SerambiIndonesia/

Soal Kompensasi, PLN Bohong

Janji kompensasi (ganti rugi) dari PT PLN Wilayah Aceh kepada masyarakat yang terimbas pemadaman listrik

Soal Kompensasi, PLN Bohong

BANDA ACEH - Janji kompensasi (ganti rugi) dari PT PLN Wilayah Aceh kepada masyarakat yang terimbas pemadaman listrik pada Mei lalu ternyata tidak terwujud. Satu per satu warga mulai menyimpulkan PLN menebar ‘janji palsu’, sebab alih-alih berkurang malah tagihan listrik meningkat dari sebelumnya.

Seorang warga Lhong Raya, Kecamatan Banda Raya yang juga anggota DPRK Banda Aceh, Irwansyah terang-terangan menyebut PLN telah membohongi masyarakat Aceh. Janji pembayaran ganti rugi berupa pengurangan tarif bagi pelanggan pascabayar dan penambahan bonus bagi pelanggan prabayar menurutnya hanya omong kosong.

Irwansyah yang merupakan pelanggan prabayar mengaku tidak mendapat bonus KWH setelah membeli token Rp 500.000, padahal bulan lalu listrik di rumahnya sering padam.

“Dulu janjinya tidak ada pemadaman dalam Ramadhan namun diingkari dengan berbagai alasan. Sekarang berjanji akan memberi kompensasi, tapi juga tidak jelas,” kata Irwansyah.

Menurutnya, cara PLN yang tidak transparan dalam menghitung dan memberikan kompensasi telah melukai hati rakyat. Semula dirinya sempat memberikan apresiasi kepada pihak PLN yang berjanji akan membayar kompensasi terhadap pelanggan yang terimbas mati lampu.

“Ketika konferensi pers pada 31 Mei 2017 di Kantor PLN Aceh yang kemudian dilansir berbagai media, terus terang saya sangat mengapresiasi permohonan maaf sang GM yang juga menjanjikan kompensasi. Menurut saya itu menjadi titik awal perbaikan hubungan antara PLN dengan masyarakat Aceh. Nyatanya apa yang diucapkan tidak terwujud,” ujar Irwansyah.

Irwansyah mengaku sudah mengecek ke beberapa tempat pembayaran listrik online di Kecamatan Banda Raya. Hasilnya, petugas menyebut tidak ada kompensasi dan sebagian mengaku tidak tahu. “Saya tanyakan ke petugas-petugas listrik online, bagaimana cara mengetahui ada kompensasi. Mereka bilang tidak tahu, sama saja dengan bulan lalu,” terangnya.

Warga lainnya, Liana, ibu rumah tangga dari kalangan sederhana yang merupakan pelanggan listrik pascabayar kepada Serambi, mengungkapkan, biasanya dia membayar tagihan listrik Rp 130.000 per bulan, namun untuk tagihan Mei 2017 naik menjadi Rp 149.000. “Katanya ada pengurangan, tapi tagihan saya bulan Mei malah naik,” kata Liana.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help