SerambiIndonesia/

"Hacker" Tak Selalu Jahat, Contohnya Pemuda 13 Tahun Asal Pakistan Ini

Mekanisme pelaporan celah keamanan oleh pihak luar tersebut sudah jamak diterapkan perusahaan-perusahaan

(Bugcrowd)
Ahsan Tahir, remaja 13 tahun asal Pakistan yang sudah bekerja memburu celah keamanan di sistem komputer berbagai perusahaan besar. 

SERAMBINEWS.COM - Ahsan Tahir bukan remaja sembarangan. Di umur yang baru genap 13 tahun, ABG asal Karachi, Pakistan ini sudah menemukan aneka macam celah sekuriti di sistem komputer berbagai perusahaan besar.

Untunglah, Tahir tak berniat jahat. Dia adalah hacker putih alias “ethical hacker” yang mencari kelemahan sistem, lalu memberitahukannya ke perusahaan terkait supaya diperbaiki. Atas jasanya ini, Tahir kemudian diberikan imbalan berupa uang.

Mekanisme pelaporan celah keamanan oleh pihak luar tersebut sudah jamak diterapkan perusahaan-perusahaan teknologi di AS lewat serangkaian program “bug bounty”. Penemu bug akan diganjar hadiah apabila melaporkannya.

Tahir sang hacker muda berkiprah di ranah “bug bounty” ini. Perusahaan-perusahaan teknologi yang pernah dibantunya menemukan bug termasuk para raksasa seperti Google dan Microsoft.

 “Semakin banyak hacker yang bekerja, semakin banyak bug ditemukan, semakin aman pula perusahaan-perusaan itu. Sederhana saja sebenarnya,” ujar Tahir menjelaskan motivasinya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari NBC News, Senin (15/5/2017).

Belajar sendiri

Kedua orang tua Tahir tidak memiliki latar belakang teknologi. Tahir pun awalnya tak tahu menahu soal peretasan komputer. Ketertarikannya terhadap dunia hacking berawal ketika situsnya sendiri menjadi korban peretasan.

“Saya kemudian memutuskan untuk mencari bug di situs milik saya,” kata Tahir. Dia belajar hacking secara otodidak, dengan menonton video tutorial di YouTube, membaca blog, dan bereksperimen.

Tahir kemudian menemukan situs yang menerangkan bahwa seorang hacker bisa mendapat bayaran dengan meretas situs perusahaan, kemudian melaporkan celah keamanan yang ditemukan. Itulah yang kemudian dia lakoni.

Di usia yang masih belia, Tahir kini menjadi seorang rising star di industri cyber security. Casey Ellis, pendiri dan CEO perusahaan crowdsourcing sekuriti Bugcrowd, mengatakan bahwa remaja seperti Tahir adalah pejuang masa depan di ranah keamanan digital.

Halaman
12
Editor: Fatimah
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help