SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Mengapa Barus?

SEJAK istilah “Islam Nusantara” bergulir di Tanah Air, nama Barus mulai disebut-sebut. Upaya penggiringan Barus

Mengapa Barus?
SERAMBINEWS.COM/ARIF RAMDAN
Seminar terkait Barus di Pascasarjana UIN Ar-Raniry 

Oleh Herman RN

SEJAK istilah “Islam Nusantara” bergulir di Tanah Air, nama Barus mulai disebut-sebut. Upaya penggiringan Barus sebagai titik nol Islam Nusantara pun berujung happy ending, setelah Presiden Joko Widodo (Jokowi) menandatangani Tugu Titik Nol di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara.

Hal ini merupakan sejarah baru bagi Indonesia bahkan dunia. Presiden Jokowi dianggap sangat berani mengambil risiko menetapkan kota tua Barus sebagai awal mula masuknya Islam ke Nusantara. Dimungkinkan Presiden Jokowi dapat penghargaan suatu hari kelak atas jasanya mendirikan tugu tersebut.

Sejak dulu,para sejarawandan sastrawan dari Asia dan Eropa sepakat bahwa awal mula Islam masuk Nusantara melalui Aceh. Sejumlah literatur menyebutkan Islam pertama masuk ke Aceh melalui Peureulak sekitar abad 6 Masehi, lalu berkembang ke Pasai sekitar abad 8 Masehi.

Mengutip Ameer Hamzah dalam sebuah catatannya, Aceh sebagai pintu gerbang Islam di Nusantara bukanlah sekadar hikayat atau mitos. Hal ini sudah pernah diseminarkan secara ilmiah 1963. Dalam seminar internasional yang digelar di Medan, Sumatera Utara, itu dihadiri para pakar dari penjuru dunia. Hasilnya disepakati bahwa Islam pertama masuk Nusantara melalui Peureulak, Aceh.

Seminar yang sama pernah digelar di Peureulak pada 1984. Hasilnya masih sama, Peureulak adalah pintu masuk Islam ke Nusantara. Ketika itu, ada wacana pembangunan sebuah tugu penanda masuknya Islam ke Peureulak. Namun, bicara tugu sama halnya dengan bicara batu. Perkara batu bagi masyarakat Aceh yang sangat kental dengan islam, akan selalu berbenturan dengan akidah. Ada anggapan bahwa batu sama dengan berhala sehingga bertentangan dengan islam. Anggapan yang mungkin terlalu berlebihan inilah yang membuat tugu tersebut tidak pernah jadi dibangun di Peureulak hingga sekarang.

Budayawan Nab Bahany mencatat ada tiga kali seminar tentang sejarah dan perkembangan Islam di Nusantara, pada 1967 di Medan, 1973 di Banda Aceh, dan 1980 di Kualasimpang, Aceh Tamiang. Hasilnya pun masih sama, pintu gerbang Islam di Nusantara adalah Aceh yang berpusat di tiga titik: Peureulak Aceh Timur, Pase Aceh Utara, dan Lamuri Aceh Besar.

Unsur politis
Tatkala Presiden Jokowi menetapkan kota tua Barus sebagai Titik Nol Islam Nusantara, banyak orang Aceh yang terusik. Ada dugaan bahwa hal itu sarat unsur politis. Tatkala Presiden Jokowi meminta jangan kaitkan agama dengan politik, mestinya beliau juga tidak mengambil kebijakan yang dapat mempengaruhi situasi politik di Tanah Air.

Publik di Aceh berhak curiga pada penetapan Barus sebagai titik nol Nusantara, sebab belum ada seminar resmi yang menyebutkan Barus sebagai awal mula Islam di Nusantara. Jika pun ada yang mengatakan bahwa Islam lebih mula masuk lewat Barus, itu adalah temuan terbaru beberapa penulis. Namun, hasil temuan tersebut belum diseminarkan secara Nasional, sebagaimana dulu ada seminar tentang Aceh sebagai awal mula masuknya Islam.

Aceh sebagai awal mula masuk Islam di Nusantara sudah dibuktikan dalam beberapa seminar internasional dan ditulis dalam banyak buku hasil penelitian. Publik berhak bertanya atas dasar apa titik nol Islam Nusantara diletakkan di Barus.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help