Ramadhan Mubarak

Puasa Melahirkan Pribadi Berkualitas

ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah yang kembali menghadirkan bulan suci Ramadhan ke tengah-tengah umat

Puasa Melahirkan Pribadi Berkualitas
Bachtiar Akob

Oleh Dr. Bachtiar Akob, M.Pd. Rektor Universitas Samudra. Email: bachtiarakob@gmail.com

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertaqwa. (QS. al-Baqarah: 183)

ALHAMDULILLAH, segala puji bagi Allah yang kembali menghadirkan bulan suci Ramadhan ke tengah-tengah umat, bulan untuk melatih kemampuan orang-orang beriman untuk mengendalikan diri dari hal-hal yang dilarang dan dapat membatalkan puasa. Di bulan ini dilarang makan-minum, melakukan hubungan intim suami isteri pada siang hari, perilaku yang selama ini dibolehkan. Lebih jauh lagi selama melaksanakan ibadah puasa juga dilarang keras melakukan perbuatan tercela seperti mengumpat, mencaci-maki, menggossip, berdusta dan sebagainya. Nabi saw bersabda, “Berapa banyaknya orang yang berpuasa, tetapi mereka tidak memperoleh hasil apapun dari puasanya, kecuali lapar dan haus belaka.” (HR. Imam Ahmad).

Larangan-larangan tersebut, baik yang sifatnya temporer maupun permanen, mendidik manusia untuk mampu mengendalikan diri dengan landasan iman kepada Allah Swt, yang berimplikasi pada penyempurnaan kepribadian dalam menghadapi kehidupan meskipun nantinya ketika di luar Ramadhan.

Pada dasarnya kemampuan melaksanakan suatu perintah agama tidaklah tergantung pada kondisi fisik seseorang, tetapi lebih didominasi oleh kemampuan psikis (kejiwaan). Kemampuan psikis ini sangat dipengaruhi oleh keimanan, maka mereka yang dipanggil untuk melaksanakan ibadah puasa adalah orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang berimanlah yang diyakini mampu melaksanakan ibadah yang penuh rahasia ini.

Disebut ibadah rahasia karena tidak seorangpun yang mengetahui apakah seseorang itu berpuasa atau tidak kecuali yang bersangkutan sendiri dengan penciptanya. Inilah uniknya ibadah puasa. Tanpa iman yang kuat dan keikhlasan yang tinggi seseorang tidak akan sanggup berpuasa, ia bisa saja berbuka pada saat sendirian ketika yakin tidak seorangpun yang melihatnya. Tetapi mereka yang beriman tetap akan melaksanakan perintah Allah dengan penuh keikhlasan, meskipun tidak seorang manusia pun menyaksikannya.

Pengaruh keimanan membuatnya mampu mengendalikan diri untuk tidak berbuka meskipun memiliki banyak peluang untuk itu, atau kondisi-kondisi tertentu yang dihadapinya yang menyulitkannya. Orang beriman yakin sekali akan firman Allah, “Apakah kamu tidak perhatikan, bahwa Allah mengetahui apapun yang di bumi dan yang ada di langit. Tidak ada tiga orang yang berbicara rahasia, kecuali Ia menjadi yang ke empat, atau lima orang yang berbicara rahasia, kecuali Ia (Allah) menjadi yang keenam...” (QS. al-Mujadalah: 7).

Keimanan ternyata memiliki pengaruh yang kuat bagi manusia dalam menunaikan kewajibannya terhadap perintah Allah.

Sebaliknya ketidakmampuan mengendalikan diri menyebabkan seseorang bisa mengalami kejatuhan secara kejiwaan dan spiritual seperti kehilangan nama baik, prestisi dan kepercayaan dalam pandangan manusia, juga memperoleh hukuman dari Tuhan. Dalam Alquran (di antaranya Surat Thaha: 115-127) Allah Swt telah menceritakan bagaimana Nabi Adam as dan isterinya, mengalami kejatuhan setelah memakan buah larangan (al-khuld), mereka berdua dikeluarkan dari surga dan ditempatkan oleh Allah di bumi sebagai bentuk hukuman.

Mengendalikan diri
Peristiwa kejatuhan nenek moyang manusia ini yang seharusnya menjadi pelajaran untuk yang hidup di belakang beliau, ternyata terus diikuti oleh kejatuhan-kejatuhan berikutnya dari anak cucunya akibat ketidakmampuan mengendalikan diri. Ibadah puasa yang dilaksanakan sekarang ini haruslah menjadi momen penting untuk mengokohkan kemampuan kita dalam mengendalikan diri dari berbagai rongrongan dan godaan kehidupan. Sehingga keberadaan umat Islam bukan saja bermanfaat bagi mereka sendiri, tetapi juga menjadi teladan umat agama lain yang ada di sekelilingnya.

Kemampuan mengendalikan diri sangat penting dan berpengaruh bagi kehidupan seseorang. Ia dapat muncul menjadi seorang intelektual yang memiliki nalar yang tajam dan jernih, lalu terus berusaha untuk memperbaiki kelemahan dirinya dan membangun lingkungannya. Ia juga bisa berwujud menjadi pribadi yang istiqamah (konsisten) dan amanah, penuh tanggung jawab dan juga sabar, mampu menyelesaikan permasalahan yang melilitnya tanpa berkeluh kesah. Intinya manusia yang mampu mengendalikan diri adalah manusia yang berkarakter dan berkualitas. Pribadi yang berkualitas ini dibutuhkan sepanjang zaman, karena di samping bermanfaat untuk dirinya sendiri juga untuk masyarakat sekelilingnya.

Menurut Fahmy Lukman (2014), kualitas adalah derajat baik-buruknya sesuatu, dan sebagai istilah kata ini dapat dilekatkan pada dimensi apapun, mulai dari yang nyata sampai sesuatu yang abstrak. Ketika kualitas diletakkan pada manusia, jadilah ia suatu pribadi yang menarik dengan sifat-sifat utama dari kemanusianya. Kalau intelektual, maka ia menjadi intelektual plus yang dalam bahasa agama disebut ulul albab. Allah menyatakan, ulul albab itu adalah mereka yang mampu mengambil pelajaran dari setiap peristiwa penting dan membaca tanda-tanda zaman, sehingga bukan saja ia tidak tergilas oleh zaman bahkan mampu mempengaruhi kondisi pada masa zamannya (QS. Ali Imran: 190-191).

Pribadi yang berkualitas adalah juga pribadi yang produktif baik dalam memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, juga mampu membangkitkan spirit masyarakatnya dari statis menjadi dinamis, kreatif dan inovatif dalam beraktivitas. Dengan demikian, dari waktu ke waktu berbagai tantangan yang muncul dapat ditanggulangi, sementara kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat juga terus dapat ditingkatkan. Wallahu a’lam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved