SerambiIndonesia/

Habib Teupin Wan, Pahlawan yang Terlupakan

HABIB Teupin Wan bernama lengkap Sayid Abdurrahman bin Hasan Asseqaf. Lahir di Gampong Ateuk Mukim XXVI

Habib Teupin Wan, Pahlawan yang Terlupakan

HABIB Teupin Wan bernama lengkap Sayid Abdurrahman bin Hasan Asseqaf. Lahir di Gampong Ateuk Mukim XXVI Aceh Besar (Meunasah Papeun, red), hampir 38 tahun Habib berjuang melawan penjajahan Belanda. Dia wafat di pegunungan Tangse. Namun, meski sebagian besar umurnya dihabiskan melawan penjajahan, namanya seakan tenggelam dalam sejarah Aceh.

“Habib Teupin Wan adalah pahlawan sejati, yang rela mengorbankan jiwa dan harta benda untuk membebaskan Aceh dari penjajahan,” kata Sayed Murtadha Alaydrus, M.Sc, narasumber dalam seminar Peranan dan Kontribusi Golongan Sayid dalam Perang Aceh, di ruang Mini Thater Gedung PKP2A LAN Banda Aceh, Sabtu lalu.

Dikatakan Murtadha yang juga Ketua Asyraf Aceh itu, tahun 1873 merupakan awal perjuangannya. Sebuah dayah di Meunasah Ara (Lancok Baroh), Kecamatan Bandar Dua, Pijay, juga didirikan untuk melancarkan perjuangan di bidang pendidikan. Habib syahid setelah terjadinya pertempuran sengit antara pasukan marsose yang dipimpin Kolonel Schemidt pada Hari Raya Idul Fitri, 29 September 1911. Putra Habib Teupin Wan, yakni Habib Muhammad Asseqaf, justru lebih duluan syahid, yakni pada 21 Mei 1910. Dia syahid bersama dengan putra Tgk Chik di Tiro, yakni Tgk Beb, yang sama-sama berjuang melawan penjajahan Belanda.

Kata Sayid Murtada, Habib Teupin Wan merupakan salah satu panglima perang Aceh. Dia juga berkolaborasi dengan Tgk Chik di Tiro saat melawan penjajah. Sejarah mencatat, Tuanku Mahmud dalam sebuah surat kepada Habib Teupin Wan pada 14 Agustus 1909 pernah menyerukan Habib Teupin Wan, Teungku Mahyuddin, Tgk Dibukit Ibnu Tgk Chiek Ditiro, dan lainnya, untuk menyerah kepada Belanda. “Tetapi, Habib Teupin Wan bersama ulama lainnya tidak menghiraukan surat itu dan terus berjuang sampai syahid,” kata Murtadha.

Dalam diskusi yang dipandu Irwan Adaby MA itu, peserta memberikan banyak masukan. Ramly Adali misalnya berharap sejarah Aceh ditulis sejernih mungkin. Dia juga berharap generasi muda saat ini banyak mempelajari sejarah: Mengapa Kerajaan Aceh yang berumur sekitar 200 tahun lenyap begitu saja. “Selama ini kita terlihat sebagai bangsa pemarah, bukan bangsa yang cerdik,” kata pensiunan dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh ini. Dikatakan, banyak keturunan Arab maupun non-Arab lainnya yang berkiprah di bidang agama, pendidikan hingga perkebunan, layak ditulis sebagai pembelajaran bagi generasi muda. Menurut Ramly, salah satu kendala menulis sejarah selama ini adalah sikap keluarga sang tokoh yang kurang terbuka. “Mereka menganggap menceritakan kembali kehidupan sang tokoh akan mengurangi pahala untuk yang bersangkutan,” kata dia. (sak)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help