SerambiIndonesia/

Tafakur

Etika Memberi

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya

Etika Memberi

Oleh Jarjani Usman

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah)” (QS. Al Baqarah: 264).

Begitu mulianya akhlak orang-orang yang bertaqwa, yang bukan hanya berlomba-lomba untuk bersedekah dengan ikhlas karena Allah baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, tetapi juga menjaga etikanya. Sedangkan orang-orang yang tak bertaqwa merasa berat hati bila hendak bersedekah. Bahkan, apa yang sudah terlanjur disedekahkan pun kadangkala disebut-sebutkan agar penerimanya merasa sakit hati dan ia memperoleh kebanggaan tersendiri.

Padahal kalau berpedoman pada firman Allah dalam Alquran, menyebut-nyebutkan suatu pemberian atau sedekah kepada seseorang hamba, sangatlah dilarang. Tentunya larangan itu sangat beralasan. Bukan hanya bisa menghilangkan pahala sedekah, tetapi juga bisa mengganggu hubungan baik dengan sesama hamba Allah.

Bahkan dalam suatu hadits disebutkan, orang-orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya (agar menyakiti orang) termasuk golongan manusia yang tidak akan diajak bicara, dilihat dan disucikan pada hari akhirat kelak (HR. Muslim). Tentunya, sia-sialah semua pemberian orang-orang yang tak mau menjaga etika bersedekah seperti itu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help