Ramadhan Mubarak

Momentum Meningkatkan Kepedulian

ALHAMDULILLAH, Allah Swt masih memberikan umur kepada kita, sehingga keberkahan dan keindahan Ramadhan

Momentum Meningkatkan Kepedulian
Drs H Daud Pakeh 

Oleh sebab itu, marilah menyisihkan kelebihan yang kita miliki untuk meringankan beban saudara-saudara kita yang kurang mampu. Komitmen menyantuni yatim piatu dan fakir miskin adalah sebuah keharusan, serta harus dijalankan oleh setiap mukmin sebagai manivestasi puasa yang dilaksanakannya. Dalam Alquran, tepatnya dalam surat Al-Maun, Allah Swt menyebut sebagai pendusta agama bagi siapa saja yang tidak peduli dengan anak-anak yatim dan fakir miskin.

Meningkatnya tradisi menyantuni yatim piatu dan fakir miskin menjelang dan selama Ramadhan, adalah sebuah kebaikan yang perlu dipertahankan. Namun, perlu diingat bahwa yatim piatu dan fakir miskin tidak hanya hidup dalam bulan Ramadhan saja, mereka juga menjalani kehidupan pada sebelas bulan lainnya. Sejatinya, kepedulian kita tidak hanya terpaut waktu (hanya dalam Ramadhan) tetapi juga dalam bulan-bulan lainnya.

Allah akan memberikan pertolongan kepada kita, jika kita masih menebar kebaikan dalam memberikan pertolongan kepada saudara-saudara kita yang membutuhkannya. “Barang siapa melepaskan dari seorang muslim satu kesusahan dari sebagian kesusahan dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya dari sebagian kesusahan hari kiamat; dan barang siapa memberi kelonggaran dari orang yang susah, niscaya Allah akan memberik kelonggaran baginya di dunia dan akhirat; Allah akan menolong seorang hambanya selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (dari Abu Hurairah dikeluarkan oleh Imam Muslim).

Ramadhan dan puasa, adalah momentum meningkatkan kepedulian kita, peduli dengan nasib kita di akhirat serta peduli dengan nasib saudara-saudara kita di dunia yang ditimpa kemalangan dan kesusahan. Tidak peduli Ramadhan dengan mengabaikan memperbanyak amal di dalamnya, sama halnya dengan menjatuhkan diri dalam kebinasaan dan kehancuran.

Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah al-Musytaqien (taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu) menyatakan bahwa kenikmatan yang dicela adalah kenikmatan yang menghalagi manusia menggapai kenikmatan yang lebih besar lagi (abadi dan kekal).

Ramadhan adalah nikmat terindah, kepedulian kita untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, serta kepedulian kita kepada sesama akan mendorong kita meraih kenikmatan yang lebih besar, yaitu bertemu dengan Allah pada hari kiamat. Mari Peduli!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved