Ramadhan Mubarak

Maraknya Majelis Ilmu dan Pengajian Ramadhan

RASULULLAH saw bersabda, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah”

Maraknya Majelis Ilmu dan Pengajian Ramadhan
Hasan Basri M. Nur

Oleh Hasan Basri M. Nur. Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry Email: hb_noor@yahoo.com

RASULULLAH saw bersabda, “Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah”. Dengan adanya ilmu manusia dapat bekerja (beramal), termasuk dalam beribadah. Amal dengan ilmu ibarat dua sisi mata uang koin. Sisi yang satu dengan yang lainnya saling sokong dan melengkapi. Amalan tanpa ilmu akan ditolak (tidak diterima). Sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tak berbuah.

Imam Al-Ghazali berkata, ilmu yang tidak disertai dengan amalan adalah gila. Sebaliknya, amalan tanpa ilmu adalah pekerjaan sia-sia. Tidak butuh nalar tinggi untuk memahami pesan Al-Ghazali ini. Tidaklah mungkin seorang hamba dapat mengerjakan amalan agama jika dia tidak pernah disertai bimbingan sang guru, kitab/buku dan atau media lainnya.

Jika pun seseorang mengerjakan amalan berdasarkan meniru amalan orang lain, pastilah tidak akan sempurna, karena ada bagian-bagian tertentu yang tidak dipahami sehingga melenceng dari ajaran sebenarnya. Singkatnya, dalam mengerjakan amalan agama kita harus meuguree (belajar, berguru), tidak dibenarkan meutiree (meniru orang).

Atas dasar inilah umat Islam didorong untuk senantiasa mencari ilmu, di mana pun dan kapan pun. Khusus pengetahuan agama ia menjadi kewajiban individual yang senantiasa harus terus dipelajari, tidak mengenal ruang dan waktu. Kewajiban ini melekat pada anak-anak, remaja hingga orang lanjut usia.

Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa. Hampir semua aktivitas orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dihitung sebagai amal ibadah yang balasan pahalanya berlipat ganda. Oleh sebab itu, sepanjang bulan Ramadhan kita menyaksikan umat Islam berlomba-lomba dalam memperbanyak amal.

Selama Ramadhan, majelis ilmu dan pengajian marak digelar berbagai pihak, terutama di mushalla-mushalla perkantoran setiap selesai shalat fardhu. Biasanya panitia menetapkan tema kajian harian untuk diperdalam setiap hari. Mejelis ilmu yang digelar perkantoran ini semakin efektif karena menganut sistem belajar yang dialogis.

Selain itu, di masjid-masjid, meunasah dan mushalla digelar kuliah singkat menjelang shalat Tarawih dan usai shalat Subuh dengan menghadirkan ustaz-ustaz dengan beragam latar belakang pengetahuan. Program ini bertujuan agar jamaah memiliki kesempatan memperdalam pengetahuan agama untuk diamalkan.

Majelis ilmu dan pengajian selama Ramadhan seyogianya memberi dampak perubahan bagi umat. Dampak yang harus ditimbulkan minimal dalam dua aspek: Pertama, aspek perubahan kualitas kehidupan individu yang disusul kualitas masyarakat sehingga terbentuk kesalehan sosial yang kolektif. Tatkala kesalehan sosial sudah terwujud, maka visi baldatun thayyibatun wa rabbul ghafur akan terasa;

Kedua, ilmu yang didapat dari pengajian mesti memberi perubahan pada kualitas dan kuantitas ibadah kepada Allah. Kualitas ibadah ini akan tercapai apabila kita mengetahui tata cara beribadah sesuai tuntunan agama. Oleh sebab itu, materi majelis ilmu perlu ditekankan pada pelaksanaan ibadah wajib yang rutin dilakukan, terutama shalat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved