Ramadhan Mubarak

Ramadhan dan Kesalehan Sosial

ISLAM adalah agama yang sempurna, memiliki nilai-nilai yang mencakupi berbagai dimensi kehidupan manusia, baik duniawi dan ukhrawi

Ramadhan dan Kesalehan Sosial
Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Prof. Eka Srimulyani, MA. Ph.D
Dekan Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Email: eka.srimulyani@acehresearch.org

ISLAM adalah agama yang sempurna, memiliki nilai-nilai yang mencakupi berbagai dimensi kehidupan manusia, baik duniawi dan ukhrawi. Islam sebagai sebuah ajaran juga meliputi dan menekankan baik pada dimensi personal, maupun sosial. Diskusi tentang bagaimana praktik keberagamaan dalam Islam selalu terkait antara aspek kesalehan individual dan kesalehan sosial.

Ada banyak contoh dalam praktik keagamaan yang memperlihatkan bagaimana ibadah ritual yang individual, sesungguhnya juga memiliki dimensi kesalehan (kebaikan) sosial. Dalam Alquran, pesan kesalehan individual dan kesalehan sosial secara lugas dapat kita dapati dalam surat Ali Imran: 112. Dari ayat ini, kemudian mencuat dua konsep, yaitu hablun minallah dan hablun minas.

Istilah hablun minallah juga pernah menginspirasi seorang peneliti ethnografer asing yang meneliti tentang sosial keagamaan masyarakat Aceh, yang kemudian menjadikan terjemah dari istilah hablun minallah sebagai judul dari buku yang bersumber dari penelitiannya tersebut. Ini setidaknya menunjukkan bahwa kehidupan sosial-keagamaan dalam masyarakat Aceh, setidaknya tidak luput dari dua dimensi kesalehan ini.

Memiliki keterkaitan
Secara sederhana kesalehan sosial adalah bentuk amal saleh (perbuatan baik), dan memiliki keterkaitan tersendiri dengan kesalihan individual. Karena itu mendiskusikan kesalehan sosial tidak bisa lepas dari bahasan tentang kesalehan individual. Keduanya tak berada dalam dua kutub yang dikotomis. Satu contoh yang sangat tepat untuk menggambarkan keterkaitan antara keduanya adalah bagaimana puasa Ramadhan yang pada dasarnya merupakan bentuk kesalehan individual sebagaimana ibadah ritual lain, memiliki keterkaitan yang sangat kuat dengan aspek kesalehan (kebaikan) sosial.

Secara sederhana kesalehan sosial bisa dimaknai sebagai sikap dan perilaku seseorang yang memiliki unsur kebaikan (saleh) atau manfaat dalam rangka hidup bermasyarakat (sosial). Dalam beberapa kajian/penelitian tentang kesalehan sosial, biasanya dipertegas perbedaan antara kesalehan sosial dengan perilaku sosial biasanya. Perbedaan ini dengan menekankan bahwa kesalehan sosial adalah perilaku yang berlandaskan pada nilai-nilai atau motivasi keagamaan atau ibadah, sementara perilaku sosial belum tentu demikian, bisa saja berlandaskan motivasi, nilai-nilai lainnya.

Dengan pembedaan ini, kita bisa memisahkan antara kesalehan sosial yang bersumber dari nilai dan motivasi agama (ibadah), dengan sikap atau perbuatan yang berdasarkan dan berorientasi perilaku sosial biasa.

Jika dicermati, hampir semua kesalehan individual dalam bentuk ibadah ritual sebenarnya memiliki dampak untuk kemaslahatan atau kebaikan sosial. Ibadah shalat, yang merupakan wujud dari kesalehan individual atau ritual, memiliki tujuan untuk perbuatan keji dan munkar (QS. al-Ankabut: 45), yang tentu saja memiliki dampak secara sosial.

Zakat juga demikian, ada maslahat dan kebaikan sosial dalam berbagi rezeki dan sumber daya dengan sesama, khususnya kaum papa dan mereka yang membutuhkan. Ramadhan dan segala ibadah di dalamnya termasuk zakat fitrah juga memiliki dimensi kesalehan sosial yang cukup kuat.

Kalaulah kesalehan sosial wujud dalam sikap kedermawan, tolong-menolong, empati kepada sesama dan selainnya, maka proses tarbiyah Ramadhan adalah momen untuk melatih itu semua. Substansi puasa bukan pada menahan diri lapar semata, tapi bagaimana rasa lapar bisa menggugah kesadaran dan perasaan (afektif) seseorang Muslim yang kemudian termanifestasi dalam wujud perilaku (konatif) berupa empati pada orang yang dalam kesehariannya dilanda kelaparan karena ketidakmampuan secara ekonomi.

‘Ramadhan effect’
Masih dalam ruang lingkup ibadah Ramadhan, zakat fitrah juga memiliki nilai kesalehan sosial yang cukup jelas, untuk membantu masyarakat miskin dalam mencukupi kebutuhannya, terutama dalam merayakan kemenangan di Hari Idul Fitri.

Karenanya, Ramadhan adalah momentum latihan, penguatan dan pembiasaan tidak hanya untuk memperkuat dimensi kesalehan individual/ritual, namun juga kesalehan sosial. Rangkaian ibadah ritual dalam bulan Ramadhan, kemudian diakhiri dengan shalat Idul Fitri sebagai wujud kekuatan persatuan dan persaudaraan kaum Muslim, yang juga dibingkai dalam bentuk silaturahmi untuk mengeratkan kekerabatan, persaudaraan dan kebersamaan.

Namun di balik itu semua, ada hal yang perlu diantisipasi agar perilaku kesalehan baik individual maupun sosial jangan hanya seolah “berlaku” dan meningkat di bulan Ramadhan, dan kemudian menurun atau bahkan menghilang di waktu-waktu lain. Menjadi tanggung jawab kita semua untuk memastikan Ramadhan effect berlaku seterusnya, secara berkelanjutan di bulan-bulan setelahnya. Wallahu a’lam bis-shawab.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help