SerambiIndonesia/

FPI Protes Mifa

Anggota Front Pembela Islam (FPI) Aceh Barat, Senin (19/6), mendatangi gedung DPRK

FPI Protes Mifa
Puluhan truk yang mengangkut batu bara milik PT Mifa Bersaudara dan PLTU Nagan Raya, tertahan karena diblokir warga di Jalan Samudra II, Ujong Kalak, Meulaboh sebagai bentuk protes terhadap jalan rusak tidak diaspal kembali. SERAMBI/RIZWAN 

MEULABOH - Anggota Front Pembela Islam (FPI) Aceh Barat, Senin (19/6), mendatangi gedung DPRK setempat. Kedatangan anggota FPI sebanyak 11 orang itu untuk menyampaikan protes terkait aktivitas kerja PT Mifa Bersaudara pada malam hari di lokasi tambang batubara selama bulan Ramadhan.

Anggota FPI diterima Wakil Ketua DPRK Usman, Ketua Komisi D Banta Lidan, Ketua Komisi B Ali Hasyimi, dan anggota komisi lainnya. Dalam kesempatan itu dilakukan pertemuan untuk mendengar aspirasi anggota FPI termasuk menyerahkan pernyataan sikap mereka ke wakil rakyat.

Juru bicara FPI Dedi Arona mengatakan, mereka sudah pernah menyampaikan protes kepada PT Mifa terkait aktivitas kerja perusahaan tersebut dalam bulan Ramadhan tahun 2017, yang berbeda dengan tahun 2016 lalu. Protes terkait kerja perusahaan pada malam hari ketika shalat Tarawih dan berbeda dengan tahun lalu yang dimulai pukul 22.00 WIB. Namun, kata dia, tidak mendapatkan respons yang baik “Saat ini pukul 19.30 WIB sudah mulai beroperasi. Dampak kebijakan ini, pekerja tidak dapat melakukan ibadah Tarawih,” kata Dedi.

Bukan hanya pekerja. Menurut Dedi, warga di sekitar tambang pun mengeluh karena bising. Suara mesin yang cukup besar mengusik kenyamanan beribadah karena dilakukan selama 24 jam setiap hari. Karena itu FPI meminta DPRK untuk mengingatkan Mifa bahwa Aceh memiliki kekhususan dalam pelaksanaan Syariat Islam.

Wakil Ketua DPRK Aceh Barat Usman menyatakan, DPRK sudah bersepakat bahwa mereka akan menyurati PT Mifa serta meminta Pemkab juga menyampaikan hal yang sama ke Mifa. Namun bila tidak diindahkan, akan diturunkan tim Pansus DPRK ke lokasi serta akan dipanggil Mifa untuk didengarkan penjelasannya. “Langkah awal kita akan surati. Kami akan laporkan pertemuan ini ke pimpinan untuk dikeluarkan rekomendasi,” kata Usman.

Ketua Komisi D Banta Lidan menyampaikan bahwa persoalan ini sejak awal Ramadhan sudah pernah diprotes oleh warga dan pekerja. Namun, Mifa terkesan kurang mengindahkan dan persoalan ini perlu disikapi secara serius sehingga tahun depan kebijakan serupa tidak lagi terulang.

Sementara itu Senior Manager Operation/KTT PT Mifa Bersaudara, Adi Risfandi dalam keterangan tertulis pada konfrensi pers di Sekber Jurnalis Aceh Barat, dua pekan lalu, ikut menanggapi terkait protes kerja terhadap operasional perusahaan di kawasan tambang Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, dalam bulan Ramadhan ini. “Perusahaan harus operasional 24 jam dalam rangka memenuhi komitmen dengan pembeli (buyer), sama seperti pelayanan umum lainnya. Maka diaturlah jadwal kerja karyawan selama bulan Ramadhan sedemikian rupa sehingga operasional produksi tetap berjalan sedangkan hak-hak karyawan untuk beribadah juga tersedia,” ungkapnya.

Pihak Mifa mengungkapkan bahwa tidak benar jika PT Mifa Bersaudara menghalangi karyawan untuk beribadah pada bulan Ramadhan. Dikatakan, pengaturan jam kerja ini tidak bertentangan dengan undang-undang dan peraturan yang berlaku.(riz)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help