SerambiIndonesia/

Tafakur

Iri Hati

Tidak boleh iri kecuali pada dua hal, (pertama) kepada seseorang yang dikaruniai Allah harta, lalu ia membelanjakannya

Iri Hati

Oleh Jarjani Usman

“Tidak boleh iri kecuali pada dua hal, (pertama) kepada seseorang yang dikaruniai Allah harta, lalu ia membelanjakannya dalam kebenaran, (dan yang kedua) kepada seseorang yang diberi Allah hikmah (ilmu), dan ia memberi keputusan dengan ilmu tersebut dan mengajarkannya” (HR. Muslim).

Tak jarang di antara kita merasa iri terhadap kelebihan-kelebihan yang diperoleh orang lain. Seperti kelebihan harta benda, jabatan, dan lain-lain. Bukan hanya iri, tetapi juga bertambah dengan rasa dengki yang menginginkan agar semua yang orang lain miliki berpindah menjadi milik kita.

Meskipun iri hati biasa muncul pada seseorang, tak sebaiknya kita membiarkan diri rusak digerogoti oleh penyakit hati itu. Sebab, dari hati yang sedang sakit bisa bertunas dan berkembang berbagai penyakit lain. Akibat iri hati, kita menjadi tak senang dan tak tenang, yang dengan sendirinya merenggut kebahagiaan diri.

Bukan hanya merusak diri karena iri hati, tetapi juga bisa merusak orang lain. Lebih-lebih orang yang pandai melakukan provokasi, yang selanjutnya menyulut iri hati orang lain. Kalau sudah demikian, maka iri hati menjadi semakin liar sehingga hal-hal yang buruk bisa terjadi. Saat demikian, bukan hanya kerusakan fisik dan non fisik yang muncul, tetapi juga dosa yang berlipat ganda.

Karena itu, Rasulullah SAW mengajak kita untuk berusaha mengarahkan rasa iri kepada hal-hal yang baik dan berpahala. Seperti iri kepada orang-orang berilmu yang gemar menyebarkannya dan orang-orang berharta yang dermawan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help