SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Membaca, Sebuah Kebahagiaan

FULLER Cut, tempat pangkas yang berada di Ypsilanti Michigan, Amerika Serikat, membuat terobosan

Membaca, Sebuah Kebahagiaan
Alesdemar / © Alessia De Marc / Flickr
Anak-anak di Mali, Afrika Barat tengah belajar membaca Al-Quran 

Oleh Ziad Farhad

Kemampuan membaca adalah sebuah rahmat, kegemaran membaca ; sebuah kebahagiaan. (Goenawan Mohammad)

FULLER Cut, tempat pangkas yang berada di Ypsilanti Michigan, Amerika Serikat, membuat terobosan. Setiap anak yang datang ke tempat pangkasnya diberikan diskon sebesar U$D 2. Syaratnya, sang anak harus membaca buku dengan suara yang lantang kepada pemangkasnya. Selanjutnya, sang pemangkas akan mengajukan sejumlah pertanyaan dari buku yang telah dibaca. Tersedia 75-100 judul buku dengan tema spesifik di tempat tersebut. Setiap buku memiliki visual yang menggambarkan hubungan baik antara Arifka dan Amerika. Apresiasi diberikan oleh orang tua. Promosi gratis pun menyebar dari mulut ke mulut. Sontak, sejumlah orang tua berbondong-bondong membawa anaknya ke tempat tersebut. Para orang tua merasa senang, Fuller Cut telah menanamkan nilai-nilai positif bagi anak mereka: membaca. Sedangkan bagi sang anak, U$D 2 tentunya sangat bernilai.

Fuller Cut berhasil menciptakan ide out of the box. Alex Fuller, pemilik tempat pangkas tersebut tak menyangka respon masyarakat melebih ekspektasinya. Menurutnya, apa yang dilakukannya merupakan bentuk tanggung jawab sosial barbershop terhadap komunitas masyarakat di tempatnya berada. Kejadian tersebut diberitakan oleh media Hufftingtonpost, pada 2016 lalu. Apa yang dilakukan oleh Fuller Cut sesungguhnya adalah promosi sederhana yang mampu memberikan manfaat secara bisnis sekaligus tanggung jawab sosial melalui sebuah media buku.

Literasi
Buku memang punya daya magis tersendiri. Bukan saja dapat membentuk cara berpikir (kognitif), tapi juga bisa membentuk kepekaan, imajinasi dan rasa (afektif). Membaca memberi peluang lebih luas untuk menstimulasi imajinasi. Tak heran, di sejumlah negara aktivitas membaca telah menjadi kegiatan rutin bagi setiap penduduknya.

Sayangnya, kondisi minat baca di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan studi Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity (CCSU) pada 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara yang disurvei soal minat membaca. Hanya lebih baik bila dibandingkan Botswana, negara yang berada di benua Afrika dengan jumlah penduduk sekitar 2 juta.

Sementara di kawasan ASEAN, Singapura menempati urutan pertama di peringkat 36, Malaysia peringkat 53, sedangakan peringkat Thailand berada persis di atas Indonesia, 59. Negeri jiran seperti Singapura yang miskin sumber daya alam kiranya patut menjadi contoh, meski populasinya tidak sepadat Indonesia, berkat tingkat literasi yang tinggi di kawasan ASEAN mampu menjadi negara maju berkat kualitas pendidikan dan pengetahuan yang mumpuni.

Dalam studi yang dilakukan CCSU, ada lima variabel yang menjadi indikator pemeringkatan tingkat literasi sebuah negara, yaitu surat kabar, perpustakaan, sistem pendidikan, hasil pendidikan, dan ketersediaan komputer.

Yang menarik pada variabel perpustakaan. Ternyata, fasilitas perpustakaan di Indonesia berada pada peringkat 36,5 (sama dengan peringkat Tunisia). Mengalahkan Singapura yag berada di peringkat 59, Selandia Baru (39), Korea Selatan (42), Belgia (46), bahkan Jerman (47).

John W Miller, leader dalam studi itu mengatakan, perilaku masyarakat terhadap dunia literasi menjadi faktor yang sangat penting dalam keberhasilan individu dan bangsa dalam bidang ekonomi dan bidang lain yang memang mensyaratkan basis pengetahuan yang memadai. Kecintaan terhadap dunia literasi juga menentukan masa depan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help