SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Masa Depan Aceh ke Laut Saja

ACEH merupakan satu provinsi di Indonesia yang kaya akan potensi sumber daya kelautan dan perikanan

Masa Depan Aceh ke Laut Saja

Oleh Rahmad Mukhtar

ACEH merupakan satu provinsi di Indonesia yang kaya akan potensi sumber daya kelautan dan perikanan. Luas daratan Provinsi Aceh sebesar 57.365,67 km2, sedangkan luas perairannya mencapai 295.370 km2 yang terdiri dari 56.563 km2 berupa perairan teritorial dan kepulauan serta 238.807 km2 berupa perairan zona ekonomi ekslusif (ZEE), dengan panjang garis pantai mencapai 2.666,3 km. Aceh juga memiliki 119 pulau dengan posisi geoekonomi dan geopolitik yang sangat strategis, di mana sebelah utara dan timur berbatasan langsung dengan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Provinsi Sumatera Utara, dan sebelah barat dengan Samudera Hindia.

Dengan kondisi demikian, Aceh tentunya menyimpan potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang sangat besar, baik sumber daya yang dapat diperbarui maupun yang tidak dapat diperbarui. Sektor kelautan dan perikanan merupakan satu sektor unggulan yang akan memberikan kontribusi besar bagi pembangunan di Aceh, jika pemanfaatannya dilakukan secara optimal dan berkelanjutan. Sumber daya ini bisa menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang bisa diandalkan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat Aceh untuk mencapai kesejahteraan yang dicita-citakan.

Keunggulan komparatif
Berdasarkan statistik perikanan tangkap 2015, provinsi Aceh terletak pada Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 571 dan 572 dengan total potensi kedua WPP mencapai 1.713.015 ton/tahun (571= 484.414 ton/tahun dan 572= 1.228.601 ton/tahun). Akan tetapi, berdasarkan satu hasil studi pada 2015, potensi perikanan tangkap di Aceh mencapai 272,2 ribu ton/tahun, dengan tingkat pemanfaatan sebesar 165.778,80 ton (60,72%) dari total potensi lestari.

Komoditas unggulan ekonomis penting yang banyak terdapat di perairan Aceh adalah jenis ikan pelagis besar dan kecil seperti tuna, tongkol, cakalang, tenggiri, kembung, layang, siro, dan tembang; ikan demersal seperti kurisi, bawal putih, gulamah, kuro dan udang; ikan karang seperti kerapu, ekor kuning dan ikan kakap; lobster, kepiting, rajungan dan cumi-cumi juga menghiasi sepanjang perairan Aceh. Bahkan, potensi nilai ekonomi perikanan tangkap perairan Aceh ditaksir mencapai Rp 6,34 triliun/tahun (asumsi harga ikan sebesar 2,24 dolar AS/kg).

Selain memiliki potensi perikanan tangkap yang besar, Aceh juga memiliki potensi perikanan budidaya yang dahsyat, bahkan mencapai 55.896 ha (tidak termasuk potensi budidaya laut) yang terdiri dari budidaya payau 50.691,70 ha, dan budidaya air tawar 5.204,3 ha (Aceh Dalam Angka 2016). Pada 2015, produktivitas perikanan budidaya di Aceh masih sangat rendah (mayoritas tradisional). Di mana produktivitas perikanan budidaya payau (tambak) hanya 0,74 ton/ha, dan produktivitas perikanan budidaya air tawar 0,67 ton/ha untuk media sawah dan 5,40 ton/ha untuk media kolam. Dengan demikian, peluang pengembangan perikanan tangkap dan perikanan budidaya masih sangat besar di provinsi Aceh.

Sayangnya potensi sumber daya kelautan dan perikanan Aceh tidak disadari dan belum dimanfaatkan secara optimal dan sungguh-sungguh, padahal Aceh masih dihadapkan beberapa isu dan permasalahan pembangunan, seperti; angka kemiskinan yang tinggi (859 ribu jiwa atau 17,11%), tingkat pengangguran terbuka yang tinggi (9,93% dan berada pada urutan pertama di Indonesia), dan indeks pembangunan manusia yang rendah (berada pada urutan ke-13 dari 34 Provinsi).

Dengan potensi dan posisi geoekonomi Aceh yang sangat strategis dan memiliki keunggulan komparatif yang tinggi dalam bidang ekonomi kelautan, serta begitu banyaknya isu dan permasalahan wilayah, maka, ekonomi berbasis sumberdaya tersebut merupakan keunggulan komparatif yang dapat ditransformasikan menjadi keunggulan kompetitif bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Aceh secara berkelanjutan.

Lima masalah
Secara makroekonomi, kinerja pembangunan perikanan Aceh termasuk satu yang baik di Indonesia. Volume produksi perikanan meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2012, produksi perikanan Aceh mencapai 187.401,21 ton dan meningkat menjadi 231.430,21 ton pada 2015. Kendati demikian, sedikitnya ada lima masalah dan tantangan yang masih harus diatasi, supaya sektor kelautan dan perikanan Aceh menjadi leading sector pembangunan ekonomi Aceh, yaitu:

Pertama, mayoritas kegiatan usaha ekonomi perikanan umumnya dikerjakan secara tradisional (khususnya perikanan budidaya tambak), belum menerapkan IPTEK dan manajemen yang profesional. Hal inilah yang menyebabkan sebagian besar nelayan dan pembudidaya ikan di Aceh masih berada di bawah garis kemiskinan dan juga produktivitas hasil budidaya (ikan, udang dan rumput laut) yang rendah.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help