SerambiIndonesia/

Anggota DPRA Janjikan Rumah bagi Korban Gusur Barak Bakoy

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi saat mengunjungi korban tsunami, Selasa (9/5/2017) yang difasilitasi Ketua YARA, Safaruddin SH.

Anggota DPRA Janjikan Rumah bagi Korban Gusur Barak Bakoy
FACEBOOK
Asrizal H Asnawi 

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh dari Partai Amanat Nasional (PAN), Asrizal H Asnawi, berjanji akan memberikan rumah kepada 18 kepala keluarga korban tsunami yang digusur dari barak pengungsi di Gampong Bakoy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, dan kini tinggal sementara di Kantor Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA), Banda Aceh. 

Hal itu disampaikan Asrizal H Asnawi saat mengunjungi korban tsunami, Selasa (9/5/2017) yang difasilitasi Ketua YARA, Safaruddin SH.

Hadir juga perwakilan Kementerian Sosial (Kemensos) RI sekaligus Kepala Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Darul Sa'adah Aceh, Darmanto, Perwakilan Dit PSKBA Kemensos, Yadi Muchtar dan Devi Riansyah selaku Kabid Resos Dinas Sosial Aceh. 

"Tempat tinggal menjadi masalah utama meski tsunami sudah 13 tahun. Kesalahan apa yang kita lakukan sehingga masih ada korban tsunami yang tidak mendapat rumah. Saya memastikan, insyaallah ke 18 saudara-saudara kita ini, kita programkan rumah di tahun 2018. Ini tanggungjawab kita bersama," katanya. 

Ia menyatakan, persoalan yang terjadi sekarang adalah para korban tsunami ini tidak memiliki tanah sebagai tempat dibangunnya rumah.

Karena itu, dia berharap pemerintah bisa memberi solusi terhadap nasib mereka agar mereka memiliki tanah untuk dibangun rumah layak huni. "Tidak mungkin kita buat di atas angin," ujar dia. 

Wakil Ketua Komisi IV DPRA ini juga menyatakan, keputusan Berlin Silalahi mengajukan permohonan euthanasia (suntik mati) ke Pengadilan Negeri Banda Aceh pada Rabu, (3/5/2017) karena putus asa dengan kondisinya yang tak kunjung sembuh dari penyakit dan sikap Pemerintah Aceh Besar yang tidak berpihak pada mereka.

Ia berharap kasus Berlin menjadi yang terakhir di Aceh. 

"Banyak perkara ini di Aceh, saya sebagai wakil rakyat merasa malu. Saya juga menyesalkan Pemkab Aceh Besar, seharusnya yang digusur itu orang yang duduk pada rumah jatah Berlin dan kawan-kawan. Saya juga minta permohonan gugatan euthanasia yanh dilakukan Berlin Silalahi itu dicabut karena suntik mati itu ada tapi tidak lazim di negara kita," ulasnya.

Halaman
12
Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help