sri Rezeki 29 Aceh
51. Utari 27 Aceh
52. Prihartini 46 Aceh
53. Syamsyah Hasan 67 Aceh
54. Weni Susanti 31 Aceh
55. Salmawati A. Wahab 34 Aceh
56. Habibah 40 Aceh
57. Saniah binti Hasan 40 Aceh
58. Wahyuni 21 Aceh
59. Rafiah Ishak 49 Aceh
60. Siti Nurhayati 54 Aceh
61. Ratna Dewi 28 Aceh
62. Sumiyem 39 Aceh
63. Tiara Salsabila 8 bulan Aceh
64. Agnes 30 bulan Aceh
65. Asro (tekong boat) 46 WNI non-Aceh
66. Awaluddin (kru) 31 WNI non-Aceh
67. Hery (kru) 35 WNI non-Aceh
68. Dermawansyah (kru) 35 WNI non-Aceh
---------------------------------------------
Sumber: KBRI di Kuala Lumpur

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved