Ramadhan Mubarak

Zakat Fitrah (Zakat Fitri)

DI akhir Ramadhan, kita diwajibkan membayar zakat fitrah (zakat fitri). Zakat fitrah ialah zakat diri

Zakat Fitrah (Zakat Fitri)

Oleh Dr. Armiadi Musa, MA, Staf Pengajar Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Ar-Raniry. Email: armiadi71@yahoo.co.id

DI akhir Ramadhan, kita diwajibkan membayar zakat fitrah (zakat fitri). Zakat fitrah ialah zakat diri yang diwajibkan atas setiap individu muslim lelaki dan perempuan, kaya atau miskin, anak kecil atau orang dewasa, merdeka atau budak dengan syarat-syarat yang ditetapkan dan mulai dibayar tepatnya ketika terjadi futhur (artinya berbuka di hari terakhir dan tidak lagi diwajibkan berpuasa) sampai batasnya sebelum menunaikan shalat Id.

Dalam pensyariatan zakat fitrah, Imam Syafi’i melihat bahwa ibadah ini mengandung unsur ta’abbudi (pengabdian hamba) lebih menonjol, karena itu beliau berpendapat bahwa zakat fitrah sebesar 1 sha’ (setara dengan 4 mud atau lebih kurang 2,5 kg) mutlak harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok setempat, tanpa bisa diganti dengan uang yang senilai atau bahkan lebih. Pendapat ini diikuti oleh semua ulama pengikutnya (syafi’iyah) tanpa terkecuali.

Berbeda dengan Imam Hanafi yang memandang bukan sisi ta’abbudiyah-nya yang menonjol, namun kebutuhan dan kemaslahatan fakir-miskinlah yang diutamakan. Sehingga beliau membenarkan zakat fitrah itu dapat dibayar dengan qimah (nilai) seperti uang, yaitu harus setara dengan nilai kadar ukuran manshus berupa 1 sha’ tamar (kurma), atau 1 sha’ gandum (sya’ir).

Hikmah zakat fitrah
Di antara hikmah pensyariatan zakat fitrah menurut Syeikh Yusuf Al-Qaradhawi terdiri dari dua hal: Pertama, yang berhubungan dengan orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan. Kadangkala di dalam berpuasa orang-orang terjerumus pada omongan dan perbuatan yang tidak ada manfaatnya, padahal puasa yang sempurna itu adalah puasa lidah dan anggota tubuhnya. Tidak diizinkan bagi orang yang berpuasa, baik lidahnya, telinganya, matanya, hidungnya, tangannya maupun kakinya mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasulnya, baik ucapan maupun perbuatan.

Akan tetapi sebagai manusia, terkadang tidak bisa melepaskan dirinya dari hal-hal tersebut, sehingga datanglah kewajiban zakat fitrah di akhir Ramadhan, seperti alat untuk membersihkan kotoran puasanya, atau menambal segala yang kurang, sesungguhnya kebaikan-kebaikan itu akan menghilangkan segala yang kotor.

Sebagaimana halnya shalat sunat Rawatib, sebelum atau sesudah shalat fardhu lima waktu, untuk menambal yang terjadi pada shalat, baik yang terlupakan atau yang kurang, maka begitulah zakat fitrah. Sebahagian ulama menyerupakan zakat fitrah itu dengan sujud sahwi. Waki’ bin Jarrah berkata, “Manfaat zakat Fitrah untuk puasa seperti manfaat sujud sahwi untuk shalat. Kalau sujud sahwi melengkapi kekurangan dalam shalat, begitu juga zakat fitrah melengkapi kekurangan yang terjadi ketika puasa.”

Kedua, Yang berhubungan dengan masyarakat, menumbuhkan rasa kecintaan orang-orang miskin dan orang-orang yang membutuhkannya. Hari raya adalah hari gembira dan bersuka cita tahunan, karenanya kegembiraan itu harus ditebarkan pada seluruh anggota masyarakat Muslim, terutama kaum fakir miskin.

Maka tetaplah dengan hikmah syariat, mewajibkan sesuatu bagi pemenuhan kebutuhan orang itu dan pencegahannya dari meminta-minta. Dengan demikian si miskin akan merasa pula bahwa masyarakat tidak membiarkan urusannya, tidak melupakannya pada hari yang berbahagia dan agung itu. Rasulullah saw bersabda, “Cukupkanlah mereka pada hari itu.” (HR. Baihaqi dan Daruquthni)

Dari hikmah pensyariatan zakat fitrah ini juga dapat ditetapkan tentang sedikitnya ukuran atau kadar yang wajib dikeluarkan, tanpa ada perbedaan antara muzakki miskin, kaya, dewasa, bayi, budak dan orang merdeka, per jiwa mengeluarkan dengan mudah dari makanan pokoknya, sehingga bisa diharapkan semua orang dapat melakukan ibadah yang mulia ini, pada hari Idul Fitri.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved