SMK Penerbangan Blang Bintang belum Layak Jadi Boarding School

PANITIA Khusus (Pansus) I DPRA menilai kompleks sekolah SMK Penerbangan yang terdapat di Blang Bintang

SMK Penerbangan Blang Bintang belum Layak Jadi Boarding School
WAKIL Ketua Pansus I DPRA, Abdurrahman Ahmad didampingi anggota, Musannif sedang melihat plafon gedung baru SMK Penerbangan yang dibangun tahun 2016 dengan dana Rp 3,2 miliar sudah jebol, Senin (5/6). 

PANITIA Khusus (Pansus) I DPRA menilai kompleks sekolah SMK Penerbangan yang terdapat di Blang Bintang belum layak dijadikan sebagai sekolah berasrama atau boarding school. Alasannya, disamping bangunan gedungnya kurang baik, fasilitas yang tersedia di sekolah itu juga sangat minim.

Ketua Pansus I DPRA, H T Ibrahim ST, MM kepada wartawan saat meninjau lokasi sekolah tersebut, Senin (5/6) mengatakan, sudah tiga tahun berturut-turut Pansus I DPRA berkunjung ke kompleks SMK Penerbangan Blang Bintang. “Suasana lingkungannya belum mencerminkan sebuah tempat pendidikan yang memberikan kenyamanan bagi siswanya. Kondisinya malah lebih buruk,” kata Ibrahim.

Ia pun mengungkapkan keheranannya kepada pihak Dinas Pendidikan Aceh memaksakan kompleks SMK itu harus dihuni dengan fasilitas yang masih sangat minim.

Berdasarkan amatan tim pansus, fasilitas gedung sekolah kurang bagus, atap dan plafon banyak yang bocor, dindingnya retak-retak, serta catnya berkualitas rendah. “Kalau kita bersandar di dinding, cat tembok didingnya melekat ke tangan dan baju, kemudian rontok,” ungkap Ibrahim.

Kecuali itu, banyak toilet sekolah yang baru dibangun tidak berfungsi. Buktinya, pada tahun 2016 lalu, ada enam ruang belajar baru dibangun dua lantai dengan pagu anggaran Rp 3,2 miliar. Kondisi bangunannya hampir sama dengan tiga unit gedung ruang belajar yang telah dibangun sebelumnya. Atap dan plafon bocor dan tiang balok dan dindingnya banyak yang retak-retak.

Keprihatinan terhadap kondisi sekolah tersebut juga disampaikan Drs Sulaiman Abda MSi, Abdurrahman Ahmad, dan Ghufran Zainal Abidin. Ketiga anggota Pansus I ini mengatakan ruang belajar maupun lingkungan sekolah ini sama sekali tidak terlihat bersih dan indah. Kotoran sapi dan rumput terlihat di beberapa sudut halaman sekolah.

Selain itu, asrama siswa dan siswi berada jauh di belakang gedung belajar. Kondisinya juga belum layak huni dan banyak kotoran binatang. Mereka pun menilai penggunaan gedung SMK Penerbangan seperti dipaksakan.

Data diperoleh, gedung sekolah dan asrama siswa-siswi ini difungsikan pada bulan Januari 2016, atau setelah tiga tahun dibangun. Diduga penggunaan gedung ini dilakukan untuk menghindari pemeriksaan dari aparat penegak hukum, karena sudah lama dibangun tapi tak difungsikan.

“Ada yang mencoba menghindari jeratan hukum, sehingga para siswa siswi dan guru SMK Penerbangan yang dua tahun lalu masih belajar di bekas ruang belajar SMK 1, 2 dan 3 Lampineung, mulai Januari 2016 dan Februari 2017 lalu dipindahkan ke kompleks SMK Penerbangan di Blang Bintang,” ungkap Abdurrahman Ahmad.(***)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved