Ramadhan Mubarak

Puasa, Momentum Reformasi Birokrasi

SATU dari sekian banyak hikmah puasa Ramadhan adalah momentum mewujudkan pemerintahan yang bersih

Puasa, Momentum Reformasi Birokrasi

Oleh Makmur Ibrahim, SH, M.Hum, Kepala Kantor Regional XIII BKN Banda Aceh Email: kanreg13.bkn@gmail.com

SATU dari sekian banyak hikmah puasa Ramadhan adalah momentum mewujudkan pemerintahan yang bersih serta reformasi birokrasi. Sebab Ramadhan merupakan bulan pembentukan akhlak dan mental yang baik, khususnya bagi aparatur pemerintah. Sebagaimana dipahami satu problem besar bangsa saat ini adalah tidak berjalannya reformasi birokrasi sebagaimana yang dikehendaki. Birokrasi kita juga hingga kini masih bersemangat untuk dilayani, meski di sebagian tempat sudah ada perubahan sedikit untuk melayani.

Ada sebagian kalangan yang setengah frustrasi bahkan menyalahkan para pelopor dan pegiat reformasi pascaruntuhnya Orde Baru. Mereka dinilai terlalu soft berhadapan dengan kekuatan lama yang koruptif. Harusnya dilakukan pemotongan satu generasi, sehingga birokrasi yang baru memiliki corporate culture baru yang sesuai dengan semangat good governance, terutama clean governance. Belakangan, lahir gagasan untuk menawarkan pensiun dini bagi pegawai negeri yang tidak berprestasi untuk diganti dengan yang lebih baik pendidikan dan mentalnya.

Karenanya, tulisan ini ingin menawarkan narasi betapa ibadah puasa Ramadhan sesungguhnya menekankan pentingnya semangat reformasi birokrasi. Berbagai ibadah yang kita laksanakan di bulan ini sesungguhnya adalah proses pembelajaran di madrasah (sekolah) Ramadhan. Dalam QS al-Baqarah ayat 183 disebut bahwa tujuan diwajibkan puasa Ramadhan adalah terciptanya manusia yang berintegritas, yang dalam bahasa Alquran disebut takwa.

Maka dari itu, pascapuasa Ramadhan adalah masa untuk membuktikan apakah pendidikan selama Ramadhan berhasil menciptakan orang-orang yang tidak punya kepribadian terbelah, di mana antara hati, perkataan, dan perbuatannya padu, tidak berbohong dan bersikap akuntabel dalam bekerja. Ini dikarenakan puasa yang kita lakukan merupakan kontrak antara diri kita dengan Tuhan. Puasa Ramadhan idealnya bisa menghadirkan Tuhan saat bekerja dan dalam kehidupan lainnya selama 11 bulan setelahnya. Dan itu harus dilakukan secara konsisten (istiqamah).

Dalam konteks penciptaan integritas di ruang kerja dan birokrasi, puasa Ramadhan juga menekankan integritas agar efektif menjadi corporate culture, bahkan sistem sosial, tidak hanya ingin menciptakan integritas personal semata. Hal ini bisa dilihat dari penekanan puasa bahwa mereka yang tidak berpuasa akan mendapatkan hukuman sosial di lingkungannya, bahkan ancaman api neraka, dan dalam hukum Islam mereka layak diberi hukuman di dunia sesuai ijtihad hakim. Terlebih terhadap mereka yang tidak berpuasa dan tidak melakukan zakat fitrah juga.

Puasa Ramadhan juga menekankan keberkahan rezeki, bukan pada banyaknya rezeki sebagaimana doa yang dianjurkan Nabi Muhammad saw. Puasa, Idul Fitri dan 11 bulan setelahnya adalah pembuktian atas kelulusan kaum Muslimin menjalani pendidikan di madrasah Ramadhan. Asumsi ini bisa dilihat dari bahwa nafsu jasmaniah yang memerlukan material, dalam puasa dan Idul Fitri, dilarang untuk dibiarkan liar dan rakus, tetapi juga bukanlah untuk dimatikan, melainkan untuk ditundukkan.

Sebagai agama moderat, kecenderungan material pada manusia dengan memiliki rezeki material dalam puasa dan Idul Fitri diakui, meski harus dikendalikan ruhani. Makan dan minum, juga hubungan seksual pada malam hari bulan Ramadhan diperkenankan. Sebaliknya, sikap yang menolak sama sekali material dalam puasa dan Idul Fitri tidak diakui. Misalnya, puasa berturut-turut dengan tidak berbuka di saat Magrib dalam Islam dilarang. Puasa dalam sebulan Ramadhan harus diakhiri berbuka pada saat Idul Fitri, yang merupakan titik temu keharusan mendengarkan nurani/rohani dan juga memenuhi kecenderungan material.

Dalam konteks birokrasi, puasa dan Idul Fitri karenanya menekankan kerja yang tidak melulu mencari tambahan pendapatan saat bekerja. Idul Fitri dan puasa menekankan hidup qana’ah dengan merasa cukup dengan gaji yang didapat, seraya dengan tidak menolak jika ada insentif tambahan yang halal. Namun, bukan terus mencari, padahal gaji sudah diberikan setiap bulan dan sudah dianggap layak dalam ukuran umum. Idul Fitri dan puasa menekankan rasa syukur dan senang dengan gaji yang didapat dengan mengalokasikannya secara baik.

Puasa dan Idul Fitri mementingkan sikap tidak bermental budak yang hanya bekerja saat ada bos yang mengawasi dan hanya bekerja jika diperintah. Idul Fitri dan 11 bulan setelahnya adalah pembuktian apakah kaum Muslimin lulus atau tidak. Puasa yang berakhir dengan Idul Fitri menginginkan lahirnya manusia-manusia yang memiliki inisiatif dan tanggung jawab. Puasa yang mendapat pahala adalah puasa karena kehendak sendiri dengan diawali tekad yang kuat (niat). Puasa juga harus dilakukan degan mengetahui syarat dan rukunnya; mana yang harus dilakukan, mana yang harus dijauhi.

Puasa yang berakhir dengan Idul Fitri dalam konteks reformasi birokrasi mementingkan sikap mengetahui aturan pekerjaan. Namun, ini bukan berarti yang penting berinisiatif bekerja dengan rajin bekerja saja. Dalam puasa harus ada yang menjadi tujuan bersama, yaitu untuk keseharian bisa menahan diri sampai Magrib, untuk bulanannya sampai sepenuh bulan dengan hanya berbuka pada Hari Raya Idul Fitri, dan tujuan jangka panjangnya adalah kebahagiaan bersama dan berintegritas. Bekerja harus dilakukan bersama-sama untuk mencapai satu titik tertentu sebagai tujuan organisasi.

Puasa dan Idul Fitri menekankan juga sikap melayani, bukan untuk dilayani. Yang dituju dalam puasa bukan hanya menjadi pengabdi Allah dengan banyak beribadah mahdhah (murni) seperti Tadarus dan Tarawih, melainkan juga pengabdi terhadap kemanusiaan (ibadah ghair mahdhah) sebagai dampaknya. Kesimpulan ini bisa dilihat dari adanya keharusan berbagi buka puasa (ifthar), berzakat fitrah, dan berbagi THR. Puasa dan Idul Fitri menghendaki lahirnya manusia yang paling bermanfaat bagi sesama, yang dalam konteks birokrasi berarti birokrat yang melayani, di mana keberadaan mereka diukur seberapa banyak masyarakat terlayani, bukan sebaliknya.

Terakhir, dalam puasa dan Idul Fitri terdapat pentingnya inovasi dan kreativitas dan ini bisa dilihat dari bahasa-bahasa yang terdapat dalam puasa dan Idul Fitri. Misalnya kata sahur, buka puasa, tidak makan dan minum, dan zakat fitrah pada malam takbir. Semuanya memperlihatkan kata-kata penjungkirbalikan dari kebiasaan dan umumnya orang. Dalam konteks reformasi birokrasi, ini artinya seorang birokrat hanya akan berhasil menjadi birokrat yang inovatif, jika mampu berpikir tidak seperti umumnya orang dan bekerja tidak hanya sebagai kewajiban semata, melainkan sebagai passion. Wallah a’lam bis shawab.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved