SerambiIndonesia/

Tapal Batas Bener Meriah-Bireuen Berpotensi Terjadi Konflik

"Saat ini masyarakat sudah menetap dari tahun 1972 dan ber KTP Bener Meriah terancam akan diusir dari tanahnya,"

Tapal Batas Bener Meriah-Bireuen Berpotensi Terjadi Konflik
SERAMBINEWS.COM/MUSLIM ARSANI
Masyarakat Kampung Pantan Lah,Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah, Senin (15/5/2017) melakukan audiensi dengan pemerintah setempat untuk menyelesaikan sengketa perbatasan dengan Kabupaten Bireuen. 

Laporan Muslim Arsani | Bener Meriah

SERAMBINEWS.COM, REDELONG - Masalah tapal batas didua Kabupaten bertetangga Bener Meriah-Bireuen, semakin pelik dan dikhawatirkan kedepannya akan memicu konflik antar masyarakat yang berada di kawasan perbatasan yang berada diantara Kampung Pantan Lah, Kecamatan Pintu Rime Gayo Bener Meriah dengan Kecamatan Juli di Kabupaten Bireuen.

"Sekitar 1.000 hektare lebih hutan yang diserobot dan diklaim menjadi wilayah Kabupaten Bireuen, saat ini masyarakat sudah menetap dari tahun 1972 dan ber KTP Bener Meriah terancam akan diusir dari tanahnya," kata salah seorang warga, Syahrial Abdi, Senin (15/5/2017) kepada Serambinews.com.

Indikasi konflik tersebut menurut dia, terjadi karena dalam beberapa tahun terakhir ini dibentuknya sebuah kampung yang bernama Peusangan dan disahkan secara administrasi dan memiliki struktur pemerintah yang sah.

Padahal kata dia lagi keseluruhan warga tersebut yang kini dianggap sebagai warga Bireuen tersebut, awalnya adalah warga yang menetap di kampung Pantan Lah Kecamatan Pintu Rime Gayo, Kabupaten Bener Meriah.

"Padahal wilayah yang menjadi kampung tersebut, adalah wilayah Bener Meriah. Apalagi sekarang kami tidak bisa menggunakan tanah yang semenjak dulu sudah menjadi milik Bener Meriah," terangnya.

Menurut dia pemerintah harus melakukan langkang kongkrit untuk menyelesaikan sengketa tanah yang masuk dalam zona abu-abu tersebut.

Sementara itu Camat Pintu Rime Gayo, M Syahril Amin, saat dikonfirmasi mengatakan, bahwa batas wilayah yang dipercaya sudah menjadi milik Kabupaten Bireuen, sepanjang 3-4 KM.

"Iya berdarkan peta yang kita punya, penyerobotan dan pengklaiman tanah ini sudah sudah mencapai 3 hingga 4 KM," kata Syahril Amin. (*)

Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help