SerambiIndonesia/

Tafakur

Mengulangi Maksiat

Walaupun di bulan suci Ramadhan saat banyak orang berlomba-lomba beramal, masih banyak di antara kita yang tetap melakukan

Mengulangi Maksiat
Tafakur

Oleh: Jarjani Usman

“Suatu kemaksiatan akan menanamkan kemaksiatan sejenisnya;
sebahagiannya akanmelahirkan sebahagian yang lain, sehingga sangat
sulit bagi seseorang untuk meninggalkannya” (Ibnu Qayyim).

Walaupun di bulan suci Ramadhan saat banyak orang berlomba-lomba
beramal, masih banyak di antara kita yang tetap melakukan perbuatan
maksiat. Hal ini menandakan bahwa suatu perbuatan maksiat yang sudah
biasa dilakukan sebelumnya berpeluang dilakukan lagi, sebagaimana
pernah diingatkan oleh seorang ulama yang bernama Ibnu Qayyim.

Lebih-lebih perbuatan maksiat yang mendatangkan harta benda duniawi.
Sebut saja di antaranya pungutan liar yang menghasilkan uang cepat dan
banyak jumlah. Hal ini bisa menandakan bahwa pada masa sebelumnya,
yang bersangkutan sudah merasa nyaman hidupnya dengan cara-cara
demikian. Sehingga akan selalu merasa tidak cukup kebutuhan hidupnya
bila tidak melakukan perbuatan itu lagi. Padahal rasa tidak cukup itu
berasal dari perasaan akibat pola hidup.

Namun telah diingatkan bhwa merasa tidak cukup dengan apa yang bisa
diperoleh secara halal adalah suatu tanda sudah mendapat azab di
dunia, sebelum diazab di akhirat kelak. Sehingga orang-orang tersebut
akan selalu merasa mudah untuk melakukan maksiat dan merasa susah
untuk kembali ke jalan yang benar.

Tak ada cara lain kecuali dengan cara berusaha sekuat tenaga untuk
bertaubat dengan cara menyesalinya dan tak mengulangi lagi. Allah
selalu menerima taubat hamba-hambaNya.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help