SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Hidup Bersama di Kota

MULAI tak sanggup bau air got yang sudah mengental di depan rumahnya, pemilik rumah tiga tingkat itu lantas mengambil tindakan

Hidup Bersama di Kota
Kondisi Jalan Perniagaan Kota Lhokseumawe setekah terhenti pembangunan drainase. Foto direkam Jumat (14/8)SERAMBI/SAAIFUL BAHRI 

Oleh Bisma Yadhi Putra

MULAI tak sanggup bau air got yang sudah mengental di depan rumahnya, pemilik rumah tiga tingkat itu lantas mengambil tindakan. Seorang pekerja serabutan ia upah untuk membersihkannya. Sesuai permintaan sang tuan rumah, si pekerja membersihkan got hanya sepanjang kira-kira dua puluh meter, mengikuti panjang pagar rumah tersebut. Sementara got di sepanjang deretan perumahan --yang harga per rumahnya mencapai Rp 800 juta ke atas-- itu lebih dari seratus meter.

Untuk memungkinkan pembersihan seruas got tersebut, kedua sisinya disumbat dengan karung berisi pasir. Maka diangkatlah beraneka limbah dari sana sampai airnya mengencer. Ada rumput, batang kayu, pembalut wanita, popok bayi, tulang ikan, daun pisang, reja-reja kain, berbagai jenis tali, hingga beberapa sandal jepit tanpa pasangan. Bau tak sedap berkurang, pemilik rumah senang. Meski air kotor nan menjijikkan di situ tidak mengalir, hanya tergenang. Tentu ini bukan standar kebersihan yang baik untuk agenda penyehatan lingkungan secara menyeluruh. Membersihkan seruas got tak akan menyelesaikan masalah. Bau got tak bisa diblokir dengan karung pasir.

Melihat tetangganya mengambil tindakan, keluarga-keluarga lain pun ikut serta. Kali ini pembersihannya terorganisasi, tidak sendiri-sendiri. Mereka sepakat mengupah beberapa pekerja untuk membersihkan keseluruhan bagian got. Jadi sekarang bau busuknya sudah benar-benar hilang. Anggota-anggota komunitas kecil itu tak perlu lagi menutup hidup ketika sedang membuka dan menutup gerbang rumahnya.

Di mana pun manusia hendak membangun peradaban, got wajib disertakan di dalamnya. Got adalah subsistem pertahanan peradaban. Ia harus dibuat untuk menjaga kesehatan ruang fisik peradaban maupun manusia-manusia di dalamnya. Sebab itulah harus dipastikan ia senantiasa dalam keadaan baik di seluruh bagiannya. Ia harus bisa mengaliri (bukan menampung) limbah cair hasil bermacam kreasi manusia ke tempat seharusnya mereka bermuara.

Satu rumah di tengah hutan pun memerlukan saluan pembuangan. Terlebih di perkotaan, tempat di mana “reproduksi” limbah berjalan 24 jam nonstop. Keterlibatan semua orang pun jadi keniscayaan. Tidak akan got berfungsi normal kalau hanya satu rumah yang terlibat. Penyelenggaraan kehidupan manusia selalu meminta kebersamaan.

Perlu ditelaah
Masalah di atas sudah selesai. Akan tetapi tidak berarti segalanya sudah dalam keadaan beres setelah lingkungan bersih yang diidamkan berhasil diwujudkan komunitas kecil tadi. Pembersihan yang dilakukan sendiri-sendiri adalah satu masalah. Sementara itu ada masalah sosial lain yang oleh para sosiolog (terutama mereka yang memusatkan perhatiannya pada kajian sosiologi perkotaan) pemuja “kolektivitas sosial” dilihat sangat perlu ditelaah, kemudian digugat.

Masalahnya, capaian sosial, yang dalam kasus di atas adalah bersih dan berfungsinya saluran pembuangan di lingkungan, bisa tidak diwujudkan dengan turun tangan langsung orang-orang yang membutuhkan kondisi tersebut. Kondisi idealnya diwujudkan lewat perantara, yakni orang-orang yang diupah untuk kerja pembersihan.

Meski para sosiolog tak menyangkal bahwa itu adalah bentuk dari kerja sama sosial, yakni adanya sekelompok orang (kaya raya) yang mengupah beberapa orang (miskin) yang membutuhkan pekerjaan untuk memperoleh biaya hidup, tetapi metode penciptaan kondisi ideal tersebut justru tidak ideal. Penciptaan kondisi lewat kerja sama dua pihak yang berbeda strata ekonomi itu dicela karena tidak mendorong terjadinya interaksi sosial yang mendalam atau erat di antara orang-orang yang berstrata ekonomi sama tersebut.

Dan dalam hal ini, justru bukanlah para sosiolog yang paling banyak terlibat dalam pertentangan pendapat. Perdebatannya justru lebih banyak melibatkan mereka yang menjalani langsung realitas tersebut, yakni orang-orang yang menjadi subjek penelitan para akademikus/teoretikus ilmu sosial. Maka debat mengenai bentuk kebersamaan sosial di kota tak terkurung di ruang-ruang kelas atau tulisan-tulisan ilmiah.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help