Opini

Menuju Ramadhan Produktif

ALHAMDULILLAH, kita telah bertemu lagi dengan Ramadhan tahun ini. Fenomena yang sering terjadi di masyarakat adalah banyak yang keluar dari tuntunan

Menuju Ramadhan Produktif
google/net
Marhaban Ya Ramadhan 

Persiapan dana bisa dikatagorikan dalam persiapan mental. Karena mentalitas manusia secara umum adalah suka menerima tetapi enggan memberi. Persiapan dana bisa diagendakan dengan baik karena Ramadhan adalah bulan dilipat-gandakannya pahala. Keluarkan infaq dan shadaqah sebanyak-banyaknya dengan membantu fakir miskin, memberikan makan orang berbuka puasa dan sebagainya. Ibnu Abbas ra meriwayatkan, “Nabi SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Produktivitas amal
Persiapan fisik untuk menjalankan ibadah puasa itu penting. Kalau fisik lemah tentunya amal ibadah akan terganggu. Padahal kita sudah mempersiapkan target yang banyak untuk Ramadhan yang akan datang, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, shalat sunnat tarawih, rawatib, dhuha dan sebagainya. Meskipun orang yang sakit diperbolehkan untuk mengganti puasanya dibulan lain, alangkah baiknya kalau kita berdo’a supaya jangan sakit di bulan Ramadhan. Disamping itu kita juga harus menjalani rutinitas kerja sebagaimana biasanya.Oleh karena itu, Ramadhan bukan halangan untuk produktifitas kerja dan ibadah.

Mulailah dengan niat yang baik supaya Ramadhan kali ini jangan sampai kita lewati dengan banyak makan dan banyak tidur. Mempersiapkan Ramadhan dengan memborong makanan dan minuman sehingga bisa balas dendam makan sebanyak-banyaknya ketika berbuka dan sahur tidaklah dianjurkan. Aturlah waktu dengan sebaik-baiknya dengan menjaga pola makan, waktu istirahat, dan aktivitas yang seimbang. Selama ini kita selalu berdalih dengan hadis, Naumus shaim ‘ibadah, wa shumtuhu tasbih, wa ‘amaluhu mudha’af, wa du’auhu mustajab wa dzanbuhu maghfur (Tidurnya orang berpuasa itu ibadah, diamnya tasbih, aktifitasnya digandakan (pahalanya), doanya di-ijabah, dosanya diampuni) (HR. Al-Baihaqi).

Derajat hadis ini menurut Syaikh Al-Albani adalah lemah (dha’if) (Silsilah Al-Dha’ifah, No.4696). Ini dapat melegitimasi supaya orang yang berpuasa dapat bermalas-malasan dalam bulan Ramadhan. Namun suatu perbuatan bisa bernilai ibadah kalau niatnya benar. Menurut Imam An-Nawawi, “Sesungguhnya perbuatan mubah (seperti makan, tidur dan berhubungan suami isteri), jika dimaksudkan dengannya untuk mengharapkan wajah Allah Ta’ala, maka dia akan berubah menjadi suatu ketaatan dan akan mendapatkan balasan.” (Syarh Muslim, 6/16).

Jadi tidur yang bernilai ibadah itu yang bagaimana? Ibnu Rajab menerangkan, “Jika makan dan minum diniatkan untuk menguatkan badan agar kuat ketika melaksanakan shalat dan puasa, maka seperti inilah yang akan bernilai pahala. Sebagaimana pula apabila seseorang berniat dengan tidurnya di malam dan siang harinya agar kuat dalam beramal, maka tidur seperti ini bernilai ibadah.” (Latha’if al-Ma’arif, 279-280). Maka setiap perbuatan itu tergantung niatnya.

Ketika kita sudah terbiasa melakukan hal-hal yang baik, maka InSya Allah akan terbiasa pula di bulan-bulan yang lain. Inilah sebenarnya target utama Ramadhan, yaitu sebagai bulan latihan. Dengan berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan di saat fisik kita lemah tanpa makanan dan minuman, kerja kita tetap produktif. Jadi seharusnya ada peningkatan amal di luar Ramadhan ketika kita tidak berpuasa.

Akhirnya, persiapan-persiapan tersebut adalah bukti nyata bahwa Ramadhan adalah bulan yang dinanti-nantikan oleh semua Muslim. Sekarang adalah bagaimana melaksanakan ibadah di dalamnya dengan sebaik-baiknya dan menjaganya tetap produktif. Sambutlah Ramadhan ini dengan dada yang lapang dan persiapan yang matang. Jangan sampai Ramadhan sudah hampir berlalu, baru kita sibuk mempersiapkan diri mengejar ketertinggalan yang terlampaui. Masih ada waktu sebentar lagi, maka persiapkan diri dengan teliti. Marhaban ya Ramadhan.

Ahmad Faizuddin, kandidat Ph.D bidang Educational Management and Leadership di Kulliyyah of Education, International Islamic University Malaysia. Email: akhi.faizuddin@gmail.com

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help