SerambiIndonesia/

Ulama Kritik Toilet Masjid Raya

Kalangan ulama dan warga Aceh mengkritik model toilet baru di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Ulama Kritik Toilet Masjid Raya
SERAMBINEWS.COM
Tgk H Faisal Ali 

BANDA ACEH - Kalangan ulama dan warga Aceh mengkritik model toilet baru di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Mereka berharap penanggung jawab proyek pembangunan toilet ini memperbaiki model toilet agar sesuai dengan nilai-nilai syariah dan memenuhi syarat dalam bersuci (taharah).

Kritikan terhadap toilet baru Masjid Raya Baiturrahman ini berembus kencang melalui jejaring sosial facebook sejak Minggu (14/5) pagi atau sehari setelah Wakil Presiden RI Jusuf Kalla meresmikan wajah baru masjid kebanggaan rakyat Aceh ini, Sabtu (13/5).

Misalnya, Ustaz Masrul Aidi, pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keueung, Aceh Besar, mengunggah dua foto tentang model tempat buang air kecil dan WC (tempat buang air besar). Dari status yang diunggah Masrul Aidi serta komentar para pengguna facebook, setidaknya ada dua hal yang dikritik dari toilet tersebut.

Pertama tentang rendahnya pembatas antartoilet dan kedua tentang WC duduk yang menurutnya tidak lazim digunakan di tempat ibadah umat Islam. Hingga pukul 21.45 WIB tadi malam, status Masrul Aidi yang diunggah pada Minggu (14/5) pukul 08.07 WIB mendapatkan 267 tanggapan, 103 komentar, dan telah 26 kali dibagikan.

Dihubungi Serambi tadi malam, Ustaz Masrul Aidi menyarankan kepada kontraktor yang menangani pembangunan toilet Masjid Raya Baiturrahman agar memperbaiki kondisi tersebut. “Seharusnya, kalau pun memang disediakan toilet berdiri, maka pembatasnya harus lebih tinggi, agar tetangga tak sembarang lirik-lirik,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Masrul juga menyarankan agar toilet berdiri itu dilengkapi dengan plastik pembatas yang berfungsi untuk menahan air seni agar tidak terpercik ke pakaian. “Perlu juga dilengkapi dengan tempat buang air kecil jongkok seperti di Masjid Saree dan beberapa masjid lainnya. Ini sangat dibutuhkan oleh para abu-abu dan teungku-teungku yang biasa menggunakan kain sarung,” ujarnya. Selain tempat buang air kecil, Masrul Aidi juga mengkritik model WC duduk yang terkesan hanya mengutamakan kebersihan, bukan kesucian. “Kloset duduk itu belum familiar dengan orang Aceh, terutama saat di luar rumah. Nanti pasti tidak akan higienis,” kata dai kondang ini.

“Kalau pun perlu kloset duduk untuk orang tua dan orang yang tidak mampu berjongkok, tapi tetap harus ada pilihan bagi yang tidak terbiasa dengan kloset duduk. Maka kloset model jongkok harus lebih banyak,” tambahnya.

Belum sesuai syariat
Kritikan terhadap model toilet di basement Masjid Raya Baiturrahman juga disampaikan oleh Ketua Pimpinan Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Aceh, Tgk H Faisal Ali. “Saya belum sempat melihatnya langsung, tapi sudah melihat gambar-gambar yang dikirim melalui WA (Whatsapp). Saya pikir kondisinya memang belum sesuai dengan syariat, serta adat dan budaya masyarakat Aceh,” ujar Tgk Faisal Ali.

Pimpinan Dayah Mahyal Ulum Al-Aziziyah ini berharap, karena proyek pembangunan toilet itu masih dalam tahap penyelesaian, maka sebaiknya kontraktor pelaksana segera mengubah bentuk dan modelnya agar memenuhi syariat Islam. “Saya pikir pemerintah juga tidak perlu mencari pembenaran, sebaiknya diperbaiki saja. Jangan sampai masjid yang sudah sangat megah ini tercemarkan dengan toilet yang tidak memenuhi syariat,” ujarnya.

Menurutnya, Pemerintah Aceh perlu membangun fasilitas bersuci yang memenuhi unsur syar’i akan meminimalkan kesalahan dalam beribadah. “Karena tidak semua masyarakat Aceh memiliki ilmu yang cukup dalam persoalan bersuci. Makanya harus didukung oleh fasilitas yang mendekati/memenuhi unsur syar’i. Istilahnya, kurang dari sisi ilmu, tapi memenuhi dari segi fasilitas. Jangan sampai ibadah kita tidak diterima gara-gara taharahnya tidak benar,” demikian Tgk Faisal Ali.(nal/her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help