SerambiIndonesia/

Spring Bed Terakhir untuk Bang Abil

MULYADI, ayah dari dua korban pembunuhan, masing-masing Fakhrurrazi alias Arul (12) dan Habibi Askhar

Spring Bed Terakhir untuk Bang Abil
ISTRI Mulyadi ditemani anaknya Zia Amelia duduk di depan springbed yang menjadi kado terakhir untuk almarhum Abil. 

MULYADI, ayah dari dua korban pembunuhan, masing-masing Fakhrurrazi alias Arul (12) dan Habibi Askhar Balihar alias Abil (8), kini terkenang-kenang pada permintaan anaknya, Zia Amelia (5) yang nama panggilannya Meme.

Adik bungsu Arul dan Abil itu pernah minta dibelikan tempat tidur untuk abangnya, Abil. “Meme minta ke saya untuk dibelikan spring bed. Tapi bukan untuknya. ‘Kalau ayah belikan spring bed baru, adek baru mau tidur sama Bang Abil’ begitu permintaan Meme ke saya,” ungkap Mulyadi saat ditemui Serambi di rumahnya, Kamis kemarin.

Selaku ayah, Mulyadi pun mengabulkan permintaan anaknya itu. Tiga hari berselang, barang yang diminta Meme pun dipesan secara khusus dari Medan, Sumatera Utara.

Ia mengaku tak punya firasat apa pun bahwa permintaan Meme itu justru merupakan ‘kado’ terakhir dari sang ayah untuk Abil, anak pertamanya dari istri kedua. Istri pertama Mulyadi (Evi) meninggal, lalu ia menikah lagi dan lahirlah Abil delapan tahun silam.

Setelah spring bed itu sampai ke rumah pada Senin (15/5) pagi, Mulyadi berpesan kepada Abil, agar cepat pulang. Namun, seusai magrib, sang anak minta pamit shalat Isya di mushala yang berada tak jauh dari rumah mereka.

“Saat Isya, saya duduk di warung Ogek. Tiba-tiba datang anak saya bersama temannya naik sepeda motor. Dia minta pamit tidur di rumah nenek. Karena tak ada firasat apa-apa, saya kasih izin. Saya bahkan bilang ke dia: Antar dulu kawannya. Lalu mereka pergi,” kata Mulyadi sambil menerima salaman dari sejumlah kerabat yang silih berganti melayat ke rumahnya.

Ternyata, itulah malam terakhir Mulyadi bertemu Abil. Esoknya, Abil bersama abangnya, Arul, ditemukan tak lagi bernyawa di rumah nenek mereka, Hj Wirnalis (62) di Desa Meudang Ara, Blangpidie. Sang nenek yang merupakan ibu mertua Mulyadi juga terbunuh.

“Nah, itulah kenangan terakhir saya tentang Abil,” kata Mulyadi lirih. Setelah kedua mayat anaknya dimandikan, Mulyadi mengaku tak sanggup menggambarkan betapa kejamnya sang pelaku, karena di bagian tubuh korban ada luka sayat yang cukup parah. Di perut, bahu, bahkan rahang sang anak.

“Biadab sekali pelakunya,” kata Mulyadi dengan mata berkaca-kaca. Penguburan ketiga korban pada Rabu (17/5) malam sempat tertunda beberapa jam. Awalnya akan dikubur sekira pukul 21.00 WIB di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Lampoh Drien, Desa Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie. Tapi penguburan baru bisa dilaksanakan ketika Adel, anak pertama Mulyadi, tiba dari Banda Aceh sekira pukul 21.30 WIB.

“Lama di jalan, karena sampai di Meulaboh hujan lebat, makanya orang itu bawa mobilnya tidak bisa kencang,” kata Mulyadi. Setelah tiba di Abdya, Adel pun lebih dulu singgah di Keude Siblah, tempat sang nenek (Hj Wirnalis) dimandikan.

Setelah itu, Adel didampingi sanak saudara diantar ke rumahnya. Setiba anak sulungnya dari sang istri pertama (almarhumah Evi) tiba, suasana rumah dua lantai itu pun sontak berubah. Tangis histeris dan ratapan pecah, mengiringi kepergian dua anak Mulyadi dan ibu mertuanya.

Setelah tangis berangsur reda, prosesi pemakaman pun dimulai. Diangkut dengan mobil ambulans, dua jasad abang adik (satu ayah lain ibu) itu pun dikuburkan satu liang. Ukuran makamnya, 2 x 2 meter.

“Iya, mereka dikuburkan satu liang, neneknya di liang yang lain,” kata Mulyadi bernada lirih. Ia berharap polisi bisa meringkus dengan cepat pelakunya karena ia ingin sekali mengetahui apa motif yang menyebabkan dua anak dan ibu mertuanya dibunuh secara mengenaskan. (rahmat syahputra)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help