SerambiIndonesia/

Ramadhan Mubarak

Menjaga Keseimbangan ‘Needs’ dan ‘Wants’

DALAM hidup kita membuat berbagai keputusan pengalokasian sumber daya untuk memenuhi kebutuhan

Menjaga Keseimbangan ‘Needs’ dan ‘Wants’

Oleh Dr. Ichsan M. Ali Basyah Amin, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Malikussaleh. Email: ichsan28@yahoo.com

DALAM hidup kita membuat berbagai keputusan pengalokasian sumber daya untuk memenuhi kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Keputusan tersebut memperhatikan keseimbangan antara kebutuhan, keinginan dan ketersediaan sumber daya. Kita, misalnya, harus memilih jumlah dan jenis barang dan jasa apa saja yang akan kita beli. Kita juga perlu menetapkan seberapa besar dan untuk apa kita akan menggunakan waktu, tenaga dan kemampuan yang kita miliki.

Selama Ramadhan dan menyambut Idul Fitri, di samping khusyuk dan tenggelam dalam berbagai kegiatan ibadah, hari-hari kita juga diwarnai oleh penentuan keputusan dalam membeli barang dan jasa. Dalam bulan puasa, kita menentukan anggaran untuk makanan dan minuman yang dikonsumsi ketika sahur, berbuka dan di malam hari. Untuk persiapan Idul Fitri, keputusan berlanjut untuk belanja keperluan pakaian dan asesorisnya, makanan, kue-kue, silaturahmi, dan mudik.

Puasa Ramadhan seyogyanya menjadi wahana pengendalian hawa nafsu. Kenyataan justru menunjukkan selama Ramadhan tingkat konsumsi semakin meningkat. Ramadhan menjadi puncak konsumerisme sosial. Menyambut Ramadhan 2017, Bank Indonesia diberitakan menambah uang beredar sebesar Rp 167 triliun, atau naik sebesar 14% dibandingkan tahun lalu. Uang yang beredar pada Ramadhan kali ini diperkirakan total berjumlah Rp 691 triliun, yang tertinggi dibandingkan bulan lainnya. Uang tersebut digunakan terutama untuk memenuhi tingginya transaksi dan konsumsi masyarakat (m.republika.co.id, 20/5/2017).

Pengeluaran konsumsi rumah tangga memang memberikan kontribusi terbesar bagi Produk Domestik Bruto (PDB) Nasional. Pada 2016, kontribusinya mencapai 56,5%, mengungguli Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 32,57% dan komponen-komponen lainnya sebesar 10,93% (www.bkpm.go.id, 8/6/2017). Meskipun demikian, konsumsi rumah tangga semestinya perlu didukung secara memadai oleh investasi dan ekspor untuk memperkuat fondasi dan keberlanjutan perekonomian Nasional.

Besarnya pengeluaran rumah tangga dalam bulan Ramadhan dan Idul Fitri sebenarnya lebih disebabkan karena meningkatnya pemenuhan keinginan ketimbang kebutuhan. Keinginan pada hakekatnya bersumber dari hawa nafsu yang cenderung mengejar kepuasan. Sementara kebutuhan merupakan segala sesuatu yang dipenuhi untuk memperoleh manfaat dan berkah.

Pemenuhan keinginan yang tak terkontrol akan penganan, makanan, dan minuman saat berbuka puasa, misalnya, menyebabkan terjadinya konsumsi secara berlebihan. Hal ini dapat membawa mudharat (bagi kesehatan, kondisi keuangan, dll) dan terkadang malah mubazir. Sementara makan dan minum sesuai dengan porsi merupakan kebutuhan agar kita dapat menjalankan ibadah di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Demikian pula dalam menyambut hari raya. Pertanyaannya, seberapa penting atau seberapa banyakkah kita perlu membeli pakaian, baru? Seberapa banyakkah kue-kue yang sebenarnya dibutuhkan?

Jika mengikuti ajaran Islam, mengatur pengeluaran untuk Ramadhan dan Idul Fitri sebenarnya tidaklah susah. Allah memerintahkan kita mengkonsumsi barang atau jasa yang halal dan baik, dengan wajar, dan tidak berlebihan (QS. Al-A’Raf: 31-32 dan Al-Maidah: 88). Di bulan Ramadhan kegiatan makan utama hanya dua kali sehari, di waktu sahur dan berbuka. Semestinya frekuensi yang lebih sedikit dibandingkan bulan lain ini justru dapat mengurangi pengeluaran. Nabi Muhammad SAW sendiri berbuka puasa hanya dengan beberapa butir kurma atau beberapa teguk air putih. Junjungan besar kita ini juga menganjurkan kita mengenakan pakaian terbaik yang kita miliki pada hari raya, tanpa harus membeli yang baru.

Mengatur pengeluaran
Tak mudah memang meniru apa yang dilakukan Rasulullah saw, yang memang merupakan teladan terbaik bagi manusia. Meskipun demikian, terkait dengan pengeluaran selama Ramadhan dan Idul Fitri, setidaknya perlu dilakukan sesuai kemampuan, tak berlebihan, dan memperhatikan kebutuhan finansial masa depan. Berbagai pemenuhan kebutuhan dan keinginan yang muncul selama bulan Ramadhan dan Idul Fitri menuntut pengelolaan anggaran yang terencana dan terarah.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan agar pengeluaran Ramadhan dan Idul Fitri lebih terkendali: Pertama, hitung dengan detail pemasukan dan pengeluaran rutin dan tidak rutin selama Ramadhan. Pemasukan rutin adalah gaji bulanan dan pendapatan tetap (misalnya dari kegiatan usaha) yang diterima setiap bulan. Pendapatan rutin hendaknya digunakan untuk pengeluaran rutin, seperti untuk membayar listrik, air minum, belanja bulanan, biaya sekolah anak, dan keperluan transportasi bulanan.

Pendapatan tidak rutin dapat berupa Tunjangan Hari Raya (THR) atau gaji ke-14 bagi PNS. Sebaiknya belanja kebutuhan lebaran menggunakan anggaran THR ini. Penggunaan uang tabungan atau simpanan jika diperlukan, hendaknya dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Sebisa mungkin, juga hindari sumber pemasukan dari berutang karena akan menjadi bom waktu di kemudian hari.

Kedua, susunlah rencana kegiatan beserta alokasi anggarannya. Rencana saat puasa meliputi seperti keperluan berbuka puasa dan sahur di rumah, berbuka dengan teman dan saudara di luar rumah, zakat, sedekah dan infak. Sedangkan keperluan lebaran seperti untuk kue-kue dan makanan, pakaian, silaturahmi, dan mudik. Dapat saja disediakan anggaran untuk pos keperluan khusus, misalnya untuk mengantisipasi inflasi (kenaikan harga) barang dan jasa yang terjadi diluar perkiraan, dan keperluan-keperluan darurat lainnya.

Ketiga, lakukan pengeluaran sesuai dengan perencanaan. Jangan mudah tergiur dengan promo belanja seperti diskon, padahal barang yang dibeli tidak dibutuhkan.

Puasa Ramadhan adalah perjalanan spiritual menuju titik di mana manusia bersimpuh pada kebenaran dan kebesaran Allah Swt. Marilah kita menunaikan ibadah Ramadhan dan menyambut Idul Fitri dengan mengendalikan hawa nafsu, memperkuat kepedulian sosial dan meningkatkan berbagai amal ibadah. Semoga madrasah Ramadhan mengantarkan kita menjadi insan yang takwa.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help