Kisah Meeno, Transgender Pakistan yang Dipukuli Hingga Meninggal di Arab Saudi

Namun pada tanggal 26 Februari, ketika kepolisian Saudi menggerebek sebuah pesta transgender di Riyadh,

Kisah Meeno, Transgender Pakistan yang Dipukuli Hingga Meninggal di Arab Saudi
family
Mohammad Amin, atau Meeno, meninggal setelah ditangkap dalam sebuah pesta di Arab Saudi. 

SERAMBINEWS.COM - Mohammad Amin adalah seorang pria yang sudah berkeluarga, ia memiliki seorang istri, empat orang putra dan lima putri.

Namun pada tanggal 26 Februari, ketika kepolisian Saudi menggerebek sebuah pesta transgender di Riyadh, ia ditemukan tengah mengenakan pakaian perempuan, perhiasan dan riasan wajah. Di kalangan teman-temannya ia dikenal dengan nama Meeno Baji - sebuah nama panggilan untuk kakak perempuan dikutip dari bbc.com.

Mengenakan pakaian lintas jenis tidak diperbolehkan di Arab Saudi, jadi Mohammad dan 34 orang lainnya ditangkap dan dijebloskan ke penjara Azizia.

Mohammad meninggal pada malam itu. Para aktivis dari Pakistan mengatakan bahwa ia dipukuli oleh polisi dengan tongkat dan selang air, yang menyebabkan penyakit jantungnya yang sudah kronis semakin memburuk.

Pihak berwenang Saudi langsung menyanggah tudingan penganiayaan tersebut, dengan mengatakan bahwa ia terkena serangan jantung dalam tahanan. Para pejabat Pakistan mengamininya dengan menuduhnya terlibat dalam 'kegiatan ilegal dan tidak bermoral.'

Tapi keluarga Meeno, teman-teman dan beberapa pegiat hak transgender memiliki pandangan yang berbeda tentang laki-laki tersebut, dan kejadian malam itu di Riyadh.

Siapa itu Meeno?
Meeno terlahir dengan nama Mohammad Amin di kota Barikot di Swat pada tahun 1957, dari seorang keluarga pebisnis. Ia memiliki tiga saudara laki-laki dan empat saudara perempuan.

Sesudah dewasa, ia menjadi seorang penjahit pakaian perempuan dan membuka toko pakaian di kota Barikot.

Tapi tidak seperti kebanyakan perempuan transgender dari kawasan pedalaman Pakistan yang mencari identitas dirinya dengan meninggalkan rumah, Mohammad justru bertahan dengan keluarganya.

Ia menikahi seorang perempuan dari sukunya pada pertengahan 1980-an dan sepuluh tahun kemudian ia pergi ke Arab Saudi dengan visa kerja sebagai penjahit pakaian perempuan - pekerjaan yang ia lakoni selama hidupnya.

Halaman
1234
Editor: Fatimah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved