Ramadhan Mubarak

Hindari Perilaku Boros

IDUL Fitri yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam, semakin mendeka

Hindari Perilaku Boros
Lailatussaadah Dosen Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry 

Oleh Lailatussaadah, Dosen Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Email: lailamnur27@gmail.com

 Hari raya itu bukan untuk mereka yang pakai baju baru atau makan makanan enak, namun hari raya itu untuk mereka yang bertambah ketaatannya. (Pepatah Arab)

 IDUL Fitri yang memang sangat ditunggu-tunggu oleh umat Islam, semakin mendekat. Masyarakat tampak antusias menyambut hari kemenangan itu. Berbagai persiapan dilakukan, mulai dari menyiapkan beragam penganan, baju baru keluarga sampai mengganti dekorasi maupun perabotan rumah tangga dengan yang baru. Entah berapa banyak uang yang dihabiskan untuk memuaskan hasrat tampil sempurna secara fisik di hari yang fitri. 

Terlebih lagi keluarga berduit berbelanja di daerah tidak akan cukup memberi mereka kepuasan. Demi prestise dan gengsi, kelompok elite ini rela menempuh perjalanan jauh ke luar daerah, bahkan sebagian mereka ada yang ke luar negeri untuk belanja berbagai kebutuhan hari raya. Tentu saja, mereka akan merasa terhormat apabila pakaian yang mereka gunakan dan perabotan rumah yang mereka miliki berharga mahal, apalagi produk impor. Ada kepuasan tersendiri bagi sebagian orang beruang bila mereka tampil mewah dan mengundang decak kagum siapa saja yang melihatnya.

Hasrat belanja berlebihan (boros) sebagian masyarakat dimanfaatkan dengan baik oleh pemilik mall dan toko-toko. Berbagai trik mereka lakukan untuk menarik minat pembeli, baik melalui diskon besar-besaran (big sale) maupun trik lainnya. Hal-hal demikian semakin membuat konsumen merasa dimanjakan, sehingga mereka terlena dan lupa diri. Para konsumen tidak menyadari bahwa mereka sedang diteror dengan mengeruk uang mereka sebanyak-banyaknya, dan mereka pun tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sedang digiring untuk menjadi defisit.

Semakin mendekati hari H, semakin sesak pasar-pasar dan mall. Pemandangan aktivitas pasar/mall jelang lebaran berbanding terbalik dengan pemandangan kuantitas jamaah di mesjid maupun meunasah. Semakin dekat dengan Idul Fitri, semakin kosong. Pasar dan mall mengalihkan perhatian sebagian masyarakat dari keistimewaan ramadhan, sehingga fadhilah 10 akhir (itqum minan nar) dipastikan raib dengan sia-sia.

Poin spesial Ramadhan (itqum minan nar) telah ditukar oleh sebagian masyarakat dengan berlomba-lomba berbelanja persiapan lebaran secara berlebihan, sampai-sampai lupa esensi dari hari raya adalah hari kemenangan dan bertambah ketaatan, menang melawan hawa nafsu, namun yang terjadi adalah sebaliknya menurutkan hawa nafsu, memborong semua produk tanpa memperhatikan kebutuhan, apakah kita butuh semua itu sekaligus saat lebaran? Ketika kita tidak butuh namun tetap dibeli bukankah semua itu hanya perbuatan pemborosan/mubazir?

 Memerangi hawa nafsu

Pada dasarnya semua umat Islam tau bahwa ajaran Islam sangat membenci mubazir/perilaku boros. Mubazir sendiri didefinisikan yaitu menjadi sia-sia, tidak berguna, terbuang-buang karena berlebihan. Perbuatan mubazir biasanya terjadi akibat tidak mampu menahan diri dari godaan tawaran big sale dan promo di berbagai mall dan toko. Kebanyakan masyarakat akan mengalamipanic buying ketika berhadapan dengan tawaran tersebut jika tak mampu berfikir rasional serta tidak mampu mengontrol jiwanya sehingga tidak sanggup mengelola antara kebutuhan dan pengeluaran.

Perilaku panic buying ini merupakan perilaku masyarakat yang tersihir oleh iklan-iklan dan kemudian tergesa-gesa untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Perilaku inilah yang harus dipahami betul oleh masyarakat sebagai konsumen agar tidak membeli barang dengan sia-sia/mubazir.

Oleh karena itu, perilaku mubazir/boros dan berlebih-lebihan disebutkan sebagai perilaku yang tidak mencerminkan kehidupan qanaah dan dilarang dalam Islam. Allah Swt berfirman, “Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang mubazir (pemboros) itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS. al-Isra’: 26-27).

Hal lain yang membuat lebih miris lagi adalah perilaku boros/mubazir sebagian masyarakat yang dengan mudah dan bahkan merasa bangga menyalakan petasan/mercon, main kembang api, tot karbet, tot beude trieng, aktivitas itu tidak bermanfaat sama sekali bahkan tergolong perbuatan sia-sia karena dipersamakan dengan tindakan “membakar uang” dan mengganggu kenyamanan masyarakat serta dapat merusak lingkungan (Salam Serambi, 21/6/2017). Ramadhan yang seharusnya adalah bulan di mana kita mengumpulkan pahala, ampunan dan menuju kemenangan, malah sebaliknya mengumpulkan dosa dan menjadi teman setan. Na’uzubillah.

Sementara di lain pihak masih banyak anak yatim dan fakir miskin yang sangat kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka butuh makanan, pakaian, pendidikan dan tempat tinggal yang layak bukan butuh hiburan sesaat seperti kembang api, petasan, tot karbet, beude trieng, dan pameran kemegahan kita. Alangkah lebih bermakna dan bermartabat jika perilaku boros/mubazir dan berlebih-lebihan dapat diganti dengan memperbanyak lagi sedekah kepada mereka sebagai bentuk kemenangan kita dalam melawan hawa nafsu dan godaan setan. Terlebih menjelang Idul Fitri, tentunya mereka sangat membutuhkan uluran tangan kita, yang telah Allah titipkan sebagian rezeki mereka melalui tangan kita.

Perilaku boros/mubazir dan bermegah-megahan bukanlah bagian dari ajaran Islam. Islam sangat menganjurkan untuk hidup qanaah, hidup dalam kesederhaan, sehingga fadhilah Ramadhan; rahmah, maghfirah, dan itqum minan nar dapat kita raih. Kita hendaknya dapat meraih tingkatan tertinggi dalam berpuasa dari puasa ‘am menjadi puasa khawash, atau bahkan naik pada tingkat shaumul khawashil khawash (puasa sangat istimewa), yaitu puasa orang yang menahan hati dari kemauan yang rendah dan dari pemikiran terhadap duniawi, serta menahan pemikiran kepada selain Allah secara keseluruhan. Semoga!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved