SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Citizen Reporter

Seriusnya Jepang dalam Pendidikan Karakter

KEDATANGAN saya ke Jepang kali ini atas undangan Prof Masayuki Fujii PhD, Direktur Sekolah Pascasarjana

Seriusnya Jepang dalam Pendidikan Karakter

OLEH PROF APRIDAR, Rektor Universitas Malikussaleh, Aceh Utara, melaporkan dari Jepang

KEDATANGAN saya ke Jepang kali ini atas undangan Prof Masayuki Fujii PhD, Direktur Sekolah Pascasarjana Kindai University, Jepang. Berangkat dari Bandara Sultan Iskandar Muda Aceh, dalam rombongan saya ada Herman Fitra (Dekan Fakultas Teknik), M Akmal (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik), serta Dahlan Abdullah (Kepala Perpustakaan) Universitas Malikussaleh. Kami tiba di Bandara Fukoka, Jepang dengan sambutan hangat tim Kindai University.

Selama 15-20 Mei 2017, saya dan rombongan berada di Jepang. Beberapa kesepakatan kami tanda tangani, meliputi penelitian bersama, pertukaran pelajar, pengembangan karakter, pengembangan perpustakaan digital, kerja sama kelautan, dan kajian sosial serta politik.

Selama kunjungan di Jepang, saya sempat diajak berkeliling oleh Prof Masayuki Fujii ke sejumlah sekolah dasar. Sistem pendidikan dasar di Jepang menekankan kreativitas dan kearifan lokal, dalam bahasa mereka disebut penguatan karakter anak. Mereka sangat serius soal ini.

Para murid tidak diberikan hafalan dan hitungan matematis yang begitu memusingkan kepala. Umumnya itu dilakukan pada kelas satu hingga kelas tiga sekolah dasar. Pada level ini, anak-anak dirangsang dengan permainan yang memiliki unsur edukasi, semisal bagaimana mengenal sejumlah flora dan fauna.

Pada level ini, mereka didorong agar terus berkreativitas dan saling welas asih, sehingga diharapkan ketika tumbuh mereka bukan bagian kelompok individualis dan mementingkan diri sendiri. Menekan ego anak untuk unggul sendiri terus dilakukan. Mereka diharapkan unggul secara berkelompok dalam tim yang solid. Maknanya, penekanan kerja sama menjadi poin penting.

Begitu juga program literasi, di mana murid sekolah dasar telah diajak menyukai perpustakaan. Mereka bisa nyaman berjam-jam duduk di perpustakaan sembari melihat aneka buku anak yang jumlahnya ratusan judul itu.

Dalam konteks teknologi, kepada mereka juga diperkenalkan kecanggihan teknologi sejak dini. Bukan sebatas konsumen, tapi juga diperkenalkan bagaimana suatu alat itu bisa berfungsi.

Jepang tampaknya ingin mewujudkan diri sebagai poros pengetahuan kawasan Asia dan dunia. Hal ini terlihat dari berbagai sektor mulai dari pendidikan hingga sepak bola. Tampaknya, mereka berupaya menarik kiblat pendidikan Eropa ke negeri tersebut.

Dalam konteks kerja sama dengan lintas universitas di Indonesia, Jepang menginginkan agar terjadi transfer ilmu antardosen dan mahasiswa, sehingga ke depan kerja sama itu berdampak akan ada dosen Jepang yang mengajar di Unimal. Hal serupa pernah kita lakukan dengan sejumlah kampus di Korea Selatan.

Salah satu fokus yang paling kami bincangkan, yaitu menghadirkan perpustakaan digital. Pembangunan sistem perpustakaan digital ini akan mendapat support dari Kindai dan diharapkan dapat diakses oleh publik di Tanah Air. Sehingga, perpustakaan Unimal ke depan dalam konteks digital bukan hanya bisa diakses oleh sivitas akademika saja, tapi juga diakses oleh publik dunia.

Kerja sama lintas kampus diyakini salah satu solusi berkontribusi untuk kedua negara yaitu Jepang dan Indonesia. Kerja sama jenis ini tentu dengan tujuan akhir, yaitu mewujudkan tri darma perguruan tinggi, di mana salah satu fokusnya adalah pengabdian pada masyarakat.

Untuk itu, pembangunan kampus tentu harus terus didukung oleh semua pihak, sehingga kampus bukan menjadi salah satu pemberi masalah pada lulusannya, tapi justru menjadi pemberi pencerahan melalui para lulusannya. Semoga Allah meridhai. Amin.

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help