Ramadhan Mubarak

Menjadi Pecandu Ibadah

CUKUP sering kita mendengar para mubalig membuka ceramahnya dengan kalimat, “Kita bersyukur kepada Allah

Menjadi Pecandu Ibadah
Dr. Rer. Nat. Ilham Maulana 

Oleh Dr. Rer. Nat. Ilham Maulana Wakil Dekan III FMIPA Unsyiah.Email: ilham.maulana@unsyiah.ac.id

CUKUP sering kita mendengar para mubalig membuka ceramahnya dengan kalimat, “Kita bersyukur kepada Allah atas nikmat Islam dan nikmat iman....” Kalimat itu menggambarkan bahwa betapa Islam dan iman itu dipenuhi kenikmatan dan kesenangan. Namun kemudian kita dihadapkan pada fakta bahwa masih tak banyak orang yang benar-benar hidup secara Islam atau layaknya orang beriman. Jika begitu faktanya, maka pada akhirnya kita akan dihadapkan pada pertanyaan, benarkah Islam dan iman itu mengandung kenikmatan?

Allah Swt berfirman, “...Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran...” (QS. Al-Baqarah: 185). Ayat ini merupakan penegasan Allah Swt bahwa semua aturan dan kewajiban dalam bentuk rutinitas peribadatan sesungguhnya untuk memudahkan, bukan justru menyusahkan. Jadi, kemudahan tentu saja lebih terafiliasi dengan kenikmatan dibandingkan dengan keterpaksaan.

Namun begitu, harus diakui bahwa sebagian dari orang-orang yang beribadah dan mempraktikkan syariat, masih berada dalam taraf terpaksa atau memaksakan diri melakukannya, demi sekedar memenuhi kewajiban. Tak heran, jika kemudian mereka ini merasa dibebani oleh rutinitas ini dan tidak sampai pada tahap menikmati peribadatan. Kelompok orang lainnya adalah mereka yang merasa bahwa ibadah itu sudah sebagai kebutuhan. Meskipun mereka juga belum mampu menikmati rutinitas peribadatan, namun tubuh mereka mulai “menderita” ketika satu atau dua kegiatan ibadah tidak dilakukan. Satu contoh konkretnya adalah ketika tubuh terasa tidak nyaman, hanya karena salah satu shalat fardhu lupa terlaksanakan. Lagi-lagi, meski sudah dalam taraf kebutuhan, orang-orang ini juga belum benar-benar bisa menikmati ibadahnya.

Mereka yang berhasil menikmati setiap kegiatan ubudiyah-nya akan terlihat dengan jelas dari cara dan lamanya waktu yang dihabiskan untuk melaksanakan ibadah. Selain itu, efek yang ditimbulkan oleh ibadah itu juga akan terlihat dalam karakter kesehariannya. Rasulullah saw merupakan salah satu sosok yang sangat agung karakternya dan sangat menikmati ibadahnya.

Gambaran tentang ibadahnya Nabi Muhammad saw digambarkan dalam hadis yang diriwayatkan dari al-Mughirah bin Syu’bah ra bahwa Rasulullah saw melakukan shalat hingga kedua telapak kaki beliau membengkak, lalu ada yang berkata kepada beliau, “Apakah engkau memaksakan diri untuk ini, padahal Allah Swt telah memberikan ampunan bagimu atas dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Apakah tidak boleh jika aku termasuk hamba yang bersyukur?”

Lamanya waktu yang dihabiskan oleh Rasulullah, terutama untuk menikmati shalat-shalat malamnya, tergambarkan dalam banyak hadis. Bahkan dalam satu riwayat diceritakan bahwa seorang sahabat Nabi saw bernama Hudzaifah bin Al-Yaman pernah berimam kepada Rasulullah saw saat shalat malam. Dalam rakaat pertama, setelah membaca Alfatihah, Rasulullah membaca surah Albaqarah. Hudzaifah menyangka Nabi saw akan rukuk setelah membaca seratus ayat surat itu, namun ternyata Nabi saw menghabiskan surat terpanjang dalam Alquran tersebut dalam satu rakaat. Dalam riwayat lain bahkan diceritakan bahwa Rasulullah saw membaca tiga surat panjang, yaitu surat Albaqarah, Ali Imran, dan Annisa, dalam satu rakaat.

Kenikmatan beribadah
Tentu saja amalan shalat malam seperti Rasulullah saw ini tidak akan mampu kita laksanakan, jika kita belum sampai pada taraf menikmati setiap prosesi peribadatan. Namun, begitu kita sampai pada taraf itu, maka rutinitas ubudiyah sama sekali tidak akan terasa berat lagi. Kenikmatan yang diberikan oleh seluruh tahapan ibadah kemudian akan menuntun kita untuk melakukannya lagi dan lagi. Pada akhirnya, kenikmatan demi kenikmatan itu akan menghanyutkan kita ke dalam kecanduan untuk berlama-lama dengan Allah dalam setiap pertemuan.

Selain Rasulullah saw, satu contoh hamba yang terkenal dengan kecanduannya pada ibadah adalah Rabiah Al-Adawiyah. Ia adalah seorang sufi perempuan yang hidup di Basrah, Irak, sekitar tahun 90-an Hijriah. Lantunan-lantunan syair yang diungkapkan oleh Rabiah mengekspresikan kecanduannya kepada pertemuan dengan Allah Swt.

“Aku mengabdi kepada Tuhan, bukan karena takut neraka, bukan pula karena mengharap masuk surga, tetapi aku mengabdi karena cintaku pada-Nya. Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya. Tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku.”

Syair milik Rabiah di atas sangat jelas menggambarkan bahwa betapa ia sangat menikmati seluruh rutinitas ibadahnya, bahkan baginya, surga dan neraka bukanlah alasannya untuk berubudiyah kepada Allah Swt. Secara tidak langsung, semangat ini menumbuhkan karakter zuhud, yaitu karakter tidak tergoda dengan gemerlap pesona dunia.

Karakter inilah yang membedakan para nabi dan para aulia dengan hamba biasa seperti kita. Kezuhudan inilah yang membuat mereka sangat mudah mengorbankan apa saja demi semakin dekat kepada Allah Swt. Sejarah mencatat bahwa Rasulullah saw tidak tergoda dengan bujukan para pemuka Quraisy yang menjanjikannya harta benda, takhta, dan perempuan, demi tetap berdakwah dan menyebarkan Islam. Kezuhudan ini juga diwarisi kepada para sahabat beliau kemudian.

Sayangnya, warisan itu tidak banyak bersisa di zaman sekarang, sehingga kita cenderung sangat tamak dengan dunia, dan bahkan mau mengorbankan apa saja demi harta, takhta, atau wanita. Padahal, kezuhudan inilah yang insya Allah membuat kita hidup dengan tenang, bukan hanya di akhirat, namun juga di dunia. Dan, kunci menuju kezuhudan ini adalah menikmati dan mencandui pertemuan dengan Yang Maha Penyayang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved