SerambiIndonesia/
Home »

Opini

Opini

Mengasah Empati

PUASA telah mendidik kita menjadi hamba Allah Swt yang empati. Sikap ini penting bagi manusia dalam membangun

Mengasah Empati
Jamaah Qiyamul Lail menikmati santapan sahur di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Senin (18/6/2017). Shalat malam yang dimulai sejak pukul 2.30 Wib selama 10 hari terakhir bulan Ramadhan diikuti ratusan jamaah yang diakhiri dengan sahur bersama. SERAMBI/M ANSHAR 

Oleh Adnan

PUASA telah mendidik kita menjadi hamba Allah Swt yang empati. Sikap ini penting bagi manusia dalam membangun relasi sosial antarsesama pascaibadah puasa berlangsung. Sebab, tanpa empati seseorang akan sulit tergerak tangannya untuk memberi, dan berat tubuhnya tergerak untuk membantu. Padahal, manusia merupakan makhluk sosial, yakni makhluk yang saling membutuhkan, bersinergi, dan berkolaborasi. Karena itu, empati merupakan satu sikap yang penting dan perlu diasah dalam kehidupan kemanusiaan.

Sebulan penuh manusia beriman ditempa untuk menjadi hamba yang memiliki empati. Biasanya di siang hari seseorang boleh makan dan minum apa saja. Tapi, ketika berpuasa seseorang tidak dibenarkan makan dan minum di siang hari, meskipun makanan itu halal. Biasanya di siang hari perut selalu dalam kondisi kenyang, tapi di siang hari puasa perut keroncongan dan kelaparan, kerongkongan pun kehausan. Padahal, kondisi tersebut merupakan satu kondisi lazim yang sering dirasakan oleh orang-orang fakir, miskin, mustad’afin, dan kaum marginal.

Sebab itu, puasa mendidik kita menjadi hamba yang empati. Bahkan di bulan puasa pun manusia dianjurkan untuk beraksi atas empati yang dimiliki. Bentuk aksi yang dapat dilakukan setelah muncul sikap empati yakni dengan berinfak, bersedekah, dan berzakat. Karena itu, untuk mewujudkan aksi dari sikap empati, Allah Swt mengiming-imingi pelipat-gandaan pahala dari setiap infak, sedekah, dan zakat yang dikeluarkan. Jika sedekah di luar bulan puasa seseorang hanya mendapatkan pahala dari 1 hingga 700. Tapi, di bulan puasa pahala sedekah dilapatgandakan melebihi angka 700 tersebut.

Wujud empati
Bahkan, Rasulullah Saw merupakan pribadi yang sangat gemar bersekedah di bulan puasa. Jika di luar bulan puasa ia disebutkan sebagai ajwad, yakni orang yang paling gemar bersedekah. Tapi, di dalam bulan puasa kegemaran bersedekahnya meningkat, hingga diistilahkan laksana hembusan angin (min rihil mursalah). Artinya, kecepatan Rasulullah saw bersekah dalam bulan puasa laksana hembusan angin. Begitu cepat tangannya tergerak untuk memberi, dan begitu cepat pula tubuhnya tergerak untuk membantu.

Karena itu, puasa bukan hanya sekadar medium untuk mengasah empati manusia beriman. Tapi, Allah Swt juga memberikan berbagai medium untuk mewujudkan sikap empati dalam tindakan nyata, semisal infak, sedekah, dan zakat. Di sisi lain, Allah Swt juga bukan hanya sekadar menyediakan medium untuk mewujudkan aksi empati. Tapi, Allah Swt juga melipat-gandakan pahala bagi orang-orang yang memiliki sikap empati, lalu mewujudkan empati dalam tindakan nyata.

Bahkan, dalam bulan puasa diperintahkan secara khusus bagi orang berpuasa untuk menunaikan zakat fitrah. Yakni zakat yang harus ditunaikan oleh manusia beriman sebesar 2,8 kg dengan makanan pokok (Aceh: beras) selama pelaksanaan puasa, baik ditunaikan di awal maupun diakhir bulan puasa. Zakat ini akan diperuntukkan bagi mustahik yang berhak menerima zakat, semisal fakir, miskin, anak yatim, dan kaum marginal. Sehingga zakat fitrah diharapkan mampu menghapus air mata dan membangkitkan kegembiraan mereka dalam merayakan Idul Fitri.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa Idul Fitri merupakan momentum berbagai kebahagiaan. Di mana setelah melaksanakan ibadah puasa sebelun penuh, lalu orang-orang berpuasa tergerak hatinya untuk membangun relasi dan solidaritas sosial antarsesama. Ini disebabkan mereka telah mengasah empati selama bulan puasa berlangsung. Artinya, orang-orang yang telah sukses menunaikan ibadah puasa sebulan penuh dengan penuh iman dan keikhlasan, ia tidak rela melihat anak yatim berurai air mata ketika Idul Fitri tiba. Tangannya tergerak untuk memberi dan memuliakan anak yatim dengan membeli beragam fasilitas dalam merayakan Idul Fitri.

Perilaku filantropi
Pun, orang-orang yang telah berpuasa tidak rela melihat fakir miskin berada di pojok-pojok kampung dengan perut kelaparan tanpa makanan. Tubuhnya segera tergerak untuk membantu dan menyediakan makanan bagi mereka agar dapat merayakan Idul Fitri. Bahkan bukan hanya sekadar itu, perilaku filantropi (berbagi) terus ia gelorakan dalam kehidupan sehari-hari. Setiap ada orang yang membutuhkan, ia menjadi orang terdepan dalam membantu. Setiap ada orang yang kurang beruntung, ia selalu tergerak untuk memberi. Inilah hakikat yang ingin dipetik dari ibadah puasa.

Sebab, Ramadhan merupakan bulan pelatihan, pendidikan, pembinaan, dan pembentuk karakter mulia (character building). Orang-orang berpuasa dilatih empati selama sebulan penuh. Orang-orang berpuasa dididik untuk menjadi hamba Allah Swt yang taat dan patuh selama sebulan penuh. Orang-orang berpuasa dibina agar menjadi insan kamil selama sebulan penuh. Pun, orang-orang berpuasa dibentuk karakter mulia, semisal peka, peduli, dan empati, selama sebulan penuh. Dengan harapan setelah puasa berlangsung, berbagai latihan, didikan, binaan, bulan Ramadhan dapat diinternalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga!

* Adnan, S.Kom.I., M.Pd.I., Dosen Prodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) IAIN Lhokseumawe, Aceh. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help