KONI Bina 14 Cabang

KONI Aceh bergerak cepat menghadapi pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua

KONI Bina 14 Cabang
SERAMBINEWS.COM/Jalimin
Wakil Ketua KONI Aceh, T Rayuan Sukma menyerahkan pataka catur kepada Ketua Pengprov Percasi Aceh, Aldin Nl. 

BANDA ACEH - KONI Aceh bergerak cepat menghadapi pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua. Lembaga induk olahraga Aceh memutuskan untuk membina 14 cabang olahraga (cabor) potensial.

“Dari cabang tersebut tercatat 45 atlet dan 25 pelatih. Mereka ini rata-rata atlet perebut medali emas PON 2016 di Jawa Barat (Jabar) lalu. Untuk tahap pertama, atlet bakal ikut Pelatda selama delapan bulan,” ungkap Wakil Ketua KONI Aceh bidang Pembinaan dan Prestasi (Binpres), H Bachtiar Hasan kepada Serambi kemarin.

Dari jumlah cabang itu, lanjut Ketua Harian PASI Aceh itu tercatat tarung derajat, angkatbesi, atletik, panahan, taekwondo, kempo dan tinju. Karena, pada perhelatan PON tahun lalu, cabang itu berhasil tampil sebagai penyumbang medali. Sehingga Kontingen Aceh mampu di peringkat 17 dari 34 propinsi.

Sementara tujuh cabang lain yakni pencak silat, anggar, menembak, tenis lapangan, balap sepeda, panjat tebing, dan karate gagal di arena PON. Bahkan, ketujuh cabang tersebut tidak mampu menyumbang medali bagi Serambi Mekkah. Boleh jadi, dari cabang ini, hanyalah panjat tebing dan menembah yang boleh berbangga. Karena, atletnya berhasil masuk final meski tak mampu merebut medali di PON Jabar.

“Dari hasil kajian tim Binpres KONI, cabang ini memiliki peluang merebut medali di PON 2020 di Papua. Sesuai dengan prediksi kita, atlet-atlet ini masih muda. Kalau terus kita bina dengan serius, mereka akan punya kans berprestasi,” tegasnya.

Seperti diketahui, dalam pesta empat tahun di Jabar lalu, Tanah Rencong sukses merebut delapan emas dari tarung derajat, angkat besi, kempo, terjun payung, serta panahan. Kemudian, tujuh perak dan sembilan perunggu. Namun, dari 14 cabang yang dibina tak ada cabang terjun payung dan gulat. Padahal, kedua cabang ini sukses mempersembahkan medali dalam PON.

Sebelum masuk Pelatda, tambah Sekum Persani Aceh, ke-45 atlet ini harus mengikuti tes fisik dan kesehatan. Ternyata, dari hasil dua tes tersebut, semua atlet memenuhi persyaratan untuk ikut Pelatda.

Apalagi, selama ini, mereka juga berlatih secara individu ataupun di bawah Pengprov masing-masing.

Pada sisi lain, Bachtiar mengakui, digelarnya Pelatda lebih awal merupakan langkah cepat dari KONI untuk mempersiapkan diri dalam PON 2020 di Papua. Terlebih, pihaknya mengetahui kalau persaingan dalam perhelatan nasional empat tahunan tersebut berlangsung alot, dan ketat.

Untuk itu, lanjut Wakil Ketua KONI, guna mengantisipasi penurunan prestasi, tak ada pilihan kecuali secepatnya melaksanakan Pelatda. Apalagi, dalam 45 atlet yang masuk daftar atlet binaan, mereka itu rata-rata masih berusia muda. Bahkan, mereka memiliki peluang saat usia emas di PON 2020 nanti.

Bachtiar Hasan secara tegas menyatakan, kalau pelaksanaan Pelatda tersebut menerapkan sistem promosi dan degradasi (prodeg). Karena itu, pihak KONI Aceh juga membentuk tim evaluasi serta monitoring (monev). Di mana, tim yang dipimpin Hajidin tersebut beranggota 7 orang.

“Kita akan langsung mengevaluasi mereka dalam empat bulan pertama. Bukan hanya atlet, pelatih juga kita pantau. Kalau atlet tak ada prestasi, maka sang pelatih juga kita coret dan dikeluarkan dari Pelatda. Untuk hal ini kita sama sekali tak ada kompromi,” ungkap Wakil Ketua KONI Aceh.

Untuk tahap awal, dia secara terbuka menyebutkan, mereka langsung melakukan evaluasi saat berlangsungnya babak Prakualifikasi Pekan Olahraga Aceh (Pra-PORA) 2017. Setelah itu, atlet kembali dinilai ketika mengikuti PORA 2018 di Aceh Besar. Artinya, kalau gagal di Pra-PORA maka langsung dicoret dan juga di PORA.(ran)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved