KBRI Santuni Warga Aceh yang Ditahan di Port Klang Selangor Malaysia

Sebanyak 68 Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk 43 orang warga Aceh yang ditahan sejak 2 Mei

KBRI Santuni Warga Aceh yang Ditahan di Port Klang Selangor Malaysia
ISTIMEWA
Sebanyak 68 Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk 43 orang warga Aceh yang ditahan sejak 2 Mei lalu di Port Klang, Selangor, Malaysia 

* Semua dalam Keadaan Sehat

BANDA ACEH - Sebanyak 68 Warga Negara Indonesia (WNI), termasuk 43 orang warga Aceh yang ditahan sejak 2 Mei lalu di Port Klang, Selangor, Malaysia, kini semuanya dalam keadaan sehat. Seiring dengan masuknya bulan Ramadhan, mereka juga mendapat santunan berupa uang tunai dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur.

“Terakhir kami jenguk mereka pada saat sudah di Penjara Sungai Buloh dan Penjara Kajang. Kondisi mereka secara umum dalam keadaan sehat,” kata First Secretary/Consular Affair KBRI Malaysia, Dahlia Kusuma Dewi, kepada Serambi, Selasa (30/5) petang.

Menurut Dahlia, belum ada perkembangan yang cukup berarti di awal pekan ini menyangkut nasib para WNI yang sedang ditahan itu. “Tapi saat mengunjungi mereka, kami juga sudah berikan uang santunan. Insya Allah besok pagi (Rabu, 31 Mei -red) kami akan menemui lima orang yang berada di depo Imigrasi Semenyih. Semoga mereka bisa segera dipulangkan,” kata Dahlia.

Ditanya lebih lanjut berapa nilai uang santunan yang dibagikan itu, Dahlia tak berkenan menyebutkannya. Ia bahkan tak lagi merespons WA Serambi saat bertanya apakah uang tersebut diberikan dalam bentuk ringgit Malaysia atau justru rupiah.

Berdasarkan data dari KBRI, dari 68 WNI yang ditahan karena meninggalkan perairan Malaysia dari jalur tak resmi itu, 43 orang merupakan warga Aceh. Rinciannya, 35 laki-laki ditahan di Penjara Sungai Buloh karena menjalani hukuman selama tiga bulan. Sedangkan lima perempuan yang juga sudah divonis tiga bulan kini menjalani hukuman di Penjara Kajang.

Tiga orang lainnya, terdiri atas dua wanita dan seorang bayi perempuan berada di depo Imigrasi Semenyih. Mereka adalah Syamsiah Hasan (67) asal Beureunuen, Pidie, Tia Wati (25) asal Ujong Pacu, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe bersama bayinya bernama Tiara Salsabila yang berusia delapan bulan.

Ketiga perempuan ini--bersama seorang wanita Minang dan bayinya--sudah mendapat pengampunan dari majelis hakim Pengadilan Sipil di Sepang, Selangor, karena alasan kemanusiaan. Satu orang karena sudah uzur, dua lainnya karena beranak kecil. Namun, hingga kemarin mereka belum dideportasi oleh Imigrasi Malaysia ke Indonesia.

Sejauh ini, Dahlia mengaku belum mendapatkan data lengkap tentang dari kabupaten/kota mana saja ke-43 warga Aceh yang ditahan itu berasal.

Sebelumnya, Kepala Dinas Sosial Aceh, Drs Alhudri MM mengatakan, mereka yang ditahan di Penjara Sungai Buloh maupun Penjara Kajang semua dalam kondisi sehat. “Kita sudah sampaikan permohonan melalui KBRI agar mereka mendapatkan pengampunan, namun semuanya perlu proses. Kita tak bisa memaksakan kehendak terhadap aturan yang berlaku di negara orang, namun kita tidak tinggal diam,” demikian Alhudri.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sebuah kapal sayur yang mengangkut 68 orang--empat di antaranya awak boat--ditahan oleh Agensi Penguatkuasaan Maritim Malaysia (APMM) pada 2 Mei 2017 pagi di perairan Selangor. Mereka ditahan karena berangkat bukan dari laluan yang diwartakan (jalur yang ditetapkan) Pemerintah Malaysia dan ketika diperiksa mereka tak bisa menunjukkan dokumen keimigrasian yang sah. (dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved