Ramadhan Mubarak

Komunikasi yang Membahagiakan

RAMADHAN mengajarkan kita konsep hidup bahagia di dunia dan di akhirat kelak

Komunikasi yang Membahagiakan

Oleh Marwan Nusuf Ilyas, B.HSc, MA Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian Aceh Email: marwann71@gmail.com

RAMADHAN mengajarkan kita konsep hidup bahagia di dunia dan di akhirat kelak. Bukan saja menahan diri dari lapar dan haus mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, namun hal-hal lain yang dapat membatalkan atau mengurangi pahala puasa harus tetap dijaga. Termasuk dalam aktivitas komunikasi baik lisan maupun tulisan.

Satu faktor penting yang berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup manusia, baik sebagai individu, kelompok, maupun bangsa adalah komunikasi. Dalam Alquran sangat mudah ditemukan pedoman konkret bagaimana Allah berkomunikasi dengan hamba-Nya melalui wahyu.

Nabi Muhammad saw juga telah menunjukkan tata cara efektif dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, keluarga, sahabat, dan umatnya. Tata cara komunikasi Rasulullah saw dapat dilihat dalam kumpulan hadis-hadis yang menjadi penguat penjelasan Alquran sebagai petunjuk bagi kehidupan umat manusia.

Kalau dilihat dalam berbagai referensi yang ada kaitannya dengan komunikasi dalam Islam (Islamic Communications), paling kurang ada enam perkataan (qaulan) yang dapat digolongkan sebagai prinsip komunikasi dalam Islam: Pertama, qaulan sadida, yaitu ucapan atau perkataan yang benar, baik substansi maupun tata bahasanya.

Allah Swt berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisa:9);

Kedua, qaulan baligha. Kata baligh di sini dapat diartikan sebagai fasih, jelas, dan tepat sehingga berbekas. Dengan kata lain, qaulan baligha dapat dipahami sebagai kata-kata yang komunikatif dan mudah dipahami. Allah Swt berfirman: Mereka itu adalah orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka, karena itu berpalinglah kamu dari mereka dan berilah mereka pelajaran dan katakanlah kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An-Nisa 63);

Ketiga, qaulan ma’rufa. Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dengar kata ma’ruf, yang dari segi bahasa berarti baik. Ucapan yang ma’ruf adalah ucapan yang ada manfaat dan berimbas kepada kebaikan. Allah Swt berfirman, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya harta (mereka yang ada dalam kekuasaan) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan, berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (QS. An-Nisa: 5).

Keempat, qaulan karima. Kata karim bermakna mulia, sama halnya dengan kata syarif. Qaulan karima adalah ucapan yang mulia dan mengandung makna saling menghormati. Dalam etika komunikasi orang Aceh, ada sebutan gata untuk yang lebih muda dan sebutan droeneuh untuk yang lebih tua atau sebaya. Sebutan-sebutan ini mengandung nilai kemuliaan dan rasa saling menghormati dibandingkan dengan sebutan kah (Anda/kamu) walaupun usianya lebih muda.

Dalam bahasa Aceh ada lagi sebutan untuk diri sendiri yang tersirat kesan beretika, yaitu ulon, ulon tuan (saya/aku), dan sebutan pasaran yang terkesan kurang beretika, yaitu droekuh, kee (saya/aku).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help