SerambiIndonesia/

Forum Kakao Aceh Gelar FGD

Forum Kakao Aceh (FKA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Aula BPTP, Banda Aceh, Sabtu (17/6)

Forum Kakao Aceh Gelar FGD
Petani memperlihatkan pohon rambutan dan kakao yang ditumbangkan gajah liar di Gampong Seumanah Jaya, Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, Senin (12/9). SERAMBI / SENI HENDRI 

BANDA ACEH - Forum Kakao Aceh (FKA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) di Aula BPTP, Banda Aceh, Sabtu (17/6). Tujuannya untuk memberi masukan kepada Tim Penyusun Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Pemerintah Aceh mengenai potensi dan kebijakan strategis peningkatan agribisnis kakao, sehingga dapat menjadi dasar penyusunan dokumen RPJM.

Ir TM Bastian MSi yang mewakili Pemerintah Aceh menyebutkan ada sekitar 120.000 petani di Aceh menggantungkan hidupnya pada komoditi ini dengan luas areal 85.000 hektare tersebar di hampir 23 kabupaten/kota di Aceh dan empat kabupaten sentra produksi ditambah lagi 120.000 hektare lahan telantar.

“Beberapa tahun terakhir Aceh telah mampu memproduksi kakao 43.739 ton/tahun dengan produktivitas rata-rata mencapai 763 kilogram per hektare setiap tahun, namun saat ini produktivitasnya cenderung menurun signifikan,” katanya seperti dikutip dalam siaran pers dikirim pihak FKA ke Serambi kemarin.

Menurunnya produksi kakao Aceh, kata TM Bastian menjadi kekhawatiran tersendiri mengingat nilai ekonomisnya tertinggi di Indonesia, yaitu mencapai 85 persen. Selain itu, Aceh memiliki lahan terluas di Sumatera disusul Sumatera Barat, namun Sumatera Barat justru lebih produktif.

“Berbagai permasalahan di lapangan semakin sulit karena tidak ada alokasi anggaran dari Pemerintah tahun 2017. Untuk itu ke depan harus ada kebijakan dan program yang komprehensif dalam penanganan dan solusi berbagai permasalahan terkait kakao,” timpal Ketua FKA,

Teuku Zulkarnain PhD yang tampil sebagai panelis. Panelis lainnya dari Swisscontact, Jakfar Siddiq SE MM menjelaskan permintaan pasar kakao dunia terus meningkat, namun produtikvitas justru menurun sehingga tidak memberikan dampak ekonomis bagi petani dan pelaku utama kakao.

Sementara itu, Muslahuddin Daud didampingi Lukman Age dan Wahdy Azmi dari unsur Tim RPJM Pemerintah Aceh menjelaskan saat ini pihaknya sedang merampungkan visi misi Gubernur-Wakil Gubernur Aceh terpilih bidang pertanian dengan 15 program unggulan yang disebut “Aceh Troe, Aceh Meugo”.

“Tentu saja komoditi kakao akan menjadi salah satu fokus utama, kakao juga masih kurang riset dan masalah perubahan iklim juga sangat serius dan mendesak hasil FGD ini menjadi rujukan kami,” pungkas Muslahuddin. Pertemuan ini diisi dengan penandatanganan MoU antara FKA dengan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Aceh guna meningkatkan sosialisasi ke masyarakat. (sal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help