SerambiIndonesia/

Mudik Aceh 2017

Keharuman Socolatte Pidie Jaya yang Menggoda

Di sana lah outlet sekaligus dapur produksi socolatte. Cokelat khas yang menawarkan citarasa unik.

Keharuman Socolatte Pidie Jaya yang Menggoda
SERAMBINEWS.COM/NUR NIHAYATI

Laporan Nur Nihayati | Pidie Jaya

SERAMBINEWS.COM, MEUREUDU -- Jika Anda ke Aceh, jangan lupa mampir di Kabupaten Pidie Jaya tepatnya di KM 136 Desa Musa Baroh Kecamatan Bandar Baru.

Di sana lah outlet sekaligus dapur produksi socolatte. Cokelat khas yang menawarkan citarasa unik. Rasakan bedanya saat lelehan cokelat lumer ke dalam mulut. Mau makan di tempat atau membawa pulang? Bisa.

Menggunakan bahan baku berupa bijih cokelat dari petani lokal, socolatte menawarkan rupa-rupa olahan yaitu permen cokelat, bubuk cokelat, minuman cokelat, brownies cokelat, hingga timphan cokelat.

Timphan merupakan kue tradisional sejenis lemper, lazim menggunakan tepung sebagai kulit dengan kelapa parut atau srikaya sebagai isi.

Pimpinan Socolatte, Irwan Ibrahim ditemui Serambinews.com, Minggu (4/6/2017) mengaku memiliki sekira 32 tenaga kerja berasal dari desa setempat.

Cokelat bernama Socolate itu semuanya dibuat langsung dari tangan pekerja wanita Aceh yang terampil. Irwan menuturkan, sebetulnya besar peluang pemasarannya.

Namun ia mengaku tak sanggup memenuhi permintaan sampai ke luar daerah kerena terbatas mesin.

"Kami pasarkan sampai ke Banda Aceh dan ke arah timur sampai ke Kuala Simpang, jadi produksi dilakukan hanya untuk lokal saja,” tutur Irwan.

Tempat pengolahan cokelat memiliki beberapa ruang. Terdiri atas ruang pemasaran di bagian paling depan, lalu di bagian belakang ada ruang bahan mentah, ruang pengolahan, hingga ruang packing.

Di outlet itu selain menawarkan kuliner untuk ditenteng sebagai oleh-oleh, juga tersedia 25 seat meja untuk pengunjung. Lokasinya yang terletak di sisi lintas Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, membuatnya pas untuk tempat rehat bagi pemudik.

Riwayat socolatte

Tak mudah bagi Irwan memperkenalkan socolatte. Sebagai produk olahan cokelat pertama di Aceh, ia harus memikirkan mengelola bisnis kuliner itu dari hulu ke hilir.

Socolatte mulai diproduksi sejak tahun 2010, namun usaha ini sudah dirintis sejak tahun 2003. Penjajakan pasar terus dilakukan hingga tujuh tahun kemudian atau tepatnya 2010, baru socolatte berproduksi.

“Bahan baku juga dipetik dari hasil kebun petani Aceh. Sekira 1 ton per bulan buah cokelat dibeli dari petani sekitar,” beber Irwan.

Diakui Irwan, awalnya ia banyak mendapat kritikan terkait usaha yang diretasnya itu. Namun kesabarannya berbuah manis.

Dibantu oleh tenaga teknis dan tenaga ahli cokelat dari Jepang serta bantuan lainya, lahirlah cikal bakal produk-produk Socolatte yang memiliki citarasa dan aroma khas Aceh.

Irwan yang merupakan putra asli daerah setempat mengaku, ide lahirnya pabrik cokelat berawal karena daerah Pidie Jaya merupakan salah satu lumbung penghasil cokelat.

“Saya menginginkan coklat di sini bisa dihasilkan dan diolah di sini (di pedesaan),” tuturnya.

Menurut Irwan, menjelang Hari Raya Idul Fitri biasanya permintaan Socolatte bisa naik tiga kali lipat dari biasanya. Sehingga ia menyetok permintaan cokelat dan dikemas dalam bungkus warna warni dalam aneka rasa.

Sebut saja rasa kacang, kismis, kopi, jahe, dan juga rasa madu. Selain rasanya yang lezat, cokelat juga mempunyai khasiat kesehatan yaitu mencegah penyakit seperti stroke dan jantung.

Untuk minuman cokelat panas dan dingin ditawarkan dalam berbagai pilihan harga, mulai Rp 13.000 hingga Rp 20.000.

Sementara untuk Socolatte cokelat batangan dan cokelat dalam bentuk padat lainnya juga disediakan dengan varian harga, mulai Rp 8.000 sampai dengan 35.000/ per batang atau pak.

Socolatte menebar wangi kekayaan alam Aceh. Datang dan buktikan sendiri. (*)

Penulis: Nur Nihayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help