SerambiIndonesia/

Tafakur

Mengabaikan Janji

Janji seringkali menjadi alat untuk mencapai tujuan. Seperti janji yang dikonstruksi para politisi yang ingin

Mengabaikan Janji

Oleh Jarjani Usman

“Dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggung jawabannya” (QS. Al-Isra’: 34).

Janji seringkali menjadi alat untuk mencapai tujuan. Seperti janji yang dikonstruksi para politisi yang ingin memenangkan suara rakyat. Namun hingga masanya habis, tak semua politisi peduli dengan janji-janjinya. Bukan hanya politisi, kita orang biasa juga banyak menebar janji baik kepada manusia maupun kepada Allah. Seperti politisi, sebahagian kita juga lalai dengan janji-janji itu, sehingga waktu pelaksanaannya sudah habis. Padahal tak mengabaikan janji sungguh besar dampaknya.

Yang jelas, siapapun yang mengabaikan janji akan dilaknat. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Siapa yang tidak menepati janji seorang muslim, maka dia mendapat laknat Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya taubat dan tebusan” (HR. Bukhari & Muslim). Orang-orang yang bertaqwa akan sangat takut mendapat cap buruk seperti ini, sehingga tak akan berusaha memenuhi janji-janjinya.

Selanjutnya, orang yang tidak menepati janji juga dicap sebagai pengkhianat atau orang munafik. “Empat (perilaku) kalau seseorang ada padanya, maka ia termasuk benar-benar orang munafik. Kalau berbicara berdusta; jika berjanji tak menepati; jika bersumpah berkhianat; jika bertikai, melampau batas. Barangsiapa yang terdapat salah satu dari sifat tersebut, maka ia memiliki sifat munafik sampai ia meninggalkannya” (HR. Bukhari & Muslim).

Karena itu, bila berjanji sepatutnya yang sanggup dilakukan, sehingga akan mampu memenuhinya. Yang juga penting adalah meminta bantuan Allah agar mampu memenuhi janji-janji kepada Allah dan kepada sesama manusia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help