SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Agar Aceh tak Ketinggalan Kereta

KITA perlu waspada bahwa pada 2020 akan diberlakukan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

Agar Aceh tak Ketinggalan Kereta
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman berbincang dengan Ketua Umum PKB, Muhaimin Iskandar dalam Seminar Nasional tentang pertanian di Aula Fakultas Ekonomi, Unsyiah, Selasa (10/11/2015). Seminar bertema "Peluang dan tantangan petani Indonesia dalam menyambut Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) itu dihadiri oleh anggota DPR-RI dan DPD-RI. SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Adnan Ganto

KITA perlu waspada bahwa pada 2020 akan diberlakukan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). khusus sektor perbankan di sepuluh negara ASEAN. Selanjutnya, bank-bank di negara tersebut diperbolehkan membuka cabangnya di negara ASEAN, termasuk di Aceh yang merupakan bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Oleh karena itu, bank syariah sejak dini sudah harus merespons era ini dengan meningkatkan sumber daya insani yang lebih profesional serta modal yang lebih besar, mengingat MEA sektor perbankan tinggal tiga tahun lagi dari sekarang.

Apabila hal ini tidak diantisipasi sejak kini, maka bank-bank syariah, termasuk Bank Aceh Syariah (BAS), akan ketinggalan kereta. Yakinlah.

Menjadi model
BAS saat ini satu-satunya Bank Pembangunan Daerah dari 34 provinsi di Indonesia yang telah mengonversi sistemnya secara utuh menjadi bank syariah pada 16 September 2016. Oleh karena itu, BAS harus berupaya menjadi model untuk meningkatkan penyaluran dana ke sektor produktif dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Menurut laporan Bank Indonesia akhir tahun 2016, sektor UMKM relatif lebih tahan pada saat krisis ekonomi dan mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Oleh karena itu, agar tercipta keadilan sosial bagi rakyat Aceh, maka keadilan ekonomi harus dapat terwujud.

Kita tahu, ekonomi di Indonesia mayoritas masih berjalan konvensional dan dikuasai oleh orang-orang yang mampu secara finansial dan jumlahnya sedikit. Di sisi lain, modal merupakan faktor yang sangat penting bagi dunia perbankan demi memperbesar jangkauan lending (pinjaman)-nya dan untuk memperoleh untung yang lebih besar.

Untuk itu, struktur organisasi perbankan pun harus berorientasi pada pasar, sehingga unit operasional dan unit operasi lainnya berfungsi dengan baik dan produktif. Dalam kaitan ini, keberadaan Bank Pembangunan Aceh yang berstatus hukum sebagai Bank Aceh Syariah (BAS) harus mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara maksimal.

Komposisi pembiayaan BAS per 31 Desember 2016 tercatat Rp 12,205 triliun, di mana pembiayaan sektor konsumtif sebesar Rp 10,894 triliun dan sektor produktif Rp 1,314 triliun atau 10,7% dari total pinjaman yang diberikan.

Selama lima tahun terakhir, penambahan modal bank ini selalu ditingkatkan oleh pemegang saham. Kita harapkan pada 2017 pun, bank pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota ini akan tetap meningkatkan modalnya.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help