SerambiIndonesia/

Mengikat Diri di Papan Perahu, Pasrah Teringat Anak Istri

Di tengah situasi panik dan terpaan badai hebat, ia mengikat diri ke perahu sambil mendayung menggunakan

Mengikat Diri di Papan Perahu, Pasrah Teringat Anak Istri
Nelayan asal Pulau Banyak, Aceh Singkil, Bibin, dievakuasi dari perahunya yang tenggelam, oleh Tim Garda Batas Aceh, sekitar 3 mil dari Pulau Palambak, Rabu (18/5) 

* Kisah Bibin Enam Jam Terseret Ombak di Laut Lepas

Di tengah situasi panik dan terpaan badai hebat, ia mengikat diri ke perahu sambil mendayung menggunakan bilahan papan perahu yang pecah. SUPRIN Zebua menangis sesenggukan saat tim Garda Batas Aceh menariknya ke atas speedboat dari amukan ombak, Rabu (17/5) sekitar pukul 15.30 WIB.

Tubuh nelayan itu menggigil kedinginan dan lemas setelah enam jam lebih terseret dalam gulungan badai di atas perahu kayu yang ia tumpangi nyaris tenggelam. Ia baru pulih setelah tim Garda Batas Aceh memberinya beberapa suap nasi.

Bibin panggilan sehari-hari ayah dua anak itu, tak menyangka bisa selamat setelah mengalami kejadian yang nyaris merenggut nyawanya. “Saya hanya bisa pasrah, sambil mengikat diri ke perahu,” kata lelaki itu terbata-bata. Bibim mengisahkan hari itu sekitar pukul 10.00 WIB, ia berusaha berlindung ke Pulau Rangit dari terpaan badai. Namun sekitar satu mil menuju daratan ombak besar menggulungnya hingga mesin perahu mati dan dipenuhi air. Di tengah situasi panik dan terpaan badai hebat, ia mengikat diri ke perahu sambil mendayung menggunakan bilahan papan perahu yang pecah.

“Tapi saya tidak sanggup lagi dan kemudian terseret arus. Di perahu aku teringat anak dan istri, mereka akan kehilangan aku selamanya,” ujar Bibin sambil menangis haru. Tim Garda Batas Aceh atau Tim Penegasan Batas Aceh, dari Biro Pemerintahan Aceh, Topografi Kodam IM dan Pemkab Aceh Singkil yang tidak sengaja melintas kemudian menemukan Bibin dalam kondisi darurat sekitar 3 mil laut Pulau Palambak, Pulau Banyak. Saat itu, speedboat Lumba-lumba yang membawa rombongan termasuk Serambi di dalamnya, hendak berangkat ke Singkil setelah berlindung dari kecamuk ombak di Pulau Palambak.

Baru berlayar sekitar 30 menit, nakhoda speedboat Lumba-lumba, Anwar yang merupakan relawan RAPI Aceh Singkil, Jz 01 RKCK melihat Bibin melambaikan kain warna biru minta pertolongan. “Aku kira jaring, rupanya nelayan tenggelam,” kata Raja Keoang Ciput panggilan Anwar. Setelah mendekat, Asisten I Setdakab Aceh Singkil, Mohd Ichsan, yang berada bersama rombongan memimpin proses penyelamatan.

Korban berhasil dinaikan ke atas speedboat setelah ditarik Khairul, salah satu tim penyelamat yang mampu berenang walau ombak berkecamuk hebat. Selanjutnya korban dan perahunya diseret ke Pulau Palambak, sambil menunggu bantuan Satgas SAR Kepulauan Banyak, yang dikontak melalui radio.

Sekitar pukul 18.30 keluarga korban, disusul tim gabungan Satgas SAR Kepulauan Banyak, datang menjemput. Sementara Tim Garda Batas Aceh, menginap di gubuk yang ada di Pulau Palambak, lantaran cuaca di laut terus memburuk menjelang malam tiba.

Pada Kamis (18/5) Tim Penegas Batas Aceh, berhasil kembali ke Singkil, setelah menempuh perjalanan menegangkan akibat terus menerus di hentak ombak besar serta angin kencang. Sehari sebelumnya tim ini juga sempat terjebak di laut sepanjang malam, karena tali kemudi speedboat putus.(dede rosadi)

* video-video lainnya silahkan kunjungi www.serambitv.com

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help